Jihad Santri Milenial dalam Menjaga Islam dan Negara - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Selasa, Maret 19, 2019

Jihad Santri Milenial dalam Menjaga Islam dan Negara

arifbudiman/redaksi

Penulis: Moh Syahri

Atorcator.Com - Sangat menarik, ketika harus mengamati dinamika perjuangan santri. Perannya kepada pembangunan bangsa di tengah-tengah pergumulan berbagai kepentingan yang kadang saling berbenturan banyak dipertanyakan oleh orang-orang. Kemampuannya pun banyak yang meragukan. Mampukah santri tetap bertahan pada kepolosan dan kemurnian nuraninya dalam upaya menciptakan peradaban santri yang dinamis, mandiri, dan agamis di tengah maraknya nilai-nilai perilaku yang berseberangan dengan nilai-nilai agama dan kepribadian bangsa?

Maka perlu kiranya sebagai santri untuk selalu menjaga integritas dan penjaga moral di jagad raya ini. Citra buruk yang banyak dipredikatkan kepada santri harus diluruskan. Santri harus pro-aktif dalam menangkal radikalisme dan kebobrokan nilai para pejabat negeri. Santri harus berani mengambil kembali bagian dalam menghadirkan pemahaman agama yang inklusif, ramah dan benar. Santri merupakan salah satu fasilitator yang cukup nampak perannya ketika proses pembentukan dan pembangunan bangsa (nation-building). Santri sangat “legowo” menerima usulan masyarakat Indonesia wilayah timur untuk tidak menerapkan “syari’at sebagai dasar negara”. Ini menunjukkan bahwa santri tidak hanya paham dalam hal keagamaan tapi juga memiliki wawasan kebangsaan.

Sejak dulu, santri selalu ingin tahu akan kebenaran dan ingin pula menegakkan kebenaran dengan tanpa harus menutup mata dengan kenyataan status sosial yang hidup dan sebuah realitas yang terlihat kasat mata dan terukur secara indriawi. Karenanya sikap santri selalu mengambil jalan tengah, tidak miring kanan dan tidak miring kiri, dalam mengatasi permasalahan yang berbeda. Sebab perbedaan pandangan itu bagian dari sunnatullah yang perlu kita ekplorasi dan kembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Indonesia Sarungan

Dengan demikian, santri harus memiliki format baru dalam menjaga keutuhan bangsa ini dari penjarahan kaum radikal dengan melakukan reposisi dan mereaktualisasikan diri dalam menangkal radikalisme dan perusak agama, bangsa dan negara. Peci dan sorban tidak lagi menjadi identitas permanen bagi seorang santri. Maka baju politisi, ekonom, cendikiawan, teknokrat, dan budayawan harus dikenakan. 

Dan ini menjadi kekuatan baru untuk menjaga moralitas dan stabilitas bangsa dan negara dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama yang humanis. Karena mempraktekkan nilai-nilai agama yang humanis adalah merupakan perhatian Islam kepada dimensi akhlak yang merupakan buah dari keimanan

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra, yang Artinya:

“Keimanan itu ada enam puluh sekian atau tujuh puluh sekian bagian dan yang tertinggi adalah ‘La ilaha illah’ (tidak ada tuhan selain Allah) dan yang terendah adalah menyingkirkan sesuatu yang menyakitkan (seperti, batu, diri, dan lainnya) dari jalan, dan itu adalah bagian dari keimanan”


Santri tidak akan pernah pensiun sampai kapanpun. Keterlibatan dalam mengomunikasikan dan menyosialisasikan pengetahuan dan khazanah keilmuan terus ditunggu oleh bangsa dan negara. Jangan pernah terlena dan ambisi berlebihan dengan panggung politik praktis sehingga peran utama sebagai santri tergeser bahkan cenderung tak tersentuh.


Wallahu a’lam