Hanya Butuh Presiden yang Pro Rakyat, Bukan Pro Kepentingan Asing



Penulis: Santri Kiri


Atorcator.Com – Hari menuju puncak demokrasi tinggal menghitung hari. Janji-janji sudah banyak diumbar sebagai alasan untuk berkampanye. Entah nantinya janji itu akan benar-benar teralisasi sesuai dengan yang dikampanyekan atau ada revisi janji dengan bungkus yang berbeda namun dengan substansi yang sama atau justru tidak sama sekali terelisasi dengan nyata sehingga bisa dikatakan sebagai pengingkar janji. Kita tunggu saja. 


Namun sebelum puncak demokrasi itu digelar, alangkah baiknya jika kita melihat dan menganalisis kembali janji yang telah diumbar oleh kedua paslon presiden. Yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia itu apa? 


Pertama, pendidikan. Dengan adanya prediksi, masuknya bonus demografi di Indonesia seharusnya grade pendidikan kita harus lebih kita tingkatkan. Pendidikan tentu saja harus memiliki orientasi nasionalisme. Bukan pendidikan yang di-orintasikan pada kebutuhan global. Seringkali kita menyerah pada kebutuhan global yang cenderung mengarah pada pemenuhan nafsu kaum kapitalis global. Sebut saja dengan adanya SMK. Bukan rahasia umum bahwa adanya SMK adalah menjadikan pemuda-pemuda yang siap kerja bukan pemuda yang siap untuk mencetak lapangan pekerjaan. 


Nampaknya dunia pendidikan kita telah terinveksi virus berbahaya bagi bangsa kita sendiri. Virus itu bernama kapitalis. Dunia pendidikan yang seharusnya berfungsi sebagai pencetak orang-orang berpengatuhan dan mampu mengamplikasikannya dalam kehidupan, justru haru takluk dengan cukup mendapatkan ijazah sebagai legalitas untuk bekerja. 


Keduaยธekonomi. Lagi-lagi, sadar atau tidak ,sistem ekonomi kita nampaknya terlampau jauh hanya untuk pemenuhan nafsu kapitalis global. Bangunan ekonomi kita dinilai kuat oleh IMF tapi apakah sadar bahwa IMF sudah lama dikuasai oleh kaum kapitalis. Yang kita butuhkan adalah, ekonomi yang benar-benar pro-rakyat bukan sistem ekonomi yang pro-kapitalis global. Maka jangan heran, saat ini banyak investor-investor  asing dengan mudahnya membangun usaha di sana-sini sedang usaha milik rakyat sendiri kalah saing karena sudah kalah modal. 


Ketiga, agraria. Jangan pernah menghiraukan satu hal ini. Akhir-akhir ini issu agraria sangat sulit untuk kita dengar dilayar kaca media Indonesia. Pembangunan tambang, pembangunan infrastruktur yang menggusur lahan produktif, tercekiknya para petani oleh sistem, mungkin hanya akan didengar dan disuarakan oleh segelintir orang, adanyapun tidak seberapa. 


Indonesia sudah lama melakukan impor bahan pangan pada Negara yang notabenenya bukan Negara dengan luas lahan yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan Indonesia dan ini bukan rahasia lagi. Kedaulatan pangan harus segera di tegakkan. 


Demikianlah anilisis yang penulis bisa lakukanlah kurang lebihnya penulis pasrahkan semua pada pembaca yang budiman. Selanjutnya penulis persilahkan menyaksikan kembali pamflet kampanye pada gambar diatas. Sekian dan terimakasih.

Related Posts