Cara Terbaik Menyayangi Anak dan Isteri - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Sabtu, Maret 09, 2019

Cara Terbaik Menyayangi Anak dan Isteri


Oleh: Ach Dhofir Zuhry
(Penulis buku best seller Peradaban Sarung dan Kondom Gergaji)

Apakah Anda tipe suami yang tidak betah di rumah atau sering keluar rumah? Apakah Anda juga seorang "pria panggilan" seperti saya yang hidup dan aktivitasnya lebih sering dijadwal oleh orang lain? Apa yang dialami pria-pria beristeri saat mereka jauh dari rumah, bepergian, merantau atau sedang menjalankan tugas dinas?

Biasanya, jika seorang pria beristeri bertemu dengan anak-anak kecil yang sebaya dengan anaknya sendiri di perjalanan atau di suatu tempat, ia segera menghela nafas mengemasi lamunan, karena ingat dan rindu anak-anaknya di rumah. Segera ia beli oleh-oleh, mainan dan atau jajanan kegemaran sang anak.

Akan tetapi, manakala seorang pria beristeri bersua dengan wanita (gadis, janda dan atau isteri tetangga), segera ia lupa isterinya sendiri. Sekali lagi, ia lupa isterinya sendiri, ini serius, Brur! Dalam sepersekian detik, dibandingkannya wanita itu dengan isterinya sendiri. Hasilnya? Selalu isterinya kalah dan lebih buruk, tidak pernah seri. Lantas, benarkah tesis bahwa "setiap lelaki mata keranjang dan setiap wanita mata duitan"? Saya kira, pria-pria beristeri memilki parameter yang berbeda namun nyaris sama. Buktinya?


Siapapun isteri dan pasangan hidup Anda, rerata, mereka ibarat penyanyi. Kurang piknik atau kurang belanja, lagu keroncong dilantunkan sang isteri. Telat nafkah dan belanja pokok, irama dangdut langsung mengudara, sesekali berbumbu koplo. Banyak utang dan hidup susah sejak awal menikah, segera musik-musik cadas menghentak tiada henti dari kamar tidur dan seisi rumah Anda.

Saat Anda mendengar cerewet dan ketusnya sang isteri, umpatan dan caci makinya yang merdu, ingatlah di luar sana sangat banyak dan berjibun-jibun orang yang berharap mendapatkan jodoh dan jomblo 7 purnama. Pun juga, apabila Anda terganggu oleh keributan dan kenakalan anak-anak, ingatlah betapa banyak pasangan suami-isteri (pasutri) yang merindukan kehadiran seorang anak, bahkan sebagian sampai menunggu belasan dan puluhan tahun.

Hemat saya, tugas pria-pria beristeri terhadap anak-isteri mereka bukanlah membahagiakan, dalam arti sempit, selalu memberi yang mereka mau, namun membimbingnya menuju kebahagiaan sejati, di dunia dan nirwana. Apa sebab? Kebahagiaan tidak memiliki standar dimensi dan ukuran yang presisi, ia hanya bisa kita rasakan setiap kita bersyukur. Bagaimana pola dan strateginya? Bedakan mana hal-hal yang perlu, mana yang prinsipil, mana pula yang penting dan mana yang sungguh-sungguh mendesak.

Contoh kasus, liburan ke planet Jupiter memang perlu, sesekali piknik ke planet Neptunus memang penting, tapi belum mendesak. Anda tidak wajib memaksakan diri "membeli" kebahagiaan semu. Bagi saya, hidup ini sudah liburan dan riang-gembira, jadi, mereka yang sibuk untuk rekreasi, dari Bali sampai ke Bulan, sebenarnya adalah orang-orang kesepian dan galau, mereka belum temukan keindahan dalam diri dan keluarganya.

Oleh karena itu, narasi dan pemahaman yang penting untuk terus direvitalisasi adalah bahwa isteri dan suami Anda adalah ayat (tanda kebesaran dan cinta-kasih Tuhan) sebagaimana diwahyukan dalam Al-Qur'an. Manakala Anda memahami bahwa pasangan hidup Anda adalah ayat, firman, wahyu, bagian dari Kitab Suci, maka tidak mungkin Anda akan menyepelekan, merendahkan dan mencaci-maki wahyu.

Maraknya kekerasan dalam rumah tangga semata karena masing-masing suami-isteri belum menganggap pasangan hidup mereka sebagai ayat, tanda kebesaran dan cinta-kasih Allah. Bukankah Nabi pernah ingatkan bahwa rumahku adalah surgaku? Jangan sampai rumah tangga menjadi surga bagi suami saja, juga isteri semata-mata!

Memang, miris menyaksikan fenomena kawin muda kaum urban dan gerakan poligami para tuna agama dan defisit pustaka yang lebih sibuk memahami "sunnah Rasul" sebagai kawin sebanyak-banyaknya dan otomatis meyakini bahwa kanjeng Nabi itu tukang kawin. Lantas, anak-isteri yang bertebaran di mana-mana cukup mereka kasih makan doktrin dan iming-iming surga! Bukankah poligami Nabi justru mereduksi tradisi jahiliyah yang biasa menumpuk isteri, gundik dan selir sampai 600 orang?


Sahabat Umar bin Khatthab ra pernah ditanya, "wahai Amir al-Mukminin (pemimpin orang-orang beriman), mengapa Anda diam saja setiap dimarahi isteri, padahal Anda adalah kepala Negara dan pemimpin Agama, Anda adalah teladan dan junjungan kami semua?"

Sembari tersenyum menyeruput kopi (atau yang sejenis), sayyidina Umar ra menukas, "justru itu, Bro, kemarahan isteri saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan cinta dan pengorbanannya selama ini. Ia mengandung anak-anak saya, melahirkan, menyusui, merawat, mengasuh dan mendidik mereka dengan penuh cinta-kasih. Padahal, saya sendiri tak sanggup melakukan itu semua."

Well, hormat-sayangi anak-isteri Anda dengan wajar dan sederhana! Anak sih wajar, isteri gimana? cerewet dan matrénya itu lho? Ah, nanti juga terbiasa, Bro! Tapi, dia sering banting-banting piring dan gelas? Kasih saja gelas plastik! Tapi, dia sering lempar perabot ke luar rumah? Ya, dari pada kita yang dilempar ke luar rumah!

Semoga bahagia dan mulia.

Sumber Foto: Wajibbaca.com