Jokowi Memang Cerdik - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Rabu, Maret 27, 2019

Jokowi Memang Cerdik

tempo

Penulis: Nurbani Yusuf 
(Komunitas Padhang Makhsyar)

Atorcator.Com - Jokowi bukan hanya kuat, cerdas dan petarung pemberani. Tapi juga politisi cerdik ---petarung yang baik adalah membuat lawan tak lagi leluasa bisa meninju--kata Kho Ping Hoo dan itulah Jokowi.

Keliru jika kita berpikir ott Romi bakal berpengaruh terhadap elaktabilitas. Sebaliknya penangkapan Ketua PPP justru punya banyak arti. Ia bisa memanfaatkan nya sebagai peluang sekaligus alat untuk menjaga elaktabilitas. Jokowi bisa memposisikan diri sebagai pemimpin yang tak tebang pilih. Hukum harus ditegakkan meski terhadap kawan penyokong koalisi. Pada sisi lain Jokowi bisa meredam ambisi partai-partai koalisi untuk tidak banyak menuntut.

Romahurmuzi dan Cak Imin merepresentasi basis masa Islam kultural yang loyal sekaligus punya massa besar untuk memenangi Pilpres. Dua politisi ini kalau bergabung akan menjadi kekuatan yang signifikan. Terbukti dalam menentukan pilihan ca-Wapres, Jokowi dipaksa harus mengalah dan menahan diri untuk mengurungkan Prof Mahfudz yang sudah lama ia gadang tapi gagal di injure time adalah bukti bahwa peran Romi dan Cak Imin sangat cerdik dan ulet.

Efek ganda lainnya adalah agar setiap anggota koalisi berpikir tentang masa depan partainya. Loyalitas dan kolektifiyas harus dikedepankan bukan hanya berpikir tentang pembagian kue politik hasil Pilpres seperti PKB yang minta jatah puluhan mentri atau lainnya. Sinyal ini penting diberikan agar setiap partai tidak hanya berhitung tentang pendapatan partai pasca Pilpres. Dengan begitu para koalisi tak lagi bisa meninju atau menagih janji politik seenak hati.


Kepada anggota koalisinya, Jokowi sedang menunjukkan bahwa dirinya 'tahu semua rahasia' jadi jangan macam-macam. Jokowi juga sedang mengatakan bahwa dirinya menguasai medan tempur dan sumber logistik yang di dapat semua partai. Jokowi menguasai dan tahu semuanya. Ini poin penting untuk menjinakkan koalisi agar tak banyak cakap. Bandingkan dengan kegagalan Prabowo meredam tagihan PKS soal jabatan Wagub DKI yang terkatung-katung hingga saat ini. Sebab Prabowo bukan seniman politik yang bisa keluar dari kesulitan--sebaliknya malah terkesan melepas kepada putusan partai. Putusan nya agar diselesaikan pasca Pilpres juga gampang ditebak.

Lebih jauh--Jokowi juga sedang berusaha mengerem laju ghirah politik Islam yang terus menguat. Setidaknya laju kekuatan politik Islam tidak harus dihadapi sendirian. Tapi ada partai Islam lain yang ada padanya sehingga ada justifikasi untuk melawan. Sokongan ini penting mengingat kekuatan politik Islam progresif terus menguat.

Jokowi adalah petarung cerdik menguasai medan politik sekaligus punya skill menjinakkan lawan politik dengan cara yang kerap tidak di duga. Jadi jangan pernah meremehkan apalagi memberi ruang untuk berkelit,

Realitasnya, politik memang bukan hanya soal adu kekuatan atau idealisme merawat kejujuran atau ketulusan---di dunia politik agaknya tak dibutuhkan. Pada demokrasi transaksional, kita tak perlu Abu Hasan Al Asy'ary yang jujur dan suka mengalah sebab yang kita butuhkan adalah politisi cerdik sekelas Amru bin Ash.
Wallahu ta'ala a'lm

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar