Resolusi Konflik - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Rabu, Februari 20, 2019

Resolusi Konflik


Atorcator.Com - Fitrah keunikan manusia mengarahkan setiap individu untuk mengkonstruk kepentingan. Kepentingan yang biasa dalam kehidupan kita, relatif masih bisa diatur. Namun menguatnya kepentingan berpotensi timbulnya konflik yang cenderung merugikan, dengan segala variasi konflik. Konflik terjadi itu biasa dalam kehidupan. Konflik secara sepintas memang bisa untungkan pihak yang memenangkan, namun hakikatnya apapun bentuk konflik, akhirnya juga merugikan semua. Artinya bahwa kemenangan yang diperoleh dari konflik adalah kemenangan semu, yang boleh jadi kelompok saat ini menang, tetapi pada saat yang lain bisa kalah. Karena konflik itu cenderung bisa merugikan semua, maka cepat atau lambat harus segera diupayakan ada resolusi konflik.
Ketika konflik itu bisa diselesaikan secara efektif, maka dampak positifnya adalah diperolehnya dua keuntungan, yaitu pencapaian tujuan yang memuaskan dan penguatan hubungan antara kedua pihak yang berhadapan dan terlibat konflik. Dalam konteks tahun politik yang menampilkan dua kubu yang berjuang merebut simpati pemilih yang sama-sama fanatiknya, memiliki potensi kuat terjadi konflik di kemudian hari yang sangat membahayakan bagi keutuhan bangsa dalam bingkai NKRI. Karena itu perlu sekali diantisipasi sejumlah alternatif resolusi konflik yang berbasis nilai-nilai pancasila, di samping mengadopsi nilai-religius dan membangun respek terhadap keragaman.
Kini ada tanda-tanda nyata bahwa antar ummat beragama bahkan antar ummat seagama yang berada di dua kubu yang berbeda sengaja dibuat berhadap-hadapan dengan grand design-nya. Maka ummat beragama, terutama yang beragama Islam wajib berhati-hati untuk menjaga idealisme dan atau kepentingan, sehingga tidak menjadi korban dengan biaya sosial yang sangat tinggi. Untuk itu perlu mengingat, QS Al Hujurat:10, yang berbunyi “innamal mu-minuuna ikhwatun fa-ashlihuu baina akhawaikum, wattaqullaaha la’allakum turhamuun”, yang artinya “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertawakkallah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Memahami terjadinya perbedaan kubu adalah sangat penting, namun yang jauh penting adalah kesiapan antara keduanya untuk melakukan ishlah atau resolusi konflik.

Baca juga: Jangan-jangan Sudah Tak Lagi Pancasila Kok Buku PKI Harus Dirazia

Berkenaan dengan konflik yang terjadi di dunia kerja, Sonya Krakoff (2019) menformulasikan lima strategi Resolusi Konflik yang perlu dipertimbangkan, (1) Jangan hindari konflik, (2) Klarifikasi apa yang menjadi persoalan, (3) Libatkan pihak-pihak secara bersama-sama untuk bicara, (4) Identifikasi suatu solusi, dan (5) Teruskan dengan memantau implementasi, jika masih ada masalah lakukan lagi cari solusi yang bisa diterima keduanya. Strategi ini dapat ditransformasikan dalam berbagai situasi konflik, apakah pada skala kecil, menengah atau besar. Semoga dengan kecerdasan, kreativitas dan komitmen moral yang kita miliki, kita dapat lakukan resolusi konflik dengan hasil yang terbaik yang bisa memberikan kepuasan bagi semua.

Setelah memperhatikan kondisi objektif bangsa dan umat kita yang sangat heterogen, baik latar belakang, kondisi saat ini dan cita-citanya, maka potensi konflik tidak bisa dihindari. Untuk itu perlu secara personal, kolektif atau institusional kembangkan pemahaman dan strategi tentang resolusi konflik, sehingga bisa dicegah adanya konflik yang bisa mengancam eksistensi hidup kita. Kita semua harus menjadi subjek untuk setiap konflik yang kemungkinan terjadi. Semoga kita hidup dalam kerukunan dan kedamaian. Jika konflik itu dimunculkan untuk suatu tujuan kebaikan, maka perlu kehati-hatian, sehingga tidak kontraproduktif. Kebersamaan, saling pengertian dan kedamaian harus menjadi kebutuhan hidup kita semua untuk mencapai cita-cita yang besar, terbangunnya bangsa dan umat yang bermartabat. (RW-YOG,20/02/19), pkl. 06.50.

Sumber Foto: Nasional-Tempo