Menyambut Basuki Thahaja Purnama, Tokoh dan Korban dari Praktik Politik Busuk

Hari ini, kamis 24 Januari 2019 pak Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama resmi bebas murni setelah menerima potongan remisi. Tentu kebebasan ini turut memberikan angin segar bagi para pendukungnya. Lebih-lebih bagi ahoker.


Selain dikenal dengan tokoh yang politik menjaga amanah yang benar, bertanggung-jawab, utamanya tidak korupsi, beliau juga banyak menginspirasi banyak orang. Pak Ahok adalah tokoh yang sama sekali tidak menunjukkan dendam dengan tokoh politiknya.


Tidak perlu menghitung musuh politik dia berapa, yang jelas dulu monas dipenuhi jutaan orang dengan berjilid-jilid yang sampai saat ini masih direunikan, karena saking pentingnya momen itu. Artinya bagi saya Pak Ahok kini lebih dikenang oleh orang Islam melalui reuni itu. Karena tak mungkin ada reuni jika sosok Basuki Tjahaja Purnama tidak ada di tengah-tengah mereka.


Kini telah datang kembali sosok purnama yang sama sekali tidak meredup. Dari penjara dia kembali memancarkan sinar cahayanya sebagai tokoh figur yang tak gentar menghadapi hukum di tengah-tengah praktik politik busuk.


Banyak harapan dari penggemarnya untuk terus bangkit dan kembali berpolitik. Tapi dia enggan memutuskan hal itu dan lebih memilih menikmati kebebasannya dulu. Bagi saya Pak Ahok nampak lebih bijak bertutur dan bersikap pasca bebas.


Baca juga: Ketika Santri Nonton Film A Man Called Ahok di Tengah-tengah Penonton Tionghoa



Dia itu bukan orang pengecut, dia selalu belajar dari sebuah pengalaman, bahkan dia tak takut mengakui kesalahan dan berani meminta maaf. Pantas saja, saat masih dipenjara beliau banyak yang mengenang dan cahayanya terus memancar.


Pasca kebebasan ini banyak orang mempertanyakan apakah pak Ahok akan berlabuh lagi di dunia perpolitikan. Banyak juga yang menduga-duga kesibukan yang akan dilakukan pak Ahok pasca bebas dari penjara. Mulai dari sebagai pembawa acara Ahok Show sampai menjadi pembisnis.


Sosok Basuki Tjahaja Purnama benar-benar masih menjadi lentera di tengah-tengah masyarakat kita yang rindu dengan keadilan dan kebenaran. Di tengah banyaknya praktek korupsi sosok Basuki Tjahaja Purnama seharusnya menjadi teladan bagi para elit politik.


Ada pesan yang cukup membuat saya tersentak kagum betul dengan dia, seolah dia benar-benar mendapatkan hikmah dari dari rangkaian peristiwa itu.


“Saya bersyukur diizinkan tidak terpilih di Pilkada DKI Jakarta 2017, jika saya terpilih lagi di pilkada tersebut, saya hanyalah seorang laki-laki yang menguasai balai kota saja, tetapi saya di sini belajar menguasai diri seumur hidup saya,” kata Ahok dalam suratnya.


Terlebih kata dia, jika menang dalam pilkada hanya dapat menguasai balai kota selama lima tahun. Untuk itu jika ia diminta memilih ketika waktu dapat diputar kembali, Ahok mengaku akan tetap memilih di penjara di Mako Brimob.


“Saya katakan akan memilih ditahan di Mako [Brimob] untuk belajar dua tahun (liburan remisi 3,5 bulan) untuk bisa menguasai hidupku,” kata dia.


Pesan ini sangat inspiratif. Ini pesan yang tidak ada bedanya dengan pesan-pesan tasawuf dan tarekat tazkiyatun nafsi, menghilangkan egois dan nafsu. Selamat kembali beraktivitas pak Ahok kami selalu mengenang perjuanganmu sepanjang sejarah.


Sumber Foto: Detik.com

Related Posts