Mengenang Humor Gus Dur yang Lebih Memilih Pidato Ala Pesantren daripada Ala Pejabat

Penulis: Moh Syahri


Atorcator.Com – Selain menjadi orang nomor satu di Indonesia sebagai presiden pada masanya, Gus Dur juga menjadi orang nomor satu di dunia yang dikenal humoris, suka bercanda yang diiringi gelak tawa. Karena bagi Gus Dur, boleh dikata, tiada hari tanpa ketawa dan canda.


Sebagai pemangku jabatan presiden, Gus Dur memiliki sense of humor yang tinggi. Jabatan Presiden yang seolah memiliki konotasi “keseriusan”, bagi Gus Dur, tidak demikian. Gus Dur yang memang memiliki gaya hidup sederhana, hidupnya penuh dengan guyon, suka melucu, sama sekali tidak berubah ketika menjabat presiden, bahkan Gus Dur masih nampak semakin rajin berhumor.


Di tangan Gus Dur, Indonesia bisa maju tidak lepas dari pola pikir dia yang humoris-substantif. Tak heran jika dunia dan isinya selalu dibuat ketawa oleh Gus Dur melalui pidato-pidatonya, konfrensi persnya dan melalui kebiasaan ceplas ceplosnya.


Gus Dur membuat Indonesia semakin menarik karena humornya yang khas dan berkelas dan ceplas ceplosnya yang menarik perhatian. Tidak seperti zaman Pak Harto, yang penuh kekakuan, penuh dengan ketegangan, penuh dengan penindasan, penuh dengan penekanan, dan penuh dengan kejenuhan.


Oleh karenanya, pidato Gus Dur tidak melulu dengan keseriusan, baik saat posisinya sebagai pejabat negara maupun sebagai mubaligh/kiai. Bagi Gus Dur, pidato pejabat negara dan siapapun itu sama, sama-sama ingin didengar, diikuti dan diamalkan. Kalau ingin pidatonya didengar sampai selesai maka ikutilah cara pidato kiai pesantren yang penuh dengan candaan.


Baca Santri Tidak Cukup Jadi Pelajar Harus Jadi Pejuang


Pidato Gus Dur tidak hanya menghadirkan gelak tawa tapi juga menghadirkan inspirasi, baik ketika berpidato soal politik maupun soal agama. Dengan gaya yang sederhana namun tetap bersahaja, Gus Dur kadang dinilai kontroversial dalam setiap perilakunya. Padahal dia hanya ingin menunjukkan (dengan humor) bahwa dengan seperti itu kita akan bisa bertahan di Indonesia sekaligus melawan setiap kejahatan yang pernah terjadi di masa orde baru.


Karena itu, Gus Dur sering bergerilya lewat pidatonya (yang humoris) untuk menyadarkan masyarakat atas kecompang-campingan, kekonyolan, dan koyak-moyak negeri ini. Kehadiran Gus Dur dengan gaya humornya yang banyak menyentil bahkan membuat kuping para pejabat kepanasan sama sekali tidak merusak tatanan masyarakat yang ada.


Satu dari sekian banyak pidato yang saya ingat dan masih menancap di otak dari Gus Dur ketika menjabat sebagai presiden adalah kesepakatan beliau atas diumumkannya kekayaan para menteri. “Agar yang sudah kaya biar kita tahu seberapa kayanya dan yang belum kaya biar ketahuan seberapa melaratnya”, ungkapnya.


Mengingat pesan Gus Dur soal humor. Dalam bukunya “Melawan Melalui Lelucon”, Gus Dur menyebutkan setidaknya candaan memiliki fungsi penting sebagai medium protes terselubung, wadah ekspresi politis, sarana menggalang kesatuan dan persatuan, sarana kritik terhadap keadaan yang tidak menyenangkan di tempat sendiri.


Saya sangat bersyukur dengan kehadiran media sosial seperti “Twitter Nu Garis Lucu” dengan jargonnya “sampaikan kebenaran walaupun itu lucu”. Dimana postingan-postingan di twitternya selalu menghadirkan humor yang cerdas. Ini salah satu upaya untuk menumbuhkan dan menghidupkan kembali humor ala Gus Dur lewat tulisan untuk menyampaikan kebenaran lewat humor.


Semua pola pikir dan tindakan Gus Dur tidak lepas dari produk pesantren. Urusan bercanda dan ketawa juga merupakan bagian dari tradisi kiai di pesantren. Kiai pesantren tidak lekang dengan candaan walaupun kiai pesantren memiliki tugas penting dan serius dalam mengartikulasikan agama sebagai solusi dan pedoman hidup.


Sebagai penutup dari tulisan ini, saya ingin mengutip kata-kata Emha Ainun Najib yang ditulis dalam buku “Gus Dur Santri Par Excellence Teladan Sang Guru Bangsa”, bahwa ada dua istilah yang diambil oleh beliau dari ajaran islam, yaitu Basyiro dan Nadhiro. Gus Dur sudah mengajarkan Basyiroh yang memiliki arti membuat orang gembira, tertawa, tepuk tangan, terpingkal-pingkal sampai keluar air mata. Akan tetapi pada batas tertentu, Gus Dur tidak melewati tugas Nadhiro yang memiliki arti memberikan peringatan: He tiran, jangan tiran dong.


Wallahu a’lam


  • Moh. Syahri Founder Atorcator.com, pernah nyantri di pondok pesantren Darul Istiqomah Batuan Sumenep

Related Posts