Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Minggu, Juni 09, 2024

 Surat Terbuka Kepada PBNU: Konsesi Tambang Batubara

Surat Terbuka Kepada PBNU: Konsesi Tambang Batubara



Penulis: K. A. Dardiri Zubairi

Sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mengizinkan ormas keagamaan mengelola industri tambang, di media sosial disuguhi info berbeda. Muhammadiyah akan mengkaji secara seksama apakah menerima atau menolak, PBNU menerima bahkan menurut berita PBNU sudah mengurus ijin.

Duh Gusti. Tadinya saya tahan untuk tidak merespon isu ini. Saya belajar untuk menahan diri mengomentari kebijakan PBNU.  Paling banter Saya hanya rasan-rasanan dengan teman pengurus Cabang, MWC, atau Ranting. Kali ini saya gagal menahan diri. Saya perlu bersuara. Soal apakah suara saya didengar atau tidak, itu soal lain. Setidaknya posisi saya jelas, saya tidak nyaman dengan sikap dan keinginan PBNU untuk mengelola tambang.

Data dan bukti bahwa industri ekstraktif atau pertambangan memiliki daya rusak tinggi tak bisa dibantah. Mulai sejak kerusakan lingkungan alam, eskalasi konflik sosial yang menyertainya, makin sempitnya ruang hidup para petani, nelayan, dan masyarakat adat hingga tekanan aparat keamanan terhadap rakyat yang mencoba mempertahankan ruang hidupnya menjadi berita setiap hari. 

Saya sedih sekali ketika melihat masyarakat Wadas beberapa tahun lalu, untuk sekedar memberi contoh, menghadapi aparat keamanan yang merangsek ke desa mereka. Warga desa yang umumnya Nahdliyyin menangis, menjerit, ketakutan, tapi juga tak mau kehilangan ruang hidupnya. Lalu dimana posisi PBNU kala itu? 

Belum lagi warga Nahdliyyin atau rakyat kecil di belahan Nusantara ini, nasibnya gak jelas akibat industri pertambangan ini. Nyaris setiap hari ada berita konflik sosial antara warga yang mempertahankan ruang hidupnya dengan korporasi yang diback up negara. Apakah fakta ini kita anggap sebagai sesuatu yang wajar saja?

Terus terang, sebelumnya saya sangat senang sekali membaca keputusan Bahsul Masail yang banyak membahas soal lingkungan dan kerusakan alam akibat industri atau alih fungsi lahan untuk industri . Hasil Bahsul Masail sangat tegas soal ini. 

Dalam Muktamar NU di Lampung pada tahun 2021 yang berhasil mengantarkan Gus Yahya sebagai ketua PBNU, salah satu rekomendasi Muktamar juga berkaitan dengan lingkungan. Poin-poinnya sebagai berikut:

1/mendesak pemerintah harus tegas dalam pengurangan pembabatan jumlah dan luas hutan.

2/Pemerintah perlu fokus dan sercara serius mengambil langkah-angkah mengurangi deforestasi menjadi nol hektar pada tahun 2023

3/Proporsi Energi Baru Terbarukan (EBT) minimal 30 persen pada 2025, serta net zero emisi (emisi nol bersih) pada 2045.

4/Mendesak pemerintah untuk menghentikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga UAP (PLTU) Batubara dan pengurangan produksi batubara mulai 2022, serta menyetop (early retirement/phase out) PLTU Batubara pada 2040 untuk mempercepat proses transisi energi yang berkeadilan, demokratis, dan terjangkau

Respon NU terhadap isu lingkungan setidaknya menjadi penegas bahwa NU tidak abai terhadap persoalan ini. Bagaimana pun organisasi sebesar NU seharusnya memang menjadi ormas terdepan dalam menyikapi isu lingkungan, bukan saja karena kewajiban agama memelihara bumi sebagai wujud dari tanggung jawab sebagai Khalifah fil ardhi, tapi dampak dari kerusakan lingkungan berhubungan langsung dengan warga Nahdliyyin dan rakyat kecil di akar rumput.

Ahmad Nasikh Lutfi, Bosman Batubara, dan saya menulis "Ukhuwah Kauniyah, dan Sosio Alam: Menuju Pluralitas Epistemologi di Era Capitalosen" dalam buku "Bunga Rampai Fikih Peradaban dan Isu-isu Global". Poin tulisan tersebut sebagai berikut:

1/Perlu memasukkan ukhuwah Kauniyah dalam trilogi ukhuwah; Ukhuwah Islamiyyah, ukhuwah Wathaniyah, Ukhuwah Basyariah, dan satu lagi Ukhuwah Kauniyah (persaudaraan kosmik)

2/Ukhuwah Kauniyah (Persaudaraan Kosmik) mengandaikan adanya saling  ketergantungan antara manusia dan makhluk non-manusia. Dalam Al-Qur'an alam dan segenap makhluk bertasbih kepada Allah (QS. an-Nur (24: 41), alam adalah tajalli atau pengejawantahan Allah (QS. al-A'raf (7) 143). Dalam konteks ayat ini menjadi jelas bahwa alam (non manusia) bukan sekedar obyek eksploitasi, tapi ada dimensi spiritual di dalamnya.

3/ Epistemologi sains modern dalam memahami krisis lingkungan akibat frontier kapitalisme yang telah merangsek ke desa-desa menjadi amat penting di dunia pesantren. Perlu diperkenalkan epistemologi yang saling merangkul antara epistemologi pesantren dan sains modern dalam memahami krisis lingkungan ini.

Saya memaklumi dengan total jumlah anggota NU yang mencapai kurang lebih 100 juta dengan jumlah lembaga sosial dan pendidikan yang tak terhitung, di samping jumlah pesantren yang menopangnya, secara finansial sangat berat bagi NU. Dengan mengelola tambang PBNU meniati, seperti pernyataan Gus Yahya, untuk membiayai kegiatan keagamaan dan sosial.  Tapi, apakah fund rising harus menoleh pada industri tambang yang jelas-jelas merusak? Tak ada strategi lain yang lebih elegan?

Perlu PBNU ketahui, dampak tambang itu tidak main-main. Sebaiknya PBNU turun secara langsung melihat dampak tambang secara sosial-ekologis dan berdialog dengan warga yang secara langsung memperoleh dampaknya. 

Pengasuh pesantren di Sumenep hingga sekarang khawatir terhadap rencana penambangan fosfat yang dilegitimasi dalam Peraturan Daerah. Ada 18 kecamatan yang rencananya menjadi kawasan tambang fosfat. Para kiai sepakat menolaknya. Salah satu kekhawatiran para kiai, karena tambang fosfat yang berada di kawasan batu karst bisa mengancam krisis air. Setiap tahun nyaris selalu ada desa yang krisis air. Pada tahun 2023 ada 49 desa di 16 kecamatan yang mengalami darurat bencana kekeringan. Apalagi jika rencana besar-besaran tambang fosfat terjadi?

Terus terang keinginan kuat PBNU masuk dalam industri tambang mengangetkan saya. Diakui atau tidak, rencana PBNU mengelola tambang telah memangkas dan melemahkan pergerakan kiai (dalam kasus Sumenep) dan rakyat yang memperoleh dampak langsung dari daya rusak tambang terhadap sosial-ekologis. 

Terakhir, sebaiknya PBNU mengkaji ulang keinginannya untuk mengelola tambang. Musyawarahkan dan kaji dulu dengan melibatkan banyak pihak yang tahu persis dampaknya. 

Salam

A. Dardiri Zubairi (Pengasuh Pondok Pesantren Nasy'atul Muta'allimin Gapura Sumenep dan Wakil Ketua Tanfidziah PCNU Sumenep)


*Tulisan ini sebelumnya ditulis di facebook A. Dardiri Zubairi

Read More
 Odong-odong dan Pelanggaran LLAJ: Sebuah Kekonyolan yang Membahayakan Orang Lain

Odong-odong dan Pelanggaran LLAJ: Sebuah Kekonyolan yang Membahayakan Orang Lain




Penulis: Zubairi

Malam itu, saya diajak tetangga ke minimarket untuk membeli sesuatu. Jalanan di depan minimarket tersebut merupakan jalan raya. 

Singkat kisah, sesampainya di minimarket dan setelah saya keluar dari tempat belanja tadi, saya melihat odong-odong sedang mengangkut ibu-ibu. Beberapa penumpang itu menggendong anak kecilnya. 

Dari situ, saya melihat sebuah kesalahan. Hey, kau tanya salahnya apa dan di mana? 

Begini. Odong-odong itu dilarang beroperasi di jalan raya. Hal itu ditegaskan dalam undang-undang nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) serta peraturan pemerintah nomor 55 Tahun 2012 tentang kendaraan.

Sudah di jalan raya, pada saat suasana jalanan sedang ramai pula, lha kok nekat beroperasi di sana. Ah, betapa menyebalkannya sopir odong-odong yang seperti itu. Misalnya, beroperasi di waktu yang nggak ramai sekalipun, tetap saja jalan raya bukanlah tempatnya. Jalan raya bukanlah tempat wisata. Pun, odong-odong bukan angkutan umum. 

Selain itu, sopir odong-odong tadi menyulut rokok saat sedang menyetir. 

Dan, dalam undang-undang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) nomor 22 Tahun 2009 pasal 106 Ayat 1, merokok di jalan raya ya dilarang. 

Bayangkan, membeli odong-odong nekat beroperasi di jalan raya, sudah melanggar aturan LLAJ, lha sopirnya sebab merokok juga termasuk melanggar LLAJ. Dua aturan penting dibabat dalam tempo yang bersamaan. Berani. Tapi, sebuah keberanian yang tak layak ditiru. 

Kejengkelan tak berhenti di situ. 

Pada saat menyulut rokoknya dia kan menundukkan kepalanya, fokus membakar rokoknya. Di situlah ia hampir menghantam mobil yang diparkir di depan minimarket. 

Seketika itu pula ibu-ibu yang menggendong anaknya berteriak, beruntung sopir odong-odong tersebut reflek ngerem mendadak, remnya tidak blong, sehingga tak ada kejadian yang berarti. Tapi, tetap saja itu konyol. 

Serius. Odong-odong kok beroperasi di jalan raya, sopirnya menyalakan rokok saat berkendara. Apanya yang spesial, anying?

Ngerem mendadak bisa membahayakan penumpang, apalagi sedang menggendong anak kecil, di atas odong-odong pula. Belum lagi jika sampai terjadi tabrakan akibat rem-nya blong. Adanya korban dan kerugian besar adalah sebuah keniscayaan. Lebih dari itu, terjadinya kemacetan jelas makin besar. 

Lagian ya, merokok saat berkendara kan asap dan debu rokoknya membahayakan. Baik bagi penumpangnya maupun bagi pengendara lain di belakangnya. 

Sudah mengganggu ketertiban lalu lintas, ditambah sopir yang nggak peka terhadap (antisipasi) keselamatan bersama, maunya apa, anying?

Read More

Minggu, Mei 26, 2024

Ada Banyak Fitnah, Tetap Berpegang Teguh Pada Nahdlatul Ulama

Ada Banyak Fitnah, Tetap Berpegang Teguh Pada Nahdlatul Ulama


Penulis: Chalili

Islam adalah agama paling banyak pengikutnya khususnya di Indonesia dengan populasi terbanyak sedunia. Dan ini bukanlah hal yang baru kita dengar. 

Secara bahasa islam itu damai atau selamat. Dalam artian agama islam adalah agama yang damai dan mengajarkan perdamaian, tegas, tidak keras juga tidak lembek

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan salah satu tujuaanya adalah untuk membentengi aqidah umat islam agar tidak menyimpang dari ajaran islam yang sebenarnya. Tentu saja mengajarkan perdamaian dan persatuan. Dan diakui atau tidak, Nahdlatul Ulama seringkali menjadi pelopor perdamaian dunia.

Meski demikian, organisasi sosial keagamaan ini juga berpihak pada masyarakat akar rumput. Bahkan basisinya lebih banyak di masyarakat akar rumput.

Oleh sebabnya begitu penting keberadaan NU ditengah-tengah masyarakat untuk merespon setiap fenomena-fenomena yang terus berlangsung baik itu fenomena umat Islam di Indonesia maupun dunia Islam secara umum. 

Dalam hal ini sesuai dengan apa yang dikutip oleh muassis NU sendiri yaitu KH Hasyim Asy'ari dalam kitabnya Risalah Ahlis-Sunnah wal Jama'ah yang berupa hadis Nabi Muhammad Saw : 

اذا ظهرت الفتن اوالبدع وسب اصحابى فليظهر العالم علمه فمن لم يفعل ذالك فعليه لعنة الله والملاءكة والناس اجمعين. 

"Jika Fitnah-fitnah atau bid'ah-bid'ah telah tampak dan sahabat-sahabatku dicaci-maki, maka hendaknya orang berilmu menampilkan ilmunya. Maka barangsiapa tidak berbuat begitu, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan semua orang".

Nampaknya dari kutipan hadis diatas, salah satu tujuan didirikannya NU adalah untuk memberantas bid'ah-bid'ah dan aliran-aliran baru yang pada saat itu mulai masuk ke wilayah Nusantara yang sampai sekarang masih terus eksis di sebagian pelosok-pelosok nusantara. 

Benar bahwa apa yang disabdakan Nabi Muhammad Saw diatas kurang lebih seribu empat ratus tahun silam sudah terbukti sekarang,fitnah bertebaran dimana-mana, kebenaran dan keburukan menjadi campur aduk dan menjadikan masyarakat awam semakin dikaburkan.

Dalam Hadis lain Nabi juga memprediksi terkait perkembangan umat kedepannya, yaitu :

خير القرون قرنى ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم 

"Umat terbaik adalah umat yang hidup dimasaku kemudian umat setelahku dan kemudian umat setelahku" 

Keberadaan umat pada masa Nabi sangatlah jauh berbeda dengan keberadaan umat pada masa setelahnya lebih-lebih umat yang hidup di zaman akhir seperti sekarang ini. Sebab para sahabat Nabi menyaksikan turunnya Al-Quran dan mendengarkan hadis langsung dari Nabi Muhammad Saw sedangkan umat setelahnya melalui periwayatan-periwayatan yang diakui keabsahannya,dan umat setelahnya hanya tinggal mengkonsumsi apa yang sudah dirumuskan oleh para ulama. 

Nabi Muhammad Saw jauh-jauh hari sebelumnya juga bersabda :

عليكم بسنتي وسنة خلفاءالراشدين من بعدي

"Berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah-sunnah penggantiku yang mendapatkan petunjuk yang hidup setelahku".

Dalam hal ini sunnah berarti tradisi, baik ucapan maupun tindakan Nabi dan para sahabatnya yang hidup setelahnya yang kemudian dilanjutkan oleh para ulama shalih. Sebab ulama adalah pewaris Nabi. 

Maka, sudah saatnya sekarang umat kembali menjaga marwah para ulama beserta tradisinya yang terus mengalir dari pendahulunya yang sampai pada Nabi Muhammad Saw, mencintai dzurriyah-dzurriyah Nabi tanpa pandang bulu, dan tidak terpengaruh pada berita-berita yang mencoba mengadu domba sesama ulamak apalagi kepada Dzurriyah Nabi, sebab NU tidak mengajarkan hal-hal yang yang menyebabkan perpecahan antar umat.

Read More

Rabu, Mei 22, 2024

Apa Orang Desa Tidak Berhak Naik Pesawat?

Apa Orang Desa Tidak Berhak Naik Pesawat?

 


Penulis: Syahri

Konon, banyak orang mengatakan, bahwa naik pesawat itu hanya untuk orang-orang yang berduit. Dan hanya untuk orang-orang tertentu yang punya pekerjaan dan gaji tetap. Sebutlah pejabat.

Di kampung tempat saya tinggal, pesawat hanya bisa dinaiki oleh orang yang hendak mau berangkat haji. Itu pun hanya sekali seumur hidup. Kecuali mereka yang memang bekerja di luar negeri.

Betul, pesawat memang untuk orang-orang elit. Tidak sembarang orang bisa naik pesawat. Baik pesawat penerbangan domestik maupun internasional.

Tiketnya mahal dan prosesnya nyaris ribet. Tentu ribet bagi orang yang tidak biasa. Bisa kenak calo tiket.

Untungnya, sekarang bisa pesan tiket online. Check in online juga. Jadi semua sudah serba mudah. Tapi kemudahan itu berbanding lurus dengan harga tiket yang semakin mahal dan mencekik.

Saya punya pengalaman naik pesawat 2 kali. Semu gratis. Full funded (dibiayai penuh oleh orang) baik itu penyelanggara acara ataupun dermawan. 

Dalam benak saya dulu, saya mustahil bisa naik pesawat. Seolah-olah diri ini mengatakan "Kamu orang desa miskin nggak mungkin bisa naik pesawat, mentok hanya bisa melihat pesawat di atas rumah dan teriak-teriak minta duit".

Pengalaman pertama naik pesawat, saya tidak begitu ingat proses dan prosedurnya. Karena saya didampingi dosen waktu itu yang memang membiayai saya. Jadi ikut saja.

Wajar, anak semester 1 tiba-tiba diajak dosen naik pesawat dari Surabaya ke Jakarta, semua biaya ditanggung dari pemesanan sampai check-in PP. Saya tinggal naik dan turun doang.

Namun, pesawat yang kedua ini berbeda. Pesan tiket sendiri, check in sendiri dan berangkat sendiri. Tapi semua biaya tetap full funded.

Dari proses pemesanan hingga check in online saya proses sendiri. Karena semua serba online dan bisa dipelajari lewat internet.

Tapi proses pemberangkatan ke Bandara pasti ada gugup-gugupnya. Deg degan. Namanya juga sendiri pengalaman juga baru sekali, itu pun didampingi. 

Saya mencoba untuk tenang di Bandara Juanda. Penerbangan kali ini dari Surabaya menuju Bali. Pakek maskapai "Citilink" kelas ekonomi. Kelasnya orang-orang yang dapat gratisan.

Karena penerbangan masih lama sekitar 2 jaman. Saya coba cari makanan-makanan ringan dulu di sekitar pinggiran Juanda itu. Nyaris tidak ada. Saya jalan kaki dari ujung ke ujung tetap nggak ada. Muter-muter juga nggak ada.

Terpaksa beli makanan di resto Bandara. Saya udah tahu, kalau resto di Bandara itu memang mahal banget dan banget. Tapi saya tidak mungkin membiarkan perut ini terus mendemo kelaparan. 

Mahalnya bukan main memang enam kali lipatnya harga warung penyetan. Tapi saya yang tak punya gaji dan pekerjaan tetap punya pengalaman dan keberanian membelinya.

Penerbangan tinggal 1 jam saya menuju lantai 2. Cek boarding pass, cek barang dll sudah dilalui semua dengan aman dan nyaman.

Sebenarnya, naik pesawat itu mudah. Gugup biasa. Tapi kita nggak boleh menampakan kegugupan itu di depan banyak orang.

Harus berusaha santai, rileks dan seolah-olah sudah berkali-kali naik pesawat. Usahakan nyari informasi itu ke petugas saja. Jangan ke sesama penumpang. 

Saya sering bertanya, Misal, "Pemberangkatan pesawat dari Juanda ke Ngurah Rai Bali yang mana ya pak". Ditunjukin aja.

Harus berani bertanya. Apapun yang tidak paham harus ditanyakan supaya paham. Sebab tidak mungkin ada petugas bandara itu bikin sesat.

Saat keberangkatan dan pesawat mulai take off jiwa ini tiba-tiba meronta-ronta "Eh kamu miskin, banyak utang, banyak cicilan, ngapain naik pesawat".

"Nek wes ditakdirno naik pesawat karo Gusti Allah, mau kamu deso, miskin, kere, banyak utang, banyak cicilan, musti ketekan. Wes percoyo wae karo Gusti Allah"

Read More

Rabu, Mei 15, 2024

NU dalam Membendung Radikalisme

NU dalam Membendung Radikalisme

Ilustrasi @nu


 Penulis: Siswanto

Berbicara mengenai radikalisme tentunya tidak lepas dari unsur kekerasan. Karena radikalisme sendiri berasal dari kata radikal dan isme. Sedangkan radikal sendiri adalah akar dan isme adalah paham. Maka, pengertian radikalisme pada awalnya merupakan paham yang sampai ke akar-akarnya.

Sedangkan radikalisme dalam Islam dipahami sebagai paham yang dianut oleh kelompok Islam yang mendasarkan pada akar ajaran Islam. Pengertian ini adalah pengertian yang positif di mana radikalisme Islam berorientasi pada ajaran Islam.

Dalam perkembangannya, seiring dengan maraknya aksi kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah kelompok Islam di dunia Islam, maka radikalisme sering dipahami sebagai paham yang dianut oleh kelompok-kelompok Islam yang diperjuangkan dengan cara-cara kekerasan dan pemaksaan.

Selain itu juga, mereka biasanya menolak sistem sosial dan politik yang berlaku di masyarakat dan negara yang dianggap tidak berasal dari Islam yang mereka pahami. Pada tahap selanjutnya, mereka berusaha mengubah sistem sosial dan politik itu ke sistem yang mereka anut. Cara-cara mengubah sistem itu biasanya dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Kelompok-kelompok radikal tidak segan-segan melakukan kekerasan demi menuntaskan pejuangannya.

Apa yang menyebabkan mereka radikal

Perlu kita ketahui, kenapa mereka melakukan militansi perjuangan Islam dengan cara-cara kekerasan? Dalam hal ini, merujuk dari buku membentengi sekolahn dari radikalisme yang diterbitkan oleh Kemenag setidaknya ada tiga penyebab radikalisme Islam.

Pertama, mereka melakukan aksi radikalisme dikarenakan adanya pemahaman bahwa untuk mengubah masyarakat sampai ke akar-akarnya menjadi kebih Islami seperti yang mereka pahami harus dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Mereka percaya bahwa mandat Alquran untuk ‘amar ma’ruf nahi munkar’ harus diterapkan secara harfiah, ketat, tanpa syarat atau pengecualian. Dengan merejuk dari konsep ini, mereka berpandangan bahwa seluruh kemaksiatan harus diubah oleh umat Islam dengan fisik, tidak hanya diserahkan kepada penguasa.

Dengan begitu, melalui pemahaman inilah mereka melakukan aksi kekerasan untuk mengubah kemaksiatan. Bagi mereka, penghancuran tempat-tempat maksiat adalah bagian dari upaya untuk mengubah kemungkaran yang telah diajarkan oleh ajaran Islam.

Kedua, aksi kekerasan yang dilakukan kelompok Islam didasarkan akan adanya anggapan dan penilaian sepihak bahwa kondisi umat Islam sekarang telah menjadi sekuler, tidak mempraktekkan ajaran Islam yang murni, amoral, dan penguasa yang thaghut. Dalam pandangan mereka kondisi ini diperparah dengan tidak terpeliharanya akhlak Islam sehingga perbuatan tercela semakin marak. Penyakit moral sudah semakin merajalela di masyarakat. Akibatnya mereka ingin kembali ke ajaran Islam yang paling mendasar dengan cara dan keyakinan yang dipahaminya.

Oleh karena itu, menurut mereka, semua ini harus diubah dengan cara-cara kekerasan, bukan lagi dengan cara-cara moderat yang cenderung lemah dan tidak berdaya.

Ketiga, aksi radikalisme dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam sebagai reaksi dari kebijakan politik barat yang cenderung meminggirkan dan menghancurkan dunia Islam. Mereka juga memiliki hubungan solidaritas yang kuat terhadap perjuangan dunia Islam, seperti Palestina. Itu sebabnya, fasilitas-fasilitas barat, seringkali menjadi sasaran empuk dari aksi radikalisme.

Oleh karena itu, pemberantasan dan pencegahan radikalisme adalah tantangan yang kompleks dan memerlukan pendekatan multidimensi. NU sebagai lembaga sosial kemasyarakat terbesar di dunia memiliki peran penting dalam membendung gerakan radikalisme. Melalui instansi pendidikannya NU memiliki langkah-langkah strategis antara lain yaitu;

Pertama, melakukan pendidikan yang berbasis nilai-nilai moderat untuk memastikan bahwa kurikulum dan pendekatan pendidikannya mendorong nilai-nilai toleransi, moderat, dan menghormati keberagaman.

Kedua, mengadakan pelatihan guru dan dosen artinya adalah melatih para guru dan dosen untuk mengenali tanda-tanda radikalisme serta memberikan mereka alat untuk menghadapinya bisa menjadi langkah penting. Mereka dapat menjadi agen perubahan yang efektif dengan mendidik dan membimbing para siswa untuk mengembangkan pandangan yang inklusif dan rasional.

Ketiga, mengadakan ruang dialog dan diskusi terbuka untuk semua instansi dan lembaga, seperthalnya mengadakan forum diskusi, seminar, dan lokakarya yang mendorong berbagai pandangan bisa membantu mencegah penyatuan pemikiran di dalam kelompok-kelompok yang mungkin rentan terhadap radikalisme.

Dengan demikian, dari pelbagai cara yang dicanangkan oleh NU yang perlu diingat dan dicatat bahwa pencegahan radikalisme adalah tanggung jawab bersama dan memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, pemerintah, agama, dan masyarakat sipil. Adapun tujuannya tidak lain adalah agar paham radikalisme tidak merajarela dan keberadaannya bisa diredam dengan adanya kerjasama antar-lintas agama dan instansi.

Siswanto (Dosen Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) Pati. Prodi Pengembangan Masyarakat Islam)

Read More

Selasa, Mei 14, 2024

Mengenal Konsep Ikhlas dan Khusyuk

Mengenal Konsep Ikhlas dan Khusyuk

Ilustrasi @nuonline

Penulis: Chalili

Beribadah adalah kewajiban seorang hamba kepada Tuhannya, Allah swt. Tuhan semesta alam sebagaimana dalam firmannya :

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

"Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku"  

Dalam beribadah seorang hamba tentu tidak boleh serampangan atau sembrono. Semua ada ilmunya serta syarat dan rukunnya harus terpenuhi untuk bisa dikatakan sah dan kewajibannya dianggap gugur. 

Sah dan tidak sahnya ibadah dilihat dari kacamata fikih. Ada sisi lain yang harus diperhatikan, yaitu diterima atau tidaknya sebuah ibadah di sisi Allah swt. Hal demikian erat kaitannya dengan ikhlas dan khusyuk .Sebab ikhlas dan khusyuk merupakan syarat yang mendekati diterimanya sebuah amal ibadah. 

Ikhlas dan khusyuk adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ikhlas tanpa khusyuk tampak kurang beradab dalam beribadah. Sedangkan khusyuk tanpa ikhlas akan tampak pamer atau riya'. Yang dalam hal ini ulama memberi pengertian berbeda perihal khusyuk dan ikhlas.

Pengertian paling mendasar tentang ikhlas adalah memurnikan amal hanya karena Allah swt. bukan untuk selainnya, sedangkan Khusyuk adalah merenungi sambil lalu memikirkan apa yang diamalkan atau yang dibaca. 

Berikut beberapa komentar ulama terkait ikhlas dan khusyu'. 

Imam Amin al Khurdi al Irbaly didalam kitab Tanwinrul Qulub berpendapat tentang ikhlas:

والا خلاص عمل قلبي لا يطلع عليه غير الله تعالى وهو ان تعبد الله تعالى بكليتك ولا تشرك فيها غيره. قال الله(ولا تشرك بعبادة ربه احدا) الكهف : ١١٠ 

"Ikhlas adalah pekerjaan hati yang tidak bisa diketahui oleh selain Allah swt. Dan ikhlas adalah kamu beribadah kepada Allah swt. dengan keseluruhanmu dan kamu tidak menyekutukan Allah swt. Allah swt. berfirman "Dan janganlah mempersekutukan seorangpun  ketika beribadah kepada Tuhannya."

Selanjutnya di dalam kitab yang sama, Imam Amin al Qurdi al Irbaly mengutip sabda Nabi Muhammad Saw yang bertanya kepada Allah swt.:

عن النبي صلى الله وسلم انه قال : سالت الله عز وجل عن الا خلاص قال هو سر من اسرارى اودعته قلب من احببته من عبدى. رواه ابو القاسم القشيرى في الرسالة بسند ضعيف. 

"Dari Nabi Muhammad Saw, bahwasanya beliau pernah bertanya kepada Allah swt. Azza wa Jalla tentang ikhlas. Allah menjawab "Ikhlas adalah rahasiaku yang aku titipkan kepada hati hambaku yang saya cintai". Diriwayatkan oleh Abu al Qosim al Qusyairi didalam risalahnya dengan sanad yang dho'if. 

Khusyuk sebagaimana yang tertera didalam kitab I'anah al Tholibin karangan Sayyid Abu Bakar Muhammad Syatho ad Dimyati ulama yang mempunyai pandangan berbeda tapi dengan tujuan yang sama:

اختلفت اراء العلماء فيه فذهب بعضهم الى انه غض البصر وخفض الصوت ومحله القلب. وعن علي ان لا يلتفت يمينا وشمالا. وعن ابن جبير ان لا يعرف من على يمينه ولا من على يساره. وعن عمرو بن دينار هو السكون وحسن الهيءة. 

"Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan khusyuk, sebagian ulama berkata bahwa "khusyuk adalah mengalihkan pandangan dan melirihkan suara dan tempatnya di dalam hati". Diriwayatkan dari Sayyidina Ali "ikhlas adalah tidak menoleh ke kanan dan ke kiri". Diriwayatkan dari Ibnu Jabir "ikhlas adalah tidak mengetahuinya seseorang, siapa yang berada di sebelah kanan dan kirinya". Diriwayatkan dari Amru bin Diinar "ikhlas ialah tenang dan fokus pada suatu keadaan". 

Ikhlas ada dua tingkatan,yakni ikhlasnya shaadiqin dan ikhlasnya shiddiqiin seperti yang di jelaskan di dalam kitab al Mafakhir al 'aaliyah karangan Syaikh Ahamad bin Muhammad bin 'ibad asy-Syafi'i :

وهو على ضربين : اخلاص الصا دقين واخلاص الصديقين ، واخلاص الصادقين لطلب الاجر والثواب واخلاص الصديقين بنظر وجود الحق مقصودا به لا بشيء عنده. 

"Ikhlas ada dua, ikhlasnya shaadiqin dan ikhlasnya shiddiqiin, ikhlasnya shodiqin adalah untuk mengharapkan imbalan dan pahala. Sedangkan ikhlasnya shiddiqiin adalah melihat wujudnya Allah yang haq sebagai tujuannya bukan pada suatu sisi yang lain di sampingnya."

Read More

Senin, Mei 13, 2024

Dalil-dalil Keutamaan Zikir

Dalil-dalil Keutamaan Zikir

Ilustrasi @mid


Penulis: Zainur Rahman

Zikir merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Zikir selalu menjadi senjata paling ampuh untuk mengatasi segala problem kehidupan.


Tidak sedikit, orang yang selalu mengistiqamahkan zikir, hatinya selalu diliputi ketenangan. Bahkan tak sedikit pula yang rezekinya dilancarkan.

Dengan selalu mengingat Allah swt. Maka Allah pun akan mengingat kita. Sebagaimana firman Allah swt.

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)

Tsabit Al-Banni suatu ketika pernah berkata: "Aku tahu kapan Tuhanku mengingat aku". Orang-orang pun kaget mendengarnya, lalu mereka berkata, "Bagaimana anda bisa mengetahui hal itu?" Dia berkata "apabila aku berzikir (ingat) kepada Allah swt., maka Dia pasti ingat kepadaku." (Kitab Adda'awatul mustajabah wa mafatihul farj: 22)

Allah swt. berfirman,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا 

"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya," (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41)

Allah swt. berfirman,

اُتْلُ مَاۤ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ    ۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ   ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

"Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 45)

Abdullah bin Abbas RA mengatakan, ayat ini memiliki dua kemungkinan makna. Pertama, bahwa mengingatnya Allah swt. kepada kalian jauh lebih agung daripada mengingatnya kalian kepada Allah swt. Kedua, bahwa ibadah zikir lebih agung daripada semua ibadah lainnya". (Kitab Adda'awatul mustajabah wa mafatihul farj: 25)

Tentu masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan keutamaan zikir kepada Allah swt.

Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Ibnu hibban, Ath-Thabrani dalam ad-Du'a', Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab, dari hadis Mu'adz bin Jabar RA.:

أي الأعمال أفضل ؟ فقال : أن تموت ولسانك رطب بذكر الله عز وجل

"Amalan apa yang paling utama? Lalu beliau bersabda, kamu mati sementara lisanmu basah oleh zikir kepada Allah swt."

Masih banyak hadis hadis lain yang bisa dijadikan rujukan untuk menguatkan dan memantapkan zikir kita kepada Allah swt.
Read More

Minggu, Mei 12, 2024

 Jembatan Cangkele’ Sumenep: Dihindari Pengantin saat Lamaran Resepsi, Kenapa?

Jembatan Cangkele’ Sumenep: Dihindari Pengantin saat Lamaran Resepsi, Kenapa?

Ilustrasi @pngtree

Penulis: Zubairi

Salah satu teman saya (laki-laki) sudah resmi menikah, dan acara keluarganya: resepsi, digelar beberapa hari yang lalu. Saat saya menghadiri undangannya, saya duduk bersila dengan Pak Jo. 

Sesaat kemudian Pak Jo bertanya, di mana rumah istri teman saya tadi. Setelah saya menjawab, Pak Jo berujar, “berarti besok lamaran pengantinnya dia nggak boleh lewat di Jembatan Cangkele’, ya. Katanya, kalau slamaran lewat di sana rumah tangganya akan berantakan.” 

Perlu diketahui, Jembatan Cangkele’ jaraknya sekitar beberapa kilo dari Pasar Sattoan, Desa Duko, Kecamatan Rubaru Sumenep ke arah utara. Detailnya, di samping jembatan itu ada sungai, (orang-orang menyebutnya Sungai Bungtangisan). Sebuah jembatan yang berbatasan dengan Desa Duko, Rubaru dan Sogian, Ambunten. 

“Dulu, ada orang yang lewat di sana saat lamaran resepsi. Padahal, sebelumnya sudah diingatkan jangan lewat Cangkele’ karena kata banyak orang, jika lewat di sana hubungannya tak langgeng. Dan memang ada kejadian seperti itu. Beberapa bulan kemudian rumah tangganya berantakan,” ucap Pak Jo kemudian.

Mengetahui hal itu, beberapa hari berselang saya mewawancarai orang lain via WhatsApp. Apakah mitos itu betulan tersematkan pada Jembatan Cangkele’?

Saya langsung menghubungi Alex untuk bertanya perihal mitos Cangkele' yang saya maksud. Tak lama, Alex membalas pesan saya. 

Ia mengaku kalau temannya yang satu desa, dulunya saat lamaran resepsi memang tak melewati Cangkele’. Melainkan lewat jalan lain di Rubaru. 

Namun, Alex juga bilang kalau tetangganya yang lain ada yang lewat Cangkele’ saat lamaran resepsi. 

“Namanya aja mitos. Cerita yang mengandung banyak penafsiran. Namanya cerita, ada yang dengar, ada yang nggak tahu. Pun ada yang tidak pernah dengar sama sekali. Yang dengar, ada yang percaya, ada pula yang tidak. Apalagi yang tidak pernah mendengar. Nah, mereka yang lain atau bersama keluarganya nggak dengar cerita itu. Makanya berani lewat,” tutur Alex yang rumah tunangannya nggak perlu melewati Jembatan Cangkele’ itu. 

Saya iseng bertanya lagi, “kalau sampean berani nggak pas lamaran resepsi lewat Cangkele’. Kan sampean sudah tahu pada mitos itu.

“Berani”. 

“Duh, kayaknya mau beristri dua ini.” 

“Pria boleh beristri 4. Apalagi cuma 2,” ujar Alex. 

Di lain sisi, saya juga menghubungi Kak Denny. Jawabannya sama: ia pernah dengar terhadap mitos di Jembatan Cangkele’ tadi. 

Kak Denny berujar, dulu tetangganya saat lamaran resepsi ia ikut rombongan lamaran. Dan ya, mereka sama-sama lewat jalan lain di pelosok Rubaru. 

Terakhir, saya kembali menghubungi teman senior, Cak Jeki, lewat WA. Setelah saya bertanya apakah pernah dengar mitos bahwa lamaran pengantin saat resepsi nggak boleh lewat Cangkele’ sebab akan mendatangkan petaka bagi rumah tangganya? Saya heran dengan jawaban Jeki.

Hayya gimana, wong dianya malah menanggapi pesan saya dengan emoji kaget lalu tanya balik “jembatan yang mana?” padahal sudah jelas saya bilang Jembatan Cangkele’. Astaga, Jek, Jek…

Terlepas ini mitos apa nggak, yang jelas kejadian di atas betul-betul terjadi.

Penting: Nama-nama di atas, merupakan nama samaran.

Read More

Sabtu, Mei 11, 2024

Mencegah Kekerasan Seksual dan Menjaga Citra Baik Pesantren

Mencegah Kekerasan Seksual dan Menjaga Citra Baik Pesantren

Ilustrasi: @nuonline

 

Penulis: Zubairi

Pondok pesantren disinyalir menjadi pilihan yang ideal bagi orangtua untuk menumbuhkembangkan karakter anak. Sebab, di sana anak bisa belajar banyak hal. Mulai dari pembinaan akhlak, belajar fikih, tasawuf, hadis dan keahlian lain yang jarang ditemukan di luar pesantren.

Ketika aturan sehari-hari di pesantren tidak ketat, santri putra-putri bisa saling bertemu setiap hari, mengenyam ilmu memang terkesan dapet. Sebab, mereka mengaji dan belajar bersama.Seperti banyak orang mengatakan ada semangat tersendiri.

Namun, untuk berperilaku baik, belum tentu. Karena ya pergaulan mereka memang termasuk bukan perilaku yang baik. Lazimnya, di pesantren putra-putri tak bisa bertemu secara bebas, ada aturan dan batasan yang berlaku. Dan ketika itu tidak ada, perilaku kurang baik bisa saja terjadi.

Saya punya dua contoh konkret tentang itu. Tapi, saya tak berani menyebut lembaganya. Yang jelas, saya tak mau berkhayal. Intinya begini, akibat dua pesantren itu tak punya aturan yang ketat, santri putra dan putri bebas bergaul di lingkungan pondok pesantren. 

Bahkan, pergaulannya sudah sangat keterlaluan. Pasalnya, santri putri di dua lembaga pendidikan Islam tersebut sampai ada yang berujung hamil. Jika pesantren punya aturan yang ketat, nggak mungkin santri putra-putri bebas berbaur hingga menemukan ruang bebas untuk berbuat hal-hal yang tak senonoh seperti itu. 

Akhirnya, wali santri yang lain yang memukimkan anaknya di dua lembaga itu, beberapa di antaranya rela memulangkan anaknya karena takut hal yang sama terjadi pada anaknya. Kepercayaan mereka terhadap pesantren yang diduga tempat yang ideal untuk menanamkan cara bertingkah baik tadi tampak telah luntur. Dan saya rasa, pilihan orang tua murid memulangkan anaknya karena takut tertimpa hal yang sama, adalah langkah yang tepat.

Orang tua punya keputusan

Kok bisa orangtua bersikap seperti itu dinilai tepat? Ya karena orangtua punya hak mutlak memberikan pendidikan yang baik dan tepat untuk anak-anaknya. Betul di sebuah pesantren memang punya kebijakan tersendiri, tapi bagaimana jika kebijakan itu daya magisnya telah hilang di mata wali murid? Orangtua mana yang tak kecewa? 

Nah, ketika sistem kebijakan di pesantren tak lagi terlihat, keputusan orangtua memulangkan anaknya dari pondok menjadi landasan yang lebih kuat. Toh, dulunya, yang memasrahkan anak ke pondok karena keinginan orang tua bukan? Dan jika orangtua tak lagi percaya pada pesantren yang dulunya dikira sebagai tempat yang tepat, anaknya kini mau dipulangkan adalah langkah yang tepat. 

Saya tak perlu juga menyebut sudah berapa banyak nama baik pesantren tercoreng sebab stakeholdernya tetap lalai belajar dari kasus-kasus yang sudah terjadi. Sudah terlalu banyak fenomena tak masuk akal yang menghantam citra baik pesantren. Kekerasan di pesantren bikin publik geram. Mulai dari kekerasan fisik hingga kekerasan seksual.

Kepercayaan publik pada pesantren perlahan pudar. Bikin mereka mikir berkali-kali untuk menaruh anaknya ke pondok mana yang aman dari pergulatan yang menyebalkan itu. Karena ya hal-hal yang bernuansa memalukan seperti itu makin hari terkesan subur di pesantren dan terkesan tidak ada sanksi sosial.

Apa sebabnya? Pihak pesantren tak mampu bangkit, dan mungkin memang tak bisa bangkit dalam menanggulangi peristiwa yang pelik semacam itu. Entah itu kiai utama di pesantren hingga jajaran pengurusnya yang tidak atau belum bisa mengatasi masalah klasik tapi menakutkan. Semua pihak jadi kena dampak negatif dong? Hayya jelas. 

Wong kenyaman dan keamanan di pesantren memang terkesan tak maksimal. Kenyamanan agar terhindar dari kekerasan akhir-akhir ini begitu masif dan miris. Keamanan, santri yang seharusnya mendapat perlindungan, justru ada yang diperlakukan sebaliknya bahkan ditutup dengan alasan tak logis. Orangtua mana yang bangga melihat hal itu terjadi?

Maka, tindakan wali murid yang memulangkan anaknya, merupakan tindakan yang sah-sah saja ditiru oleh orangtua yang lain–yang sedang trauma (misalnya) terhadap bagaimana nasib buah hatinya tentang kenyamanan dan keamanan di pesantren. Ketimbang harus bergulat dengan kecemasan, jemput dan pulangkan lalu pindah ke pesantren lain yang diyakini lebih baik, adalah tindakan yang tepat dan bijak. 

Keputusan seperti itu, saya rasa, wali murid tak perlu dasar dan landasan yang ndakik -ndakik dan bulet. Jika pada faktanya sudah tampak mencekam, maka orangtua murid sudah berhak pamit baik-baik ke pihak pesantren bahwa anaknya akan dipulangkan demi mencari tempat yang dirasa lebih nyaman dan aman. 

Dan hemat saya, pesantren juga tak perlu mengekang. Sebab, apa alasan pihak pesantren tak mau santri dipulangkan jika keamanan dan kenyamanan tak lagi ada, misalnya.

Read More

Jumat, Mei 10, 2024

 Guru Ngaji yang Nyaris Terlupakan

Guru Ngaji yang Nyaris Terlupakan

Ilustrasi

Penulis: Chalili

Melihat zaman yang semakin berkembang semuanya sudah serba mudah dan serba instan. Dengan hadirnya gadget semuanya bisa akses tanpa ribet hanya mengandalkan HP beserta paket data. 

Namun, dibalik itu semua ada hal kecil yang mulai terlupakan jasa dan pengorbanannya.

Yaitu jasa para guru ngaji atau yang di kenal dengan istilah "guru tolang", yang berada di pelosok-pelosok desa. 

Mereka tidak diangkat oleh siapapun dan tidak menerima gaji dari siapapun, ia hanya mengandalkan ikhlas dan pengetahuan ilmu agama seadanya. 

Mereka hanya kebetulan saja lalu ditokohkan di daerahnya sebab munkin karena dari pendahulunya. Meski bagitu ia nyaris terpendam dan terlupakan jasanya. 

Meski yang diajarkan hanya iqro', kalimat syahadat, mengajari wudhu' dan salat dan lain sebagainya, perlu diketahui bahwa itu merupakan ilmu dasar untuk mengetahui ilmu-ilmu yang lain.

Di dalam kitab Taklimul Muta'allim karangan Imam Zarnuji beliau mengutip perkataan Sayyidina Ali Karromahullah Wajhah tentang jasa seorang guru yang berbunyi : 

انا عبد من علمنى حرفا واحدا ان شاء باع وان شاء اعتق وان شاء استرق

"Saya adalah hamba sahaya dari orang yang telah mengajarkanku satu huruf jika ia berhendak menjualku,memerdekakan atau jika berkehendak jadikanlah budak. 

Pernyataan Sayyidina Ali diatas seolah sudah pasrah sepenuhnya terhadap orang yang telah mengajarkan satu huruf saja yakni mau dijadikan pelayannya atau dijual sekalipun tidak apa-apa. 

Dari sini kita punya gambaran bahwa seorang murid seolah tidak ada apa-apanya di hadapan seorang guru yang hanya mengajari satu huruf saja apalagi dua huruf, tiga huruf dan seterusnya. 

Pasalnya, masyarakat lebih-lebih anak muda sekarang lebih mengenal ustadz atau pendakwah-pendakwah muda yang tampil di medsos dengan viewer yang banyak, busana dan penampilannya yang terlihat keren dan berwibawa daripada ustadz-ustadz dan guru Madrasah kecil yang ada di pelosok desa yang penampilannya biasa-biasa saja, ilmunya mungkin tidak setingkat sarjana atau profesor . 

Sepertinya masyarakat dan anak muda sekarang perlu diberi pengertian dan pemahaman kepada mereka betapa pentingnya menghargai dan menghormati guru ngaji yang ada di pelosok desa dan kembali mengenang jasa-jasa mereka yang begitu besar terhadap agama dan bangsa. 

Salah satu cara menghormati dan mengenang jasa-jasa mereka adalah dengan tetap menjaga etika, tutur kata dan menjaga silaturahmi dengan cara berkunjung ke kediamannya. 

Diceritakan di dalam kitab Taklimul Muta'allim ada seorang Syaikh bernama Abu Bakar az-Zaranji yang tidak mengunjungi gurunya yang sedang muqim di suatu desa dikarenakan suatu hal. 

Syaikh itu ditanya oleh gurunya perihal kenapa dia tidak mengunjunginya sedang murid-murid yang lain berkunjung kepadanya.

Syaikh itu menjawab "Saya sibuk merawat ibu kandung", lalu gurunya menimpali "kamu diberi rezeki umur tapi kamu tidak diberi rezeki hasil dari belajar"

Begitu penting menjaga silaturahmi kepada seorang guru,guru dipesantren sebagai pembimbing jiwa, guru ngaji yang telah mengenalkan huruf hijaiyah dan kalimat syahadat dan orang yang kita anggap sebagai guru melalui nasehat-nasehatnya. Jangan sampai melupakan jasa-jasa mereka...! 

Sebab dampaknya adalah keberkahan dari ilmu yang kita dapatkan.

Read More

Selasa, Mei 07, 2024

Shulhan, Dosen yang Mendorong Mahasiswanya Bisa Menulis dan Punya Skill Ganda

Shulhan, Dosen yang Mendorong Mahasiswanya Bisa Menulis dan Punya Skill Ganda

\

Penulis: Zubairi

Saya beranggapan bahwa sekolah dan kampus, guru dan dosennya tidak pernah mengajari siswa atau mahasiswa untuk menulis. Dan pandangan itu memang benar–tidak sepenuhnya salah. 

Saya sendiri, di sekolah dan kampus nggak diajari menulis. Nggak dikasih tugas menulis seperti bikin esai maupun opini. Alhasil, nggak punya pengalaman soal menulis. Tahu-tahu disuruh membuat makalah hingga skripsi. 

Namun, kali ini beda cerita. Adalah Shulhan, pengasuh Pondok Pesantren Ar-Rasyid, Duko, Rubaru, Sumenep sekaligus seorang dosen di STIT Aqidah Usymuni yang mengajar agar mahasiswanya bisa menulis, supaya mahasiswanya tidak terbiasa memplagiasi karya orang lain. 

Shulhan (saya memanggilnya Kak Shulhan) dalam mengantisipasi mahasiswanya agar tidak doyan plagiasi saat ada tugas, maka tugasnya diganti. Yakni bikin tugas mendesain dan menulis opini. 

Saya mengetahui hal tersebut setelah tempo hari saya dan Kak Shulhan ngobrol santai di kediamannya.  

“Yang dibutuhkan oleh mahasiswa, yang paling mendasar tapi utama, adalah bisa ngomong Bahasa Inggris dan bisa menulis. Jika tidak bisa Bahasa Inggris, paling tidak harus bisa menulis. Tahu keduanya, lebih baik.”

Mahasiswa membuat makalah minimal 500 kata tapi karya sendiri

Kak Shulhan menginstruksikan mahasiswanya saat ada tugas makalah memberi target minimal 500 kata sudah cukup. Dengan catatan: murni karya sendiri, bukan menjiplak naskah orang lain lalu diakuisisi. Kak Shulhan sangat tidak menyukai pola yang seperti itu. 

Saya juga kaget mendengar ini, kok bisa-bisanya lho ya kepikiran bikin makalah cukup 500 kata tok. 

“Apakah itu tidak melanggar aturan, Kak?” Tanya saya pada alumnus UIN Suka itu. 

“Saya tak mau melihat banyaknya halaman makalah yang mahasiswa bikin. Saya ingin, saat makalahnya dikoreksi lewat Turnitin, isinya bukan hasil plagiat. Percuma meski ada 15 halaman tapi hasil menempel dari karya orang lain.”

“Mending 500 kata aja, yang penting hasil dari menulis sendiri, dan tentu saja harus mencantumkan sumber referensi.”

Saat UTS mahasiswa harus belajar mendesain

Saat UTS, mahasiswanya disuruh mendesain quotes dan video kreatif menggunakan aplikasi Canva dan aplikasi editing yang sejenis.

Gambaran tugasnya: mencari quotes tokoh-tokoh pesantren yang ditulis di aplikasi tersebut, dengan desain semenarik mungkin, lalu diunggah di Instagram masing-masing. Itu yang pertama. 

Kedua, mahasiswanya disuruh membuat video kreatif sesuai tema tugas yang diusung. Kalau ngambil video milik orang lain, tugasnya harus dijelaskan lewat video (suara) sendiri, sumber video jangan sampai lupa dicantumkan. Lagi-lagi, diunggah ke akun instagram pribadinya. 

“Nanti, setelah diposting ke Instagramnya, saya minta linknya untuk dinilai.”

Saat UAS mahasiswa wajib menerbitkan naskah di media online

Saat UAS, mahasiswa diminta menulis opini dan kudu di-submit ke media online. Contohnya, di semester 3, Kak Shulhan memberi tugas ke mahasiswanya: harus menulis opini minimal 500 kata, lalu diupload ke Kompasiana. 

Di semester 7, bebas ke media apa saja, asalkan opininya terbit di media online. Kak Shulhan, nggak menargetkan tulisannya harus apik plus diksi yang mewah nan ilmiah, tidak. Yang penting belajar menulis dengan serius, itu dulu.   

“Lha, emang mereka tahu cara mengirimnya, Kak?” tanya saya

“Bukan urusanku. Pokoknya naskah mereka harus terbit.”

Hasilnya, katanya, banyak mahasiswa semester 7 yang gagal. Nggak dapat nilai? Jelas. Padahal, sudah diingatkan berkali-kali sebelum UAS tiba. 

Kejam? menurut saya tidak. Kak Shulhan mengaku hanya ingin mahasiswa bisa mandiri, tanpa hidup selalu penuh ketergantungan. Bergantung ke google, maksudnya.

Kak Shulhan bilang, bahwa mahasiswanya yang awalnya tidak tahu gimana caranya kirim naskah ke media online, mereka dengan sendirinya bisa tahu. Apalagi masih semester 3, sudah tahu cara bikin akun di Kompasiana hingga tahu mengupload artikelnya, sudah patut diapresiasi. Karena itu butuh proses, dan jelas tidak instan. Itulah yang Kak Shulhan butuhkan. 

“Terlebih sudah semester 7, masak nggak mau belajar menulis?” katanya. 

Shulhan ingin mahasiswa punya skill ganda 

Menurut Kak Shulhan, kenapa UTS dan UAS nggak dibuat macam soal yang kebanyakan pada umumnya? Karena, pertama, malas membaca tulisan mahasiswa yang sedikit-banyak susah dibaca oleh dosennya. 

Kedua, khawatir betul pada mahasiswanya takut mengambil jawaban dari google tanpa proses belajar yang serius. Hal itu, setelah Kak Shulhan mengetahui banyak mahasiswa yang nggak mencantumkan sumber jawaban. Makanya, metode belajarnya diubah, ya agar mahasiswa tidak terbiasa plagiasi tugas.

Nah, jika mendesain, mereka jadi tahu bagaimana caranya mengedit. Sebab, menurutnya, sekarang kan era digital, mahasiswa kudu kreatif. Jadi, selain tahu mengedit di Canva misalnya, setidaknya mereka juga dapat ilmu baru: aplikasi apa saja yang bagus untuk mendesain atau mengedit.

Begitu pula dengan keterampilan menulis. Dengan tugas menulis, mereka yang awalnya awam mengirim naskah ke media online, sekarang sudah punya pengetahuan tentangnya. Itulah yang dimaksud Kak Shulhan mahasiswa ingin punya skill ganda.

Read More