Kawal Pemilu Kita: Jangan Sampai Salah Sujud Syukur


Penulis: Maulana
M. Syuhada

Atorcator.Com –
Tadi pagi saya buka WA group, seorang teman mengabarkan kalau
kemarin di WA keluarga besarnya ada yang “left” grup dan sekalian pamit tidak
akan ikut arisan keluarga, yang berarti Idul Fitri ini akan berkurang satu
keluarga. Sedih sekali memang. Pilpres kali ini memang benar-benar
memecah-belah masyarakat hingga ke level keluarga.
Salah satu akar
utama perpecahan ini, menurut hemat saya, adalah Pilpres 2014. Kampanye hitam
dan maraknya hoax dengan skala yang “massive” (dahsyat) baru terjadi di Pilpres
2014. Hoax pasti ada di setiap pemilu, tapi belum pernah se-dahsyat Pilpres
2014. Jokowi dihantam berbagai kampanye hitam, mulai dari Jokowi anti islam,
memiliki nama asli Hebertus, dikendalikan oleh kelompok Kristen, keturunan
Cina, bapaknya adalah Oey Hong Liong, dibacking cukong-cukong Cina, Jokowi itu
agen Zionis, agen Freemason, agen Amerika, agen Syiah, agen komunis,
ibu-bapaknya PKI, Jokowi gagal di Solo, Jokowi mengkhianati sumpah jabatan, dan
seabreg tuduhan lainnya [1] .
Kalau
dikerucutkan, dua fitnah yang sangat sering dilekatkan ke Jokowi adalah Jokowi
anti Islam dan keturunan PKI. Strategi kampanye yang diterapkan adalah
menghasut masyarakat Muslim agar mereka percaya bahwa Jokowi adalam musuh
Islam, sehingga timbul kebencian kepada Jokowi. Bisa dibayangkan jika kampanye
kebencian ini ditebarkan secara massive oleh para kader dan simpatisan partai
yang suka berda’wah yang sangat fanatik dan militan, maka tidak mengherankan
jika banyak masyarakat Muslim percaya kalau Jokowi itu adalah musuh Islam.
Kebohongan yang
terus didengungkan secara berulang-ulang di masyarakat, lambat-laun akan
terlihat sebagai kebenaran. Contoh yang paling gamblang dan telanjang akan hal
ini adalah ketika  Raja Dangdut, Haji Rhoma Irama menyebarkan fitnah bahwa
orang tua Jokowi adalah Kristen dalam ceramahnya di Masjid Al-Isra, Tanjung
Duren, Jakarta Barat [2]. Berikut kutipan ceramah Rhoma:
“Jokowi Muslim,
tapi orangtuanya Kristen, suku bangsanya Jawa. Ahok suku bangsanya Cina,
agamanya Kristen. Ini harus dijelaskan bahwa siapa pemimpin agar kita memilih
pemimpin tidak seperti beli kucing dalam karung” [3].
Namun Rhoma
merasa tidak bersalah, karena ia menganggap bahwa ia hanya menyebarkan tuduhan
orang. Dan yang lebih mencengangkan, ia menganggap bahwa internet adalah sumber
yang valid sebagaimana ia sampaikan di acara ILC TV One, “Rhoma Menggoyang
Sara” [4].
“Yang saya
katakan adalah Jokowi itu orang tuanya Kristen. Dan ini pun saya dapat dari
internet. Jadi bukan semata-mata dari pengetahuan saya, tapi internet yang beredar
seperti itu. Jadi sifatnya, saya mendapatkan informasi yang luas di masyarakat.
Ini berita yang sangat meluas yang umum. Di internet ini kan VALID boleh
dibilang. Di seluruh, dimana-mana, di FB, di twitter, seperti itu.”
Jadi memang
benar, kebohongan yang terus diulang-ulang dan menyebar luas di masyarakat akan
terlihat sebagai suatu kebenaran. Kalau orang seperti Rhoma saja menganggap
bahwa berita yang telah beredar luas di FB dan twitter adalah valid (saya
sarankan pembaca menonton videonya [4]), lantas bagaimana masyarakat di akar
rumput. Tak mengherankan kalau hoax dan fitnah tumbuh subur di masyarakat kita.
Dan ini dimanfaatkan secara maksimal untuk mengkampanyekan kebencian kepada
Jokowi. Pesan yang disampaikan ke masyarakat adalah Jokowi musuh Islam, maka
mereka yang mengaku beragama Islam harus memilih Prabowo.
Ketika
propaganda ini disampaikan oleh para kader dan simpatisan yang fanatik secara
konsisten dari masjid ke masjid, dari satu pengajian ke pengajian, satu rumah
ke rumah lainnya, hinga masuk ke lingkungan keluarga, baik offline maupun
online via sms, media sosial dan whatsapp; diserukan oleh seleb medsos semacam
Jonru, dan diamplifikasi oleh portal-portal penyebar hoax berkedok Islam
seperti PKS-Piyungan, VOA Islam, dsb. [5]; maka tak terelakkan lagi, masyarakat
percaya, bahwa Jokowi adalah musuh Islam.
Tidak
mengherankan jika ketiga emak-emak di Karawang yang melakukan kampanye hitam
door-to-door beberapa waktu yang lalu, memang percaya bahwa jika Jokowi menang
maka tidak akan ada lagi adzan dan pernikahan sesama jenis akan dilegalkan [6].
Begitu pula dengan seorang ibu simpatisan PKS yang melakukan kampanye hitam di
Makassar [7]. Ia yakin bahwa Jokowi adalah musuh Islam dan coba meyakinkan
masyarakat dari rumah ke rumah.
“Kita pikirkan
nasib agama kita, anak-anak kita, walaupun kita tidak menikmati. Tapi lima
tahun, sepuluh tahun yang akan datang ini, apakah kita mau kalau pelajaran
agama di sekolah dihapuskan oleh Jokowi bersama menteri-menterinya? Itu kan
salah satu programnya mereka. Yang pertama, pendidikan agama dihapuskan dari
sekolah-sekolah. Terus rencananya mereka itu, pesantren itu akan menjadi
sekolah umum,“ ujarnya.
Mereka yang
berkampanye dari rumah ke rumah ini yakin bahwa mereka sedang berjihad untuk
Islam, sedang berjuang melawan Jokowi yang anti Islam, sedang membela agama
Islam. Sungguh mereka sama sekali tidak berjuang untuk Islam. Mereka sejatinya
tengah berjuang untuk memenuhi hawa nafsu sekelompok orang yang mencoba
menggapai kekuasaan dengan menghalalkan segala cara [1].
Puncak Hoax
pada Pilpres 2014 adalah ketika PKS mengumumkan hasil real count Pilpres 2014
dengan hasil kemenangan untuk Prabowo-Hatta. Setelah diselidiki ternyata hasil
real count yang diterbitkan oleh PKS angka-angkanya persis dengan hasil Polling
yang dilakukan PKS pada 5 Juli 2014, atau empat hari sebelum Pemilu [8],
sehingga hasil real count PKS tersebut diduga palsu sebagaimana diberitakan
oleh Republika [9], padahal Prabowo dan Hatta sudah melakukan sujud syukur
kemenangan di depan pendukungnya. 
Lembaga-lembaga
survei yang melakukan quick count mulai dari RRI, Lingkaran Survei Indonesia,
Litbang Kompas, CSIS, Indikator Politik Indonesia, Populi Center, Saiful Mujani
Research Center, semuanya melaporkan kemenangan Jokowi-JK [10].
Memang ada
empat lembaga survei yang melaporkan kemenangan Prabowo-Hatta (Puskaptis,
Indonesia Research Center, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara
Indonesia), namun kredibilitasnya dipertanyakan oleh para pakar [11]. Bahkan
Hanta Yudha, salah satu nara sumber yang paling populer di TV-ONE, membatalkan
kontraknya dengan TV-ONE karena pada tanggal 9 Juli pagi, tiba-tiba ada tiga
lembaga survei baru yang bekerja sama dengan TV-ONE. Benar apa yang diduga,
ketiga lembaga itu melaporkan kemenangan Prabowo-Hatta. Malam harinya Hanta
Yudha, mengumumkan hasil quick count Poltracking (lembaga survei yang
dipimpinnya) di METRO TV, dimana Pasangan Jokowi-JK unggul dengan 53.37%,
sementara Prabowo-Hatta hanya 46.63%. Berkenaan dengan batalnya pengumuman
hasil Poltracking di TV-ONE, Hanta Yudha berkata ia sama sekali tidak kecewa,
malah cukup bahagia dengan keputusannya [12].
Melihat gelagat
koalisi Prabowo-Hatta yang tidak mau mengakui kekalahannya, padahal quick count
lembaga-lembaga survey sudah memberikan kemenangan kepada Jokowi-Jk (kecuali
lembaga survey yang disiarkan TV-ONE), hal ini cukup mengkhawatirkan. Apalagi
PKS tidak tinggal diam dan mengklaim bahwa hasil yang mereka peroleh bukan lagi
cuma quick count seperti yang dilakukan lembaga survey tapi sudah REAL COUNT. Beginilah
jadinya kalau sebuah partai ikut kontestasi Pemilu tapi tidak siap untuk kalah,
maka segala cara akan dihalalkan.
KPU memerlukan
waktu sekitar 2 minggu untuk bisa menyelesaikan real count secara manual. Di
tengah kegundahan ini, muncul ide jenius dari seorang ahli IT Indonesia yang
tinggal di Singapura bernama Ainun Najib. Ia tahu bahwa foto scan formulir C1
hasil pemilu dari setiap TPS diunggah ke website KPU dan bisa diakses oleh
publik. Maka timbulah ide untuk melakukan real count berdasarkan formulir C1
tersebut. Ainun bersama empat orang rekannya, Felix Halim (California, AS),
Andrian Kurniady (Sydney, Australia), Ilham W.K. (Kaiserlautern, Jerman) dan
Fajran Iman Rusadi (Amsterdam, Belanda) membangun situs kawalpemilu.org [13].
Dengan dibantu sekitar 700 relawan, Kawal Pemilu berhasil menyelesaikan
rekapitulasi formulir C1 di 478.828 TPS [14].
Real count yang
dilakukan oleh Kawal Pemilu ini hasilnya sama dengan hasil real count yang
diterbitkan oleh KPU, yaitu 53,15% untuk Jokowi-JK dan 46,85% untuk
Prabowo-Hatta [15]. Terbukti sudah bahwa Real Count PKS hanya isapan jempol
belaka, dan quick count yand disiarkan TV-ONE adalah quick count “abal-abal”.
PKS bukan hanya membohongi Prabowo, tapi membohongi seluruh rakyat Indonesia.
Dan netizen pun melabeli TV-ONE dengan sebutan TV “Oon” (bodoh) dengan
slogannya “memang beda” karena memang beda sendiri hasil quick count-nya. Kita
harus berterima kasih kepada Ainun Najib dan tim Kawal Pemilu yang bisa
menyajikan real count alternatif sebelum real count resmi diterbitkan oleh KPU.
Untuk
mengantisipasi adanya Real Count sesat lagi seperti yang pernah diterbitkan PKS
pada Pilpres 2014, maka keberadaan Kawal Pemilu pada Pilpres 2019 ini menjadi
penting. Masyarakat membutuhkan hasil real count yang kredibel sambil menunggu
hasil real count resmi yang dihitung secara manual oleh KPU. Apalagi sudah ada
usaha-usaha yang mencoba untuk mendelegitimasi Pemilu, seperti hoax tujuh
kontainer surat suara yang sudah dicoblos [16], hoax server KPU di Singapura
disetting memenangkan Jokowi-Amin dengan perolehan 57% [17], hingga yang
terakhir kasus surat suara yang sudah tercoblos di Malaysai [18].
Kawal Pemilu
kembali hadir di Pilpres 2019. Namun berbeda dengan lima tahun yang lalu, Kawal
Pemilu kali ini akan melakukan real count berdasarkan formulir C1 Plano yang
akan difoto oleh para relawan. Ada kurang lebih 890 ribu TPS di seluruh
Indonesia, karenanya Kawal Pemilu memerlukan banyak sekali relawan untuk bisa
memotret seluruh TPS se-Indonesia. Ini adalah kesempatan kita untuk
berkontribusi langsung mengawal hasil Pemilu.
Tugas relawan
sangat mudah, ia hanya perlu memotret formulir C1 Plano di TPS tempatnya
mencoblos (dan sekitarnya jika memungkinkan) dan mengunggahnya ke website Kawal
Pemilu. Tak perlu waktu lebih dari 15 menit, untuk memotret formulir C1 Plano
dan mengunggahnya. Hal yang sangat sederhana, dan bisa dilakukan oleh siapapun
yang mau berkontribusi. Siapapun bisa menjadi relawan, baik pendukung 01
ataupun 02. Semua hasil di Kawal Pemilu transparan dan bisa diakses secara
publik.
Saya pribadi
sudah mendaftar sebagai relawan Kawal Pemilu. Jika teman-teman ingin ikut
berpartisipasi, tinggal daftar melalui link berikut:
Perlu 35 hari
bagi KPU untuk menyelesaikan real count. Kawal Pemilu sebagai real count
alternatif yang netral dan transparan diharapkan dapat sedikit banyak meredam
kegelisahan dan gejolak yang mungkin timbul selama menunggu hasil resmi dari
KPU.
Mari kita bantu
pemerintah untuk mengawal pelaksanaan Pemilu dan juga hasilnya!
Maulana M.
Syuhada
PS: Jangan lupa
tonton video Rhoma Irama, supaya paham pola pikir mereka yang meyakini hoax
sebagai sebuah kebenaran! [4] 🙂
Foto: Detiknews
REFERENSI
[1] Ketika
Kampanye Hitam Gagal Menghentikan Orang Baik (13 Juli 2014)
[2] PANWASLU
KUMPULKAN BUKTI CERAMAH SARA RHOMA IRAMA (Youtube, 2 Agustus 2012)
[3] Ini isi
ceramah Rhoma yang diduga berbau SARA (Sindo, 9 Agustus 2012)
[4] Ketika
Ibunda Jokowi di bilang kristen sama Rhoma Irama,ini tanggapan bp.jokowi
(Youtube, 9 Apr 2019)
[5] Masyarakat
Rumor, Budaya Rumor: Mempertanyakan Integritas Wartawan (Bagian 1) (1 Juli
2014)
[6] Video ‘Jika
Jokowi Terpilih, Tak Ada Lagi Azan’ Tuai Kontroversi, 3 Wanita Diamankan ke
Polda Jabar (Youtube, Tribunwow Official, 24 Feb 2019)
[7] INI WAJAH
EMAK PKS SEBAR KAMPANYE HITAM (Youtube, 5 Mar 2019)
https://youtu.be/8HsZmxmzs2k
[8] Ini Hasil
Real Count oleh PKS di 33 Provinsi (Merdeka.com, 10 Jul 2014),
[9] Real Count
PKS diduga palsu (Republika, 11 Jul 2014),
[10]
“Quick Count”, Ini Hasil Lengkap 11 Lembaga Survei (Kompas, 9 Juli
2014)
[11]
Kredibilitas “Quick Count” yang Menangkan Prabowo-Hatta Dipertanyakan
(Kompas, 9 Juli 2014)
https://money.kompas.com/read/2014/07/09/191233326/Kredibilitas.Quick.Count.yang.Menangkan.Prabowo-Hatta.Dipertanyakan
[12] Survei
Poltracking Batal Disiarkan Sebuah Stasiun TV (Youtube, Metrotvnews, 9 Juli
2014)
[13] Guarding
Indonesia’s election (in their spare time) (Google Asia Pacific Blog, 11 Aug
2014)
[14]
[INTERVIEW] Ainun Najib: kawalpemilu.org ‘Kehendak Ilahi’ (Global Indonesian
Voices, 20 Jul 2014)
[15] Ini Hasil
Resmi Rekapitulasi Suara Pilpres 2014 (Kompas, 22 Jul 2014)
[16] Terdakwa
Hoax 7 Kontainer Surat Suara Berpose Dua Jari (Tempo, 4 Apr 2019)
[17] KPU
Dituding “Setting” Server, Jokowi Disebut Menang 57 Persen hingga
Lapor ke Polisi (Kompas, 5 Apr 2019)
[18] KPU: Surat
Suara Tercoblos di Malaysia Tidak Dihitung (Detik, 14 Apr 2019)

Related Posts