Ketika Sains Ditentang Dan Ulama Dijadikan Alat Politik - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Minggu, April 21, 2019

Ketika Sains Ditentang Dan Ulama Dijadikan Alat Politik




Penulis: Maulana M. Syuhada

Atorcator.Com - Quick count merupakan metode ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan secara sains, dan sudah teruji di berbagai negara. Sebuah hal yang lumrah jika kontestan pemilu baik perorangan maupun partai mendeklarasikan kemenangan, mendeklarasikan kekalahan, ataupun memberikan selamat kepada pemenang, berdasarkan Quick Count, karena memang ada justifikasi ilmiah di belakangnya. Lagi, lagi, dan lagi, sejarah membuktikan bahwa hasil Real Count selalu sama dengan Quick Count. Di Indonesia pun sama, dari tiga Pilpres sebelumnya (2004, 2009, 2014) semua hasil Quick Count selalu sama dengan Real Count [1], kecuali hasil Real Count ‘abal-abal’ dari tiga lembaga survei ‘dadakan’ yang ditayangkan TV ONE pada Pilpres 2014 yang memenangkan Prabowo-Hatta [2].

Pada Pilpres 2019 ini, setidaknya ada 12 lembaga survei yang memenangkan Jokowi dengan hasil Quick Count yang relatif sama di kisaran angka 54-55% [3]. Lembaga-lembaga survei ini terdaftar dalam perhimpunan lembaga survei dan sudah diverifikasi KPU [4].

Sedangkan hasil yang memenangkan Prabowo hanya sebuah Real Count internal BPN Prabowo-Sandi, dengan angka 62% untuk kemenangan Prabowo [5]. Jadi kondisinya adalah satu Real Count internal melawan 12 Quick Count lembaga independen. Probabilitas 12 lembaga survei independen bersama-sama melakukan kesalahan amatlah sangat kecil. Namun mengapa yang mendeklarasikan kemenangan justeru Prabowo?

Jokowi sudah memberikan teladan dengan tidak mendeklarasikan kemenangan, dan meminta masyarakat agar bersabar menunggu hasil KPU. Walaupun secara "sains" ia punya hak untuk deklarasi.

Sebaliknya, Prabowo walaupun kalah justeru mendeklarasikan kemenangan (bahkan hingga tiga kali), melakukan sujud syukur [6], dan mendeklarasikan dirinya sebagai presiden,

“Saya akan dan sudah menjadi presidennya seluruh rakyat Indonesia” [7].

Ia juga menuduh bahwa hasil Quick Count berbagai lembaga survei yang memenangkan Jokowi telah dimanipulasi,

"Ada upaya dari lembaga-lembaga survei tertentu yang kita ketahui memang sudah bekerja untuk satu pihak, untuk menggiring opini seolah-olah kita kalah"[8].

Ia menggelari lembaga survei sebagai “Tukang Bohong” dan meminta mereka untuk pindah ke Antartika [9],

"Hei tukang bohong-tukang bohong, rakyat tidak percaya sama kalian. Mungkin kalian (lembaga survei) harus pindah ke negara lain. Mungkin kau bisa pindah ke Antartika. Mungkin kalian tukang bohong, hei lembaga survei bohong, kau bisa bohongi penguin-penguin di Antartika" [10].

Para ulama pun dikerahkan untuk meyakinkan masyarakat bahwa Prabowo sedang dicurangi dan meminta masyarakat untuk tidak percaya kepada hasil survei. Para ulama berkumpul di rumah pemenangan BPN Prabowo Sandi di Jl. Kertanegara. Dalam video berdurasi 8 menit, sepuluh ulama mengukuhkan kemenangan Prabowo Sandi dan meminta agar masyarakat tidak mempercayai survei yang beredar [11]. Salah satunya adalah Habib Muhsin Ahmad Alatas. Berikut kutipan pernyataannya,

"Jihad konstitusi kita sudah menang, akan tetapi kita menghadapi sebuah golongan, sebuah kaum yang tidak punya rasa malu, tidak punya rasa takut kepada Allah SWT,  karena sebetulnya mereka tidak punya agama tidak percaya kepada Tuhan."

"Oleh karenanya itu, maka kita harapkan ikhwan sekalian, para mujahidin yang sedang memperjuangkan konstitusi, dan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan, dan dari komunisme dan dari liberalisme, bahwa kita ini sudah menang, dan kemenangan itu sudah kita raih pada hari ini, dan jangan percaya dengan kaum atheis, yang tidak percaya dengan agama. Mereka tidak punya malu dan tidak punya dosa"[11].

Beginilah jadinya jika ulama sudah dieksploitasi oleh politik. Alih-alih, memperjuangkan kebenaran dan memberikan kesejukan kepada masyarakat, mereka justeru mengobarkan api kebencian dan meyakinkan masyarakat bahwa mereka sedang berjihad melawan rezim yang tidak percaya kepada Tuhan. Mereka menyalahgunakan gelar ulama mereka untuk membodohi masyarakat.

Saya jadi teringat akan khutbah Jum’at minggu lalu yang disampaikan oleh Dr. H. Irfan Syafrudin (Ketua Bidang Tarbiyah, Persatuan Islam). Beliau menjelaskan tafsir surat Al-Ankabut ayat 2-3, bahwa manusia akan diuji oleh Allah SWT, tidak peduli kedudukannya, apakah ia seorang tukang sapu, profesor ataupun ulama yang bergelar Kyai Haji. Sejarah mencatat banyak alim ulama yang tidak lulus ujian ini, seperti Ar-Rajjal bin Unfuwah, ahli agama yang sangat cerdas, yang diutus untuk berdakwah kepada penduduk Yamamah tempat berkuasanya Nabi palsu, Musailamah Al-Kazzab. Namun sejarah mencatat ternyata ia terperdaya dan mengakui kenabian Musailamah. Contoh lainnya adalah dua sahabat Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, yaitu Ibnu as-Saqa' yang murtad setelah diutus ke kerajaan Romawi dan Ibnu Abi Ushrun yang jatuh dalam gemerlap dunia karena terlena jabatan. Mereka ini adalah para alim yang ahli agama, hafizh Quran dan sangat cerdas, namun tidak lulus ujian dari Allah SWT. Beliau menegaskan bahwa ujian itu diberikan Allah SWT kepada setiap manusia, terlepas dari kedudukan dan kealimannya.

Kecuali Rasul SAW, tidak ada satu pun manusia yang luput dari kesalahan. Karenanya ‘taklid buta’ (mengikuti pemimpin secara buta) dilarang dalam Islam. Abu Bakar r.a. dalam pidato pertamanya saat dilantik menjadi khalifah berkata, “Jika aku benar, maka ikutilah aku. Jika aku salah, maka luruskanlah aku”. Abu Bakar r.a. yang merupakan Khalifah pertama saja mengakui, kalau ia bisa saja berbuat salah, dan meminta bantuan kepada rakyatnya untuk mengoreksinya jika ia keliru. Jika level Abu Bakar saja begitu rendah hati, maka ustad-ustad, para alim ulama yang ada sekarang, tentunya juga tidak serta-merta luput dari kesalahan. Kita diberikan nalar dan pikiran serta hati sebagai kompas batin, untuk ber-iqra kepada setiap kejadian dan peristiwa.

Andaikan Prabowo bisa se-ksatria Grace Natalie yang begitu melihat hasil Quick Count, langsung mengakui kekalahan PSI [12], mungkin kita tidak perlu terus terpecah-belah seperti sekarang ini.

"Menurut quick count, PSI mendapat 2%. Dengan perolehan itu, PSI tidak akan berada di Senayan lima tahun ke depan”, ujar Grace Natalie dalam surat tertulis berjudul 'Setelah Kami Kalah' [13]. Hal yang sama dilakukan oleh Ahok, ketika mengetahui beliau kalah dalam Quick Count Pilkada DKI. Tak menunggu besok, malam harinya Ahok langsung menggelar konferensi pers, menerima kekalahan dan memberikan selamat kepada Anies dan Sandi [14]. Berikut kutipan pidato Ahok,

“Ke depan kami ingin semua lupakan persoalan selama kampanye dan Pilkada karena Jakarta ini rumah kita. Kita harus bangun bersama. Kami masih ada 6 bulan sampai pelantikan. Kami akan bekerja dengan cepat dengan baik, meletakkan dasar-dasar. Kami berusaha melunasi PR PR janji kami. Tentu tidak mungkin selesai PR PR itu. Kita harapkan Pa Anies dan Pa Sandi bisa meneruskan dengan baik.”

“Dan kepada pendukung kami, kami mengerti pasti sedih, kecewa, tapi tak apa-apa, percayalah bahwa kekuasaan itu Tuhan yang kasih dan Tuhan yang ambil. Jadi tidak ada seorang pun bisa menjabat tanpa seizin Tuhan.”

“Jadi semua tidak usah terlalu dipikirkan! Jangan sedih! Tuhan selalu tahu yang terbaik, karena kekuasaan itu dari Tuhan” (video lengkapnya di sini! [15]).

Alangkah indahnya seandainya pidato Ahok di atas bisa menjadi pidato Prabowo dalam konteks Pilpres 2019. Menerima kekalahan, menyelesaikan PR yang ada, dan menenangkan pendukungnya untuk tidak bersedih, dan berserah diri kepada Tuhan.

Saat Pilkada DKI, pada malam yang sama, Prabowo mendeklarasikan kemenangan Anies-Sandi berdasarkan Quick Count, ya betul berdasarkan Quick Count,

“Baru saja kita dapat berita bahwa 90% dari Quick Count sudah masuk dan menunjukkan bahwa DKI Jakarta mendapat Gubernur dan Wakil Gubernur baru”, ujar Prabowo [16].

Jadi sebetulnya Prabowo percaya kepada keilmiahan metode quick count. Namun beliau hanya siap menang dan tidak siap kalah. Terbukti, pada akhirnya hasil Real Count KPU [17] pada Pilkada DKI sama dengan hasil Quick Count lembaga survei [18], yaitu 57-58% untuk kemenangan Anies-Sandi.

Real Count yang sekarang sedang dihitung oleh KPU pun ujung-ujungnya akan sama dengan hasil Quick Count lembaga survei. Kalau tidak sama, berarti ada penemuan baru dalam dunia ilmu statistika, dan ini akan menggegerkan dunia ilmu pengetahuan, karena akan men-challenge teori-teori statistika yang sudah ‘established’. Dan kemungkinan hal tersebut terjadi, amatlah sangat kecil.

Saya yang sudah dicekokin statistika sejak kuliah di ITB dulu, sangat mudah menerima teori bahwa "Real Count hasilnya akan sama dengan Quick Count" (taken into account margin of error). Apalagi dalam kasus Pilpres 2019 ini, 12 lembaga survei independen menunjukan hasil yang sama.

Sandiaga Uno pun pasti tahu bahwa Real Count akan sama hasilnya dengan Quick Count. Karenanya wajah Sandi lesu dan terus menuduk sepanjang deklarasi kemenangan [19] . Keesokan harinya, selepas sholat Jumat, Sandi terus diam seribu bahasa walaupun ratusan pendukungnya mengelu-elukannya. Ketika keluar dari Masjid At-Taqwa, ia hanya tersenyum, menembus kepungan massa dan langsung memasuki mobilnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun [20].
Jadi baik Prabowo maupun Sandi, keduanya percaya pada Quick Count. Namun Prabowo tidak legowo, ia malah nekat melampaui kewenangan KPU dan mendeklarasikan dirinya sebagai “Presidennya seluruh rakyat Indonesia” [7].

Permasalahan yang terjadi saat ini adalah Prabowo dan koalisinya nekad ingin berkuasa walaupun tahu mereka kalah. Segala cara dihalalkan termasuk menentang sains. Jadi kita akan dipaksa masuk ke dalam masa kegelapan, dan segala nalar sedang diputar-balikan. Pembodohan berjamaah ini memang mengerikan sekali, apalagi mempertaruhkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Dengan modal sentimen agama, dan dukungan ulama-ulama (yang sudah terhasut), dan pasukan kader dan simpatisan partai yang solid dan militan dalam menyebarkan hoax di akar rumput, mereka "setidaknya" hingga sekarang, masih akan tetap nekat untuk melanjutkan gerakan rusuh, pembodohan nalar dan logika demi mencapai kekuasaan.

Di sini sebetulnya peran para ulama populer seperti Ustad Abdul Somad (UAS), Ustad Adi Hidayat (UAH) dan Aa Gym, yang menjelang Pilpres kemarin menemui Prabowo dan memberikan dukungannya. Rakyat Indonesia memerlukan bantuan ketiganya untuk memberitahu Prabowo agar legowo menerima kekalahan ini. Ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dari ketiganya yang sudah memberikan ‘endorsement’ kepada masyarakat untuk memilih Prabowo.

Dampak kerusakan dari polemik ini sangat dahsyat dan berefek-panjang bagi tatanan masyarakat kita. Masyarakat bukan hanya dimatikan nalarnya, tapi sudah terpecah-belah hingga level keluarga. Rakyat di akar rumput, termasuk teman-teman kita, terus menerus bertempur, saling nyinyir, saling benci dan saling hujat. Bukan hanya produsen dan penyebar hoaks yang sangat sibuk, tapi para pemadam hoax pun harus dibuat super sibuk untuk mengklarifikasi dan memadamkan penyebaran hoax agar tidak meluas. Kita semua sudah sangat capek, baik secara fisik maupun mental. Jadi, saya mengajak teman-teman yang punya akses langsung kepada Prabowo, untuk meminta beliau agar legowo dan menyudahi polemik ini, jika ia masih cinta terhadap tanah air Indonesia.

Pada Pilpres 2014, PKS pernah membohongi Prabowo dan seluruh rakyat Indonesia dengan Real Count sesat [21][22]  yang hasilnya bertolak belakang dengan hasil resmi KPU [23][24]. Mungkin inilah saatnya bagi PKS untuk menebus kesalahan itu dengan meminta Prabowo untuk legowo menerima kenyataan yang ada dan tidak terjerumus ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Kita semua memang menunggu hasil resmi dari KPU, namun alangkah eloknya untuk tidak mendeklarasikan diri sebagai presiden dan terus-menerus mengompori rakyat bahwa mereka sedang dicurangi, mereka sedang dibohongi oleh lembaga-lembaga survei yang berusaha menggiring opini bahwa Prabowo kalah.

Wallahu’alam.

REFERENSI

[1] Dituduh Bohong Menangkan Jokowi-Ma'ruf, 8 Lembaga Survei Buka Data Quick Count (Merdekan, 20 Arp 2019)

[2] Kredibilitas "Quick Count" yang Menangkan Prabowo-Hatta Dipertanyakan (Kompas, 9 Juli 2014) https://money.kompas.com/read/2014/07/09/191233326/Kredibilitas.Quick.Count.yang.Menangkan.Prabowo-Hatta.Dipertanyakan

[3] Jokowi: Quick Count 12 Lembaga Survei Jokowi-Ma'ruf Menang 54,5 Persen (inews, 18 Apr 2019)

[4] Ini Daftar 40 Lembaga Terverifikasi KPU yang Gelar 'Quick Count' Pemilu 2019 (Merdeka, 16 Ape 2019)

[5] Prabowo Deklarasikan Kemenangan Didepan Pendukungnya NET24 (YOutube, NET, 17 Apr 2019)

[6] Klaim Menang 62% Berdasarkan 'Real Count', Prabowo Takbir dan Sujud Syukur (Youtube, TV One, 17 April 2019)

[7] Prabowo: Saya Akan dan Sudah Jadi Presiden Rakyat Indonesia (Kompas, 17 Apr 2019)

[8] Prabowo Klaim Menang, Tuduh Lembaga Survei Curang (BeritaSatu, 17 Apr 2019)

[9] Prabowo Sebut Lembaga Survei Berbohong Hasil Hitung Cepat Pilpres (Tirto, 19 Apr 2019)

[10] Setelah 3 Kali Klaim Menang, Prabowo Adakan Syukuran (Youtube, CNN Indonesia, 19 Apr 2019)

[11] Begini Cara Melawan Sihir Pemilu menurut Para Ulama (Youtube, MySharing TV, 17 Apr 2019)

[12] Grace Natalie Akui 'Kekalahan' PSI (Detiknews, 17 Apr 2019)

[13] Setelah Kami Kalah (Situs Resmi PSI, 17 Apr 2019)

[14] Ahok-Djarot Ucapkan Selamat untuk Anies-Sandi (Detiknews, 19 Apr 2017)

[15] Merinding! Inilah Pidato Kebesaran Hati Ahok Atas Kemenangan Anies Sandi (Youtube, 19 Apr 2017)

[16] Deklarasi Kemenangan Hitung Cepat Anies-Sandi di Rumah Prabowo (Youtube, Berita Satu, 19 Apr 2017)

[17] Hasil Final "Real Count" KPU: Anies-Sandi 57,95%, Ahok-Djarot 42,05% (Kompas, 20 Apr 2019)

[18] Ini Hasil Akhir Quick Count 4 Lembaga Survei untuk Pilkada DKI Putaran Kedua (Kompas, 19 Apr 2019)

[19] Prabowo Deklarasi Kemenangan Lagi, Sandi Hadir Sambil Terdiam (Berita Satu, 18 Apr 2019)

[20] Disambut Massa Pendukung, Sandiaga Uno Bungkam Seribu Bahasa (Youtube, TV One, 19 Apr 2019)

[21] Real Count PKS diduga palsu (Republika, 11 Jul 2014)

[22] Ini Hasil Resmi Rekapitulasi Suara Pilpres 2014 (Kompas, 22 Jul 2014)

[23] Ini Hasil Real Count oleh PKS di 33 Provinsi (Merdeka.com, 10 Jul 2014)

[24] Kawal Pemilu Kita: Jangan Sampai Salah Lagi Sujud Syukur (15 Apr 2019)