Keinginan Menulis Berjamaah Dalam Pesantren

Foto: Saat saya menulis

Penulis: Moh Syahri
Ketika saya masuk pesantren mahasiswa Al-Hikam Malang, saya disuguhi kertas atau semacam kuesioner minat bakat untuk dipilih. Kebetulan pada saat itu saya memilih menulis dan olahraga volly. Saya berharap dengan adanya minat bakat ini mampu menumbuhkan potensi-potensi yang dimiliki santri baru pada saat itu. Namun pada kenyataannya, sampai saat ini sudah hampir satu tahun lamanya, belum ada tindakan lebih lanjut mengenai minat bakat yang saya pilih yaitu dunia tulis menulis. Padahal minat bakat yang lain seperti futsal badminton dan olahraga lain sering mendapatkan perhatian serius. Walaupun dalam benak saya tidak pernah beranggapan ada hal yang cenderung mendiskriminasi. Namun hal ini rasanya perlu dikaji ulang akan pentingnya budaya literasi.
Sesuatu yang sering menjadi pertanyaan dalam benak saya, kenapa menghidupkan kembali budaya literasi dalam pesantren masih sangat sulit. Ibarat mengajak orang non muslim masuk Islam. Padahal kalau kita mau menoleh terhadap sejarah tokoh figur terkenal dalam dunia Islam tidak perlu jauh-jauh ke Imam Ghazali contoh saja seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Mahfudz tremas, banyak karya dan tulisan beliau yang bisa kita nikmati melalui kitab yang beliau tulis. Artinya pesantren sudah sejak dulu membudayakan membaca dan menulis, hal ini bukanlah hal yang baru lagi di dunia pesantren. Tetapi untuk saat ini rasanya sudah mulai menurun bahkan bisa dibilang menurun secara drastis.
Sadar atau tidak, pesantren kali ini lebih berkembang dalam hal retorika, ceramah, pidato, presentasi dan berdebat. Hal semacam ini bukan berarti tidak penting. Akan tetapi dari sekian banyak pidato ceramah dan presentasi yang mereka sampaikan enggan didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Sehingga ketika acara itu selasai maka semuanya pun akan selesai dan mudah dilupakan. Maka tak heran jika banyak diantara kita hanya pintar berbicara dan berdebat namun enggan menulis, sehingga kita tidak punya karya apa-apa. Karena pada prakteknya memang demikian.
Saya melihat pesantren yang saya tapaki saat ini tidak lagi kekurangan fasilitas literatur seperti halnya tempo dulu, adanya perpustakaan yang juga didalamnya terdapat Wi-Fi yang bisa dinikmati oleh semua santri tanpa terkecuali dalam mengakses internet untuk membaca artikel. Fasilitas literatur seperti perpustakaan seharusnya dijadikan ladang dalam menumbuhkan karya menulis, tidak hanya sekedar sebagai pelampiasan dan tempat pelarian dari kejenuhan. Tidak hanya sekedar sebagai rujukan dalam menulis makalah saja dalam memenuhi tugas kampus, namun lebih dari itu harus dijadikan alat untuk membuka wawasan, gagasan yang mampu diterapkan dan dituangkan dalam tulisan.
Tentu semua ini harus mendapatkan dukungan moral juga dari pihak-pihak yang memiliki wewenang lebih dalam pesantren. Sehingga tak hanya sekedar kemuan semata namun sebagai bentuk tanggungjawab dalam meneruskan perjuangan para leluhur kita. Dengan adanya bentuk legitimasi langsung dari pesantren tentu akan memberikan pengaruh lebih besar terhadap pengembangan dunia tulis menulis.
Tantangan menulis yang dihadapi santri saat ini adalah hanya soal kemauan dan kesadaran saja, jika ia mau dan sadar akan pentingnya budaya literasi maka akan gampang dimobilisasi. Selain itu banyak santri yang memiliki kegiatan lain yang condong membuat mereka seolah-olah sibuk dan tidak bisa diganggu sehingga tidak memiliki komitmen dalam menulis. Padahal komitmen harus terus dijadikan landasan fundamental dalam hal apapun, tak terkecuali dalam dunia tulis menulis.
Jika di dalam pesantren saja belum mampu meneruskan perjuangan para penulis tempo dulu, maka tentu yang diluar pesantren akan lebih sulit. Termasuk bagaimana menganalisis peristiwa kontemporer menurut perspektif ulama salaf. Keberadaan penulis dalam pesantren tentu akan memudahkan pembaca dalam memahami situasi dan kondisi kekinian.
Saya sendiri menulis seperti ini banyak mendapatkan suntikan motivasi dari seorang penulis produktif, Prof. Imam Suprayogo. Sering beliau bilang bahwa yang yang terpenting menulis sampaikan gagasan dan pengalaman, baik itu pahit maupun manis. Dan juga ajakan seorang teman dalam merintis menjadi penulis rutin yang dikenal dengan istilah “Challenge Menulis Rutin”. Alhamdulilah dengan keterbatasan saya berada di pesantren ini, masih banyak akses yang bisa membuat saya terus konsisten menulis. Walaupun pesantren belum bisa membuat gerakan menulis insyaallah suatu saat akan ada seorang pionir yang akan maju dan siap berada di depan untuk menggerakkan.
Amien
Selam literasi

Related Posts