Sekolah dan Kesombongan Intelektual


(Penulis buku best seller PERADABAN SARUNG dan KONDOM GERGAJI)

“Anda punya kuas dan kanvas, Anda bisa melukis surga dan lalu memasukinya” (ADZ)
Apakah pelajaran terpenting yang Anda dapatkan di bangku sekolah dan perguruan tinggi? Matematika, ilmu-ilmu eksak dan statistik, ilmu pelet, ilmu menjadi gila, ilmu bahasa asing, ilmu jual-beli agama, ilmu menjadi begundal dan bromocorah, atau bahkan ilmu tipu-tipu dan memark-up anggaran?

Jauh dari congkaknya gedung-gedung perkuliahan yang menjemukan, kehidupan di alam nyata telah mengajarkan apa yang sekolah tidak atau belum ajarkan, bahkan jauh sebelum sekolah ala Belanda menjadi standar kita. Sebab itu, mata kuliah terpenting yang didapat dari kampus kehidupan adalah kesulitan. Semakin meninggi tingkat kesulitan menjalani hidup, kian membubung pula nilai tambah (barakah) yang diperoleh.

Kekacauan hidup jarang menghinggapi orang-orang sederhana dengan pola pikir dan pola sikap yang sederhana pula. Penyakit-penyakit aneh dan mengerikan yang hanya ada di planet Neptunus tidak pernah menghinggapi orang miskin. Kesulitan menjalani hidup, Anda tahu, bahkan lebih sering dialami oleh meraka-mereka yang cerdas di kelas dan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi. Apa sebab? Meraka “hanya” memindahkan isi buku menjadi isi kepala, bukan mencerdasinya menjadi ketangguhan menjalani hidup. Schooling System telah mencetak manusia manjadi mesin, manjadi bagian dari pabrik, bukan manusia merdeka yang inklusif dan merakyat.

Semantara itu, bagi rakyat jelata dan wong cilik, tidak perlu lagi merakyat atau dididik menjadi rakyat, karena memang mereka sudah rakyat. Sekolah modern telah mencabut akar-akar primordial manusia bahwa pejabat pun—tadinya, dan atau di luar jam kantor—adalah rakyat. Sehingga, sekolah dan kampus-kampus favorit penjual mimpi dan reputasi gila semakin jauh dari rakyat. Tanpa kesadaran bahwa sekolah dibuat untuk rakyat jelata dan kaum tersisih, sekolah hanya akan melahirkan para penindas dan penjilat. Menindas ketika di atas, menjilat ketika di bawah, dan berteriak lantang jika tidak kebagian jatah korupsi.

Dengan demikian, kesulitan ibarat bayi, sampai tua bangkapun ia akan terus menyusu kalau dibiarkan menyusu, sebaliknya ia akan tumbuh dewasa jika segera disapih dari ibunya. Pendek kata, bayi tergantung siapa yang merawat, begitu pula kesulitan—anak singa bisa bermental kambing jika diasuh kawanan kambing dan biri-biri. Lantas, bagaimana membangun reputasi setelah sadar seberapa bayi kita, seberapa dewasa kita, seberapa kambing atau singakah kita?

Jika keunggulan dan reputasi yang ingin Anda peroleh, maka, pikirkan itu sesering mungkin! Semakin sering Anda melihat citra diri Anda dalam pikiran, tak lama kemudian, Anda akan melihatnya dalam kenyataan. Demikianlah hukum alam bawah sadar, apa yang kita pikirkan akan semakin memuai dan membesar. Apa sebab? Keunggulan adalah sesuatu yang kita dapat dari latihan dan kebiasaan, bukan di sekolah. Seseorang akan disebut unggul jika ia telah melakukan segala sesuatu berulang kali, sampai menjadi watak dan kepribadiannya. Pun juga pikiran, semakin sering memikirkan satu hal, kian memuai dan melebar hal itu seiring waktu.


Lantas, bagaimana sikap kita? Jangan pernah menghindar dan apalagi lari dari kesulitan sebagaimana diajarkan di sekolah selama ini. Memang, dalam hidup ini tidak ada yang pasti. Namun demikian, Anda harus berani memastikan apa-apa yang ingin Anda raih, bahkan sejak dalam pikiran, sejak memulai hari ketika bangun tidur.

Dalam ilmu pengetahuan, kesalahan selalu mendahului kebenaran. Oleh sebab itu, 99 kali kesimpulan Anda bisa salah dan keliru, barulah yang ke-100 benar.

Sementara itu, dalam kehidupan, tindakan Anda tidak harus didahului oleh pengetahuan. Anda boleh sama sekali tidak tahu dan sungguh-sungguh tidak tahu terhadap tindakan itu apa dan bagaimana serta dalam rangka apa. Sembari bertindak itulah Anda belajar, pada saat yang sama, Anda telah mendewasakan diri jauh lebih cepat dari siapapun yang makan bangku sekolah di muka bumi ini. Inilah The Power of Kepepet.

Namun demikian, hanya ada satu bukti dari kemauan dan kesungguhan, yakni tindakan! Tindakan adalah pikiran yang bergerak. Tindakan adalah bukti dikabulkannya doa-doa. Dan, tindakan adalah upaya agar kita tetap menjadi manusia, terus bergerak dinamis dan fleksibel. Sayangnya, sekolah belum sungguh-sungguh mengajarkan bagaiamana caranya bertindak (sebagai manusia).

Pejabat dan koruptor yang tak tahu malu adalah produk sekolah, artis dan sosialita bermazhab selangkangan adalah produk sekolah, media-media massa genti dan lebay pun produk sekolah, ilmuwan menara gading dan intelektual yang acuh pada rakyat juga lulusan dari sekolah, kriminalitas yang dipoles seindah mungkin juga karena sekolah, narkoba dan kekerasan sudah satu paket dengan sekolah, industri dan cara berpikir teknokratis juga produk sekolah, kemajuan infrastruktur yang hanya berpihak para pemodal adalah hasil dari sekolah, para makelar dan pialang juga lulusan sekolah, popularitas palsu dan reputasi semu adalah pelajaran utama di sekolah, rakyat yang gampang dibodohi dan diingusi juga produk sekolah. Tetapi, apakah kejujuran itu produk sekolah? Apakah kejernihan batin memandang persoalan adalah produk sekolah?

Pada dasarnya, hidup itu sederhana, bahkan sering kali jauh lebih sederhana dari yang Anda dan saya bayangkan, namun, seringkali sekolah yang membuatnya menjadi sulit dan bahkan lebih rumit dengan birokrasi yang melingkar dan berputar-putar. Lantas, jika dulu sekolah 4-5 jam saja telah sukses menjauhkan anak bangsa dari kemanusian dan jatidiri keindonesiaan, bagaimana dengan sekolah seharian (Full Day School) yang penuh kepongahan dan kesombongan intelektual itu? FDS hanya bualan orang bangun tidur yang tiba-tiba jadi kernet / kondektur dari kendaraan dan supir yang ia sendiri tidak tahu mau ke mana.


Nah, jika hidup Anda terasa terlalu gaduh oleh teknologi modern dan knalpot-knalpot pikiran yang diiming-imingi oleh sekolah, apabila deru mesin-mesin keseharian Anda sudah terlalu bising memekakkan telinga karena sekolah sedemikian gila dan tak terjangkau, sudah saatnya untuk mengecilkan volume di kepala Anda dengan menyederhanakan pola pikir, dan kecilkan volume di dada Anda dengan menyederhanakan prinsip dan pola sikap.

Akhirul kalam, Anda boleh saja lulus dari sekolah, tapi dari kehidupan, Anda harus terus belajar. Cobalah untuk belajar sesuatu tantang segala sesuatu dan segala sesuatu tentang sesuatu, sampai Anda dapati bahwa diri Anda sama sekali bukan sesuatu, karena tidak ada sesuatu yang lebih sesuatu kecuali Dia yang Maha Sesuatu. Prinsip semacam ini hanya ada di pesantren dan pendidikan non formal lainnya. Mengapa? Karena sekolah hanya mengajarkan kecerdasan teknokratis, bukan kecerdasan emansipatoris yang membebaskan dan memanusiakan manusia.

Salam Takzim, semoga sekolah kita lekas merdeka!


Sumber Foto: Detik.com

Related Posts