Menyoal Keustazan Sugi Nur dalam Mengartikulasikan Agama

Penulis: Moh Syahri


Atorcator.Com – Bahasa tubuhnya angkuh betul! Itu tidak sopan. Tidak seperti
Ustaz pesantren yang sejuk dan mendidik. Itu menunjukkan ada kekacauan dalam
intelektualitasnya, etikanya pun goyah. Dia tidak lebih superior dan alim dari
Gus Muwaffiq dan Syaikh Abdul Shomad yang sudah malang melintang berdakwah ke
pelosok nusantara. Tidak, dia hanya menunjukkan kerecehannya kepada umat.

Bermodalkan suara pekik, menghujat dan mencaci ke sana ke
mari di panggung jamaahnya tak ubahnya seperti penjual racun yang kehilangan
konsumen. Pengakuannya bahwa dia tidak bisa baca kitab kuning dan hanya bisa
menggaji orang yang bisa baca kitab kuning menunjukkan bahwa dia tidak memiliki
otoritas dan spesialisasi ilmu agama dan sanad keilmuan yang jelas. Anehnya,
jamaahnya tidak sadar dengan hal itu.

Saya berkali-berkali mengingatkan kepada anak-anak bahwa Sugi
Nur itu bukan sedang berceramah tapi sedang ngebacod. Pesan keagamaanya
sama sekali tidak bisa dihayati apalagi diamalkan dalam kehidupan sehari-sehari.

Dia sudah terjebak dalam eskapisme spiritual yang bernaung di
bawah panggilan ustaznya yang penuh kepalsuan tanpa ada legalitas keilmuan.
Kepiawaiannya dalam berceremah eh ngebacod maksudnya hanya
diproyeksikan sebagai juru dakwah perdagangan dan penghakiman semata.

Fenomena mereplikasi satu ayat sebagai pandu kebenaran kerap
dilakukan oleh Sugi Nur. Padahal dia tidak paham esensi dan substansi ayat yang
pantas disampaikan ke publik. Akhinya dia asal-asalan dan ngawur.

Sugi Nur merupakan ustaz publik yang dibentuk oleh media
melalui rekayasa sosial, tak pelak jika dia cukup ampuh untuk memantik
jamaahnya dalam kedoknya. Akibatnya dia berceramah tidak menggunakan
mata kasih sayang. Yang penting dipercaya siap ke panggung meskipun apa yang
disampaikan nihil dari nilai-nilai agama dan cenderung memprovokasi keributan
dan perpecahan.

Baca juga: Pasar Gelap Ustaz

Penceramah yang suka teriak-teriak
dan doyan menakut-nakuti umat biasanya ada yang rusak dengan sistem perjalanan
spiritualnya. Sugi Nur adalah satu contoh dari sekian banyak penceramah yang
ceramahnya gemar memanipulasi sentimen agama. Ada yang yang error dengan sistem
pencernaan otaknya.

Sugi memang lihai sekali dalam hal
memobilasi umat untuk memancing konflik dan keributan. Mengaku dirinya paling
islami tapi tingkahnya merusak tatanan agama islam itu sendiri.
Inilah akibatnya jika kecerdasan itu
tidak turun ke hati. Kecerdasan tidak berbanding lurus dengan kemurnian hati
(ikhlas).

Pantaskah Sugi dipanggil ustaz?

Ustaz merupakan kategori achieved
yang diperoleh melalui proses pencaharian keilmuan, yang sesuai dengan
kompetensi yang digeluti dan pengalaman keberagamaan yang ditempa oleh waktu
dan ruang yang memadai.

Kita perlu mata batin untuk
menengarai dengan cerdas bagaimana seharusnya menyikapi ceramah sosok misterius
Sugi Nur. Bahkan kita perlu curiga untuk memahami konten ceramah Sugi Nur
sebagai ustaz yang menunggangi agama islam tapi berwatak abu jahal.




Sumber Foto: Duta Islam

Related Posts