Berhijab Kok Dianggap “Hijrah” Hijrah Gundulmu

dream

Penulis: Sumanto Al Qurtuby
(Antropolog budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi) 


Atorcator.Com – Sebagian kelompok Islam unyu-unyu di Indonesia sering kali
mengaitkan hijab dengan “hijrah”. Kata “hijrah” disini
bukan berarti “migrasi fisik” dari Makah ke Madinah atau dari tempat
yang kurang menguntungkan ke daerah yang lebih aman, sebagaimana makna asalnya.
Tetapi, menurut mereka, “migrasi non-fisik” dari suatu keadaan atau
perbuatan yang mereka anggap “tidak Islami” ke suatu keadaan atau
perbuatan yang mereka imajinasikan sebagai “Islami” atau
“syar’i”.
Implementasi kata “hijrah”
ini cukup beragam di masyarakat. Di India dan Pakistan, kata “hijrah”
itu merujuk ke kaum wadam, waria, bencong, dan transgender, yaitu kaum yang
penampilan fisik luarnya tampak bak “perempuan sejati” tetapi kalau
kencing mereka berdiri karena punya titit.
Bagaimana bisa berhijab bisa
dikatakan sebagai “hijrah iman” (dari non-Muslim ke Muslim) atau
dianggap atau dijadikan sebagai ukuran kualitas keimanan, keislaman, dan
kesyar’ian seseorang sementara orang berhijab itu motivasinya banyak sekali,
dan banyak pula kelompok non-Muslimah yang berhijab karena menganggap sebagai
bagian dari identitas keagamaan dan kebudayaan mereka?
Seperti yang sudah sering kali saya
jelaskan, yang berhijab itu bukan hanya Muslimah saja tetapi juga berbagai
kelompok etno-agama lain. Banyak sekali perempuan Yahudi ortodoks, Kristen
ortodoks, Yazidi, Druze, Maronite, Koptik, Assyro-Chaldean, Aramean, Armenia,
dlsb, di Timur Tengah yang juga mengenakan hijab karena menganggapnya sebagai
bagian dari “identitas kultural-tradisional” mereka, meskipun tentu
saja ada juga yang tidak memakainya karena itu pilihan masing-masing individu.
Menariknya, banyak kaum Muslimah
Alawi di Suriah malah tidak berhijab karena menganggapnya tidak wajib. Foto di
bawah ini adalah salah satu contoh kecil perempuan Kristen Arab di Bethlehem
dengan pakaian tradisional mereka.
Bukan hanya itu saja. Orang berhijab
itu motivasinya cem-macem: ada yang karena sungkan atau malu dengan saudara,
teman, tetangga, mertua, menantu; ada juga yang terpaksa memakai karena
ikut-ikutan rombongan di klub pengajian; yang lain memakai hijab karena
mengikuti tren zaman saja; yang lain lagi memakai hijab karena ingin pamer
desain hijab modis teranyar; ada pula yang berhijab sebagai
“kamuflase” untuk menutupi dan mengelabui “perilaku yang sebenarnya”.
Misalnya, banyak tuh perempuan tlembuk atau begenggek yang berhijab. Banyak
juga perempuan-perempuan koruptor busuk yang berhijab. Terus hijrah kemana
mereka?
Jadi, mau berhijab silakan saja
bebas merdeka karena itu hak berbusana masing-masing individu tetapi tak perlu
berimajinasi atau berkhayal yang aneh-aneh: supaya lebih Islami-lah, lebih
syar’i-lah, “lebih hijri”-lah, “lebih hidayati”-lah, dlsb.
Kualitas keberimanan dan
keberagamaan seseorang itu bukan diukur dari pakaian tetapi dari hati serta
perilaku individual dan sosial mereka. Saya sendiri berpendapat, di ruang
publik, menutup rambut kepala itu penting-nggak penting. Kalau menutup jembut
baru penting.
๐Ÿ˜ฑ๐Ÿค”



Baca juga



Related Posts