Apa yang Kita Lakukan Jika Prabowo Kalah

Surya



Penulis: Nurbani Yusuf


Atorcator.Com – Jika premisnya adalah: Pilpres 2019 adalah kesempatan terakhir bagi umat Islam, sebab jika kalah–islam bakal dihinakan bahkan dihilangkan dari bumi pertiwi–maka pertanyaan besarnya adalah–apa yang kita lakukan jika Prabowo kalah–


**^^*
Simpulan ceramah Prof Din menarik di simak : ‘Jika kekuatan Politik Islam formal yang diwakili Partai-partai Politik Islam tidak bisa memenangkan Pemilu 2019, maka 5 thn lagi keadaan umat Islam di Indonesia semakin lebih sulit dan jika itu terus berlangsung  sampai 10 thn ini, maka umat Islam di Indonesia ini tidak akan tersisa kecuali tinggal nama”.


Pernyatan Prof Dien memang mengandung ambivalensi apakah sebagai pernyataan politis atau akademis hasil riset. Dan saya lebih cenderung itu pernyataan jurkam salah satu capres untuk di menangkan. Meski saya kemudian agak bingung kembali dengan sebutan partai-partai Islam ? Apakah PKS atau PAN. Lantas sejak kapan, PAN menjadi partai Islam ? Atau Gerindra dan Demokrat berkalung surban ?


Merujuk pada pernyataan Prof Din akan mengandung banyak soal prinsip yang harus segera di sikapi secara konkret–bukan hanya di wacana. Atau hanya semacam kasak-kusuk tapi tiada aksi yang bisa dilakukan untuk membuat Islam tetap eksis, syukur bisa berjaya.


*^^*
Isu terhadap pelenyapan Islam dari bumi Indonesia memang sudah berlangsung sejak lama. Nama-nama seperti Beni Mordani, Soedomo dan terakhir Luhut Panjaitan, Hendro Priyono dan Wiranto dikalangan militer. Kemudian ada dua bersaudara Yusuf Wanandi dan Sofyan Wanandi pendiri dan thinkthank CSIS dan James Riyadi, Eka Cipta Wijaya dari kalangan pengusaha taipan. Dan Yacob Oetama dan Hari Tanoe dari pengusaha pers.


Tak kalah ngeri, sinergi gerakan Kresten dan Katholik fundamentalis semacam Hasto, Maruar Sirait dan Adian Napitupulu kerap menghiasi benak sebagai orang-orang yang dianggap punya potensi besar melemahkan bahkan menghilangkan Islam di Indonesia. Semuanya bersarang di PDIP. Sebagai partai yang secara sah dianggap musuh umat Islam.  Kecemasan ini kemudian diubah menjadi energi oleh kelompok Islam politik untuk mendapat kekuasaan.


Mungkin kita perlu mengingat masa lampau. Bukankah selama 350 tahun kita dijajah kompeni hendak di-Kresten-kan. Para misionaris dari Vatikan dan negeri Eropa di kerahkan, dan gagal total … Islam tetap berjaya. Masjid tumbuh subur–para santri kian pintar.


*^**
Saya tak pernah tahu apakah kongsi satu partai Islam (PKS) yang di dukung ijtima ulama, Partai nasionalis religius (PAN) dan dua partai nasionalis sekuler (Gerindra dan Demokrat) yang menyokong Padi adalah kongsi untuk memenangkan Prabowo-Sandi sebagai capres atau sampai pada tingkatan penegakan syariah Islam?


Lantas bagaimana pula harus meniadakan keberadaan partai-partai berbasis Islam militan semacam PBB, PPP dan PKB yang mendukung Jokowi, ditambah Kyai Ma’ruf yang ada pada posisi paling krusial sebagai Wapres yang merepresentasi ulama.


Politik memang tak semudah matematika dan hitung apapun soal politik selalu dinamis. Lantas apakah dengan mudah menyatakan Islam bakal lenyap atau melemah jika Prabowo-Sandi kalah dalam Pilpres–masih patut diuji secara empiris agar tidak melahirkan kegelisahan umat di akar rumput.


Yang nampak mengemuka adalah—politik ideologis kian menguat. Pertarungan Islam politik –nasionalis–abangan dan Kresten-Katholik fundamentalis dengan berbagai varian mulai masuk di ruang terbuka. Pun di internal umat Islam sendiri juga tak bisa dihindari, firqah-firqah kecil–semakin kuat dan beringas. Bertarung saling mengalahkan.


*^^*
Tapi saya malah berpikir sebaliknya–Pilprex 2019 adalah awal kebangkitan politik umat Islam di tanah air. Dua kubu capres didukung dan melibatkan peran aktif para politisi muslim militan. Di kubu Prabowo ada ijtima ulama yang di dukung Islam garis lurus dengan tidak menyebut radikal–di kubu Jokowi ada Kyai Ma’ruf Amin yang di dukung Islam moderat dengan tidak menyebut Islam nusantara. Maka siapapun yang jadi Presiden pemenangnya adalah umat Islam. Sebab kedua kubu sama-sama merepresentasi umat Islam—jangan pernah risau, Muhammadiyah dan NU bahkan telah ada sebelum NKRI lahir dan akan tetap menegakkan syariat Islam hingga akhir.


Kembali pada pernyataan awal–apa yang kita lakukan jika capres yang kita dukung kalah .. ..
Wallahu ta’ala a’lam


@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Related Posts