Segera Mudik, Bantulah Keluargamu Lebih-lebih Orang Tuamu

suasana alam di desa saya,
Desa Rajun kabupaten Sumenep

Semua orang memiliki peran penting dalam keluarga, tak terkecuali santri, anak kost, atau siapapun selama ia masih memiliki keluarga. Kehadirannya mesti sering ditunggu-tunggu oleh keluarga. Jika hendak pulang atau istilah sekarang mudik maka disitulah akan merasakan kebahagiaan karena akan bertemu keluarga. Sering saya katakan bahwa termasuk salah satu nikmat besar adalah berkumpul dengan keluarga. Bagaimana seharusnya memanfaatkan kenikmatan itu? Tentu kita harus sering-sering membantu keluarga baik itu secara material maupun non material, membantu secara perbuatan maupun pikiran.

Lantas bagaimana ketika kita tidak dibolehin bekerja sama keluarga? Karena kadang keluarga banyak memiliki pertimbangan, baik itu karena faktor usia, kurang dewasa yang akan berisiko, atau karena seringnya dimanja Sebenarnya membantu keluarga bukan sesuatu hal yang wajib. Lebih-lebih ketika kita masih dalam dunia pendidikan. Yang seharusnya membiayai pendidikan adalah orang tua atau keluarga itu sendiri. Namun, apakah ada larangan membantu keluarga atau hanya sekedar mencari berkah dengan semua itu. Selama hal itu tidak menggangu pendidikan anak maka ia seharusnya membantu keluarga. Dalam konsensus ilmu fiqih, orang tua atau keluarga wajib membiayai pendidikan anaknya selama orang tua itu mampu. Dan sebaliknya anak memiliki kewajiban sama ketika orang tua sudah tidak mampu untuk bekerja.

Dengan semua itu saya bisa menarik konklusi bahwa antara anak dan orang tua memiliki peran penting dalam menghidupi keluarga. Sehingga diperlukan adanya dukungan baik itu dari anak maupun orang tua. Tak dapat kita pungkiri bahwa dalam keluarga sering dihadapkan dengan beberapa permasalahan, baik itu masalah kecil maupun masalah besar. Permasalahan-permasalahan keluarga yang tak kunjung selesai biasanya itu salah satu penyebabnya adalah karena kurang terbukanya pembicaraan terhadap keluarga atas permasalahan itu untuk sama-sama mencari problem solvingnya.

Sering saya tegaskan beberapa kali dalam sebuah perbincangan santai dengan teman-teman, bahwa apapun yang terjadi dengan diri kita ini baik itu manis ataupun pahit kabari keluarga. Karena kelauarga itu secara tidak langsung memiliki kekuatan tersembunyi.
Sesuai dengan apa yang dikatakan Prof. Imam Suprayogo, Dalam banyak komunitas, orang tua diposisikan sedemikian terhormat. Kehadiran mereka itu dianggap penting, bukan karena kekuatan fisik atau kedalaman keilmuannya, melainkan karena kearifannya. Secara fisik, orang tua dan apalagi sudah terlalu tua tidak memiliki kekuatan apa-apa. Demikian pula buah pikiran mereka, dalam hal-hal tertentu sudah bisa dikalahkan oleh yang lebih muda.

Mengutamakan keluarga atau orang tua dari pada tugas lainnya adalah sederhana, tetapi ternyata tidak semua orang memiliki kesadaran terhadap kewajiban itu. Berbakti kepada orang tua atau keluarga tidak selalu berkorelasi dengan tingkat pendidikan formal seseorang. Banyak sekali orang yang berpendidikan tinggi tetapi ternyata gagal dalam menunaikan kewajiban berbakti kepada orang tua atau keluarga. Sebaliknya, orang yang tidak berpendidikan`kecuali hanya sekedarnya, tetapi yang bersangkutan sedemikian tekun dan tinggi kebaktiannya terhadap kedua orang tuanya. Anak-anak jebolan pesantren tatkala diamati, pada umumnya ternyata jauh lebih mampu menghormat orang tua dibanding misalnya, lulusan perguruan tinggi dan lebih-lebih lagi perguruan tinggi dari negara sekuler atau negara barat. Atas dasar pengamatan itu, seringkali terdengar semacam joke atau kelakar, bahwa manakala seseorang menginginkan agar ketika meninggal nanti ditangisi oleh anaknya, maka jangan semua anaknya dikuliahkan ke perguruan tinggi.

Berbakti kepada kedua orang tua tidak memerlukan bekal kemampuan rasionalitas yang tinggi, melainkan berupa kekayaan atau kejernihan dan ketajaman hati. Berbakti kepada orang tua tidak boleh didasari oleh pertimbangan keuntungan material dan apalagi transaksi kebendaan. Berbakti kepada kedua orang tua adalah merupakan panggilan hati. Orang yang menyandang kekayaan hati adalah mereka itu yang sanggup menunaikan kewajiban itu. Orang yang memiliki kecerdasan intelektual tanpa disempurnakan dengan kecerdasan hati, maka tidak akan sanggup mengutamakan orang tua dari pada lainnya. Banyak contoh orang berpendidikan tinggi ternyata melupakan kepada kedua orang tuanya. Islam mengajarkan agar anak selalu berbakti kepada kedua orang tua. Birrul walidain adalah akhlak yang harus dikembangkan oleh setiap muslim. Banyak sekali ayat-ayat al Quran memberikan tuntunan agar berbuat baik kepada kedua orang tua.

Wallahu a’lam bisshowab

Santri Mahasiswa Al-Hikam Malang

Related Posts