Hobi Nyunah dan Anti Mbid’ah

serambi

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
(Antropolog budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi)

Nyunah adalah melakukan perbuatan,
tindakan, atau aktivitas sebagaimana yang konon dipraktikkan oleh Nabi Muhammad
berdasarkan informasi teks-teks hadis yang tertuang di berbagai kitab hadis.
Sedangkan mbid’ah yang saya maksud adalah melakukan perbuatan, tindakan, atau
aktivitas yang konon tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad.

Sengaja saya pakai kata
“konon” karena tidak ada yang tahu persis bagaimana atau seperti
apakah gerangan situasi-kondisi dan kehidupan sehari-hari sang nabi sekitar
15an abad silam. Yang bisa dilakukan oleh umat Islam adalah memahami dan menginterpretasi
apa yang terjadi di masa lalu melalui teks-teks itu serta informasi dan fakta
pendukung lain.

Saya pun akan mencoba memahami dan
menginterpretasi. Banyak umat Islam mengklaim apa yang mereka lakukan itu
adalah “nyunah” dan menghindari sejumlah perbuatan karena dianggap
“mbid’ah”. 

Tetapi dalam praktiknya sebetulnya apa yang diklaim
sebagai “nyunah” itu sejatinya adalah “mbid’ah”. Sementara
sejumlah aktivitas yang dituduh “mbid’ah” sebetulnya adalah “nyunah.”

Misalnya begini: banyak umat Islam
masa kini yang mengklaim memakai gamis itu sebagai bentuk nyunah. Menurutku,
memakai gamis itu bukan nyunah (nabi) tapi “nyunah orang Arab
kontemporer.”

Sangat tidak mungkin Nabi Muhammad
yang tinggal 15an abad silam itu memakai jenis pakaian ala gamis yang jelas-jelas
merupakan produk kebudayaan manusia kontemporer. Itulah sebabnya kenapa
masyarakat “Arab ori” jaman now sama sekali tak menganggapnya sebagai
“nyunah”. Setiap kali saya tanya: “Apakah kalian memakai gamis
karena mengikuti sunnah nabi?” Mereka selalu bilang “tidak”
disertai penjelasan kalau pakaian nabi jaman dulu itu begini-begini bukan
begono-begono.

Poligini atau mengawini sejumlah
istri yang dianggap nyunah juga bisa terperangkap ke mbid’ah. 
Misalnya: nabi
memang berpoligini tetapi istri-istrinya yang dipoligini itu sudah tua dan
korban perang yang memang membutuhkan bantuan nafkah untuk bertahan hidup. 

Itupun nabi lakukan setelah istri pertama wafat. Sementara tren poligini
sebagian kelompok umat Islam dewasa ini mengawini perempuan-perempuan aduhai
semlohai molek geboi. Kalau yang ini sih bukan “nyunah nabi” tapi
“nyunah pir’aun”

Lucunya, sejumlah kelompok Islam
pengklaim hobi nyunah dan anti mbid’ah atau “bidengah” itu justru
sering melakukan perbuatan bid’ah sambil teriak-teriak anti mbid’ah.

Misalnya: mereka menyebarkan poster,
selebaran, atau tulisan-tulisan di spanduk kalau wayang atau seni ini-itu
bid’ah. Lah memangnya bikin poster dan spanduk itu bukan mbid’ah?

Mereka teriak-teriak pakai toa kalau
perbuatan ini-itu itu bidengah? Lah emangnya pakai toa bukan
“bidengah”?

Emangnya ritualan di monas bukan
bidengah? Emangnya sembahyang massal di jalan raya bukan bidengah? Emangnya
memakai aneka barang modern bukan bidengah? Emangnya makan nasbung, nasi uduk,
dan semor jengkol nggak bidengah? Emangnya makan pakai sendok-garpu nggak
bidengah? 

Emangnya pemilu dan pilpres nggak bid’ah? Emangnya sistem khilapah
nggak bid’ah? Emangnya pakai kondom nggak mbid’ah?
๐Ÿ˜ฑEmangnya emangnya…

Lucunya lagi, perbuatan nyunah malah
dianggap mbid’ah. Misalnya semedi atau bertapa di gua atau gunung. Dulu nabi
kan suka nyepi dan semedi di gua atau gunung (misalnya gua hiro atau gunung
nur).

Related Posts