Jihad Santri Milenial dalam Menjaga Islam dan Negara

arifbudiman/redaksi
Penulis: Moh Syahri


Atorcator.Com – Sangat
menarik, ketika harus mengamati dinamika perjuangan santri. Perannya kepada
pembangunan bangsa di tengah-tengah pergumulan berbagai kepentingan yang kadang
saling berbenturan banyak dipertanyakan oleh orang-orang. Kemampuannya pun
banyak yang meragukan. Mampukah santri tetap bertahan pada kepolosan dan
kemurnian nuraninya dalam upaya menciptakan peradaban santri yang dinamis,
mandiri, dan agamis di tengah maraknya nilai-nilai perilaku yang berseberangan
dengan nilai-nilai agama dan kepribadian bangsa?

Maka perlu kiranya sebagai santri untuk
selalu menjaga integritas dan penjaga moral di jagad raya ini. 
Citra buruk yang
banyak dipredikatkan kepada santri harus diluruskan. Santri harus pro-aktif
dalam menangkal radikalisme dan kebobrokan nilai para pejabat negeri. Santri
harus berani mengambil kembali bagian dalam menghadirkan pemahaman agama yang
inklusif, ramah dan benar. Santri merupakan salah satu fasilitator yang cukup
nampak perannya ketika proses pembentukan dan pembangunan bangsa (
nation-building).
Santri sangat “
legowo” menerima usulan masyarakat Indonesia wilayah
timur untuk tidak menerapkan “syari’at sebagai dasar negara”. Ini menunjukkan
bahwa santri tidak hanya paham dalam hal keagamaan tapi juga memiliki wawasan
kebangsaan.

Sejak dulu, santri selalu ingin tahu
akan kebenaran dan ingin pula menegakkan kebenaran dengan tanpa harus menutup
mata dengan kenyataan status sosial yang hidup dan sebuah realitas yang
terlihat kasat mata dan terukur secara indriawi. Karenanya sikap santri selalu
mengambil jalan tengah, tidak miring kanan dan tidak miring kiri, dalam
mengatasi permasalahan yang berbeda. Sebab perbedaan pandangan itu bagian dari sunnatullah yang
perlu kita ekplorasi dan kembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Indonesia Sarungan

Dengan demikian, santri harus memiliki
format baru dalam menjaga keutuhan bangsa ini dari penjarahan kaum radikal
dengan melakukan reposisi dan mereaktualisasikan diri dalam menangkal
radikalisme dan perusak agama, bangsa dan negara. Peci dan sorban tidak lagi
menjadi identitas permanen bagi seorang santri. Maka baju politisi, ekonom,
cendikiawan, teknokrat, dan budayawan harus dikenakan. 

Dan ini menjadi kekuatan
baru untuk menjaga moralitas dan stabilitas bangsa dan negara dengan tetap
berpegang teguh pada nilai-nilai agama yang humanis. Karena mempraktekkan
nilai-nilai agama yang humanis adalah merupakan perhatian Islam kepada dimensi
akhlak yang merupakan buah dari keimanan

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda
dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra,
yang Artinya:

“Keimanan itu ada enam
puluh sekian atau tujuh puluh sekian bagian dan yang tertinggi adalah ‘La ilaha
illah’ (tidak ada tuhan selain Allah) dan yang terendah adalah menyingkirkan
sesuatu yang menyakitkan (seperti, batu, diri, dan lainnya) dari jalan, dan itu
adalah bagian dari keimanan”


Santri tidak akan pernah pensiun sampai
kapanpun. Keterlibatan dalam mengomunikasikan dan menyosialisasikan pengetahuan
dan khazanah keilmuan terus ditunggu oleh bangsa dan negara. Jangan pernah
terlena dan ambisi berlebihan dengan panggung politik praktis sehingga peran
utama sebagai santri tergeser bahkan cenderung tak tersentuh.


Wallahu a’lam

Related Posts