Keseimbangan Antara Ilmu dan Amal


Oleh: Santri Kiri


Atorcator.Com – Seorang muslim
mendapatkan kewajiban untuk melakukan ibadah baik ibadah itu bersifat
horizontal antara seorang hamba pada Tuhannya hablun minallah maupun
ibadah yang sifatnya vertikal antara sesama ummat manusia hablun mina
al-nasi.
Bahkan jika kita merujuk pada ayat Alquran surat ad-Dzariat ayat
yang ke 56, pada dasarnya semua manusia yang mendapat tugas untuk melakukan
ibadah. Sebab pada ayat tersebut tidak ada takhsis yang membatasi
manusia. Sehigga seluruh manusia dengan berbagai karakter dan latar belakang
apapun sama-sama membutuhkan tuhan.

Ibadah,
sebagaimana yang telah kita ketahui, sangat mudah untuk kita jumpai dalam
keseharian kita. Islam sebagai agama telah mengatur semuanya dalam tataran
syariat, yang jika syariat itu dilakukan maka akan bernilai sebagai ibadah. Bahkan
dalam hal yang remeh pun seperti tidur yang jika diniatkan untuk istirahat agar
setelah bangun dapat menyegarkan tubuh untuk melakukan ibadah, maka tidur
tersebut adalah bentuk ibadah kita kepada Allah.

Lantas apakah
semua hal yang dilakukan yang jika di niatkan untuk beribadah kepada Allah SWT
akan mendapatkan nilai ibadah?

Oleh sebab itu,
dalam sebuah syair yang digubah oleh Syekh Zainuddin bin Syekh Ali Bin Syekh
Ahmad Al-ma’biri dalam kitabnya yang bernama Hidayatu Al-Adzkiya’ ila
Thariqi Al-Awliya’
yang bebunyi:

وكل من بغير علم يعمل * 
اعماله مردود لاتقبل
Artinya : Dan setiap orang yang tanpa ilmu beramal (beribadah), maka amalnya tertolak tidak diterima.

Dalam kitab Kifayatu
Al-Atqiya’
Sayid Bakri Al-Makki Bin Sayyid Muhammad Syatha Al-Dimyathi
memberikan komentar tentang sya’ir ini bahwa: syair ini adalah maksud dari
sebuah hadist yang berarti “Keutamaan orang yang memiliki pengetahuan atas
seorang yang ahli ibadah adalah seperti kemuliaan atas orang yang paling rendah
diantara kalian”




Dengan kata
lain, sebenarnya apa yang ingin disampaikan lewat syair ini adalah, semangat
untuk mencari pengetahuan adalah harus seimbang dengan semangat untuk
beribadah. Kedua sifat ini harus ditempatkan dalam proporsi yang seimbang.
Bukan untuk menyurutkan semangat beribadah dan lebih bersemangat untuk mencari
pengetahuan. Atau justru sebaliknya.


Lebih dalam,
jika kita ingin mengambil semangat yang terkandung dalam syair ini yaitu
semangat untuk menjalani hidup dalam keseimbangan antar pengetahuan dan
perbuatan, teori dan praktek.

Sumber Foto: NU.or.id

Related Posts