Nasihat-Nasihat Syeikh Abdul Qadir Jailani - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Sabtu, April 13, 2019

Nasihat-Nasihat Syeikh Abdul Qadir Jailani

NU online

Penulis: Prof. Rochmat Wahab

Atorcator.Com - Kita tentu tidak asing dengan Syeikh Abdul Qadir Jailani, yang nama lengkapnya adalah Muhyidin Abu Muhammad ‘Abdul Qadir Ibnu Abi Shalih Janki Dausat Al-Jailani (470–561 H) (1077–1166 M). Nasabnya bersambung sampai Sayyidina Hasan bin Ali, cucu Rasulullah saw.  Nama beliau sering disebut oleh golongan Sunny setelah Muhammad Rasulullah saw dalam berdoa. Begitu tingginya maqam Syeikh Abdul Qadir Jailani. Beliau adalah seorang ulama fiqih yang sangat dihormati oleh Sunni dan dianggap wali dalam dunia tarekat dan sufisme. Beliau adalah orang Kurdi atau orang Persia. Syeikh Abdul Qadir dianggap wali dan mendapatkan penghormatan besar oleh kaum Muslim yang tidak hanya dari wilayah India, melainkan seluruh dunia.

Memang banyak sahabat, tabi’iin, tabiit taabi-‘iin, dan ‘Alim ulama yang nasihat-nasihatnya bisa kita ikuti. Namun untuk kesempatan ini sengaja diangkat sejumlah nasihat Syeikh Abdul Qadir Jailani. Degan harapan kita tahu mana-mana nasihat utamanya dan mana masihat lain yang menyempurnakannya.

Syeikh Abdul Qadir Jailani terkenal sebagai ahli nasihat. Untuk membersihkan tauhid, meluruskan amalan syariah Islam, dan menyempurnakan akhlaq kita, serta menenangkan dan menyejukkan hati, mari kita ikuti nasihatnya yang sangat penting berikut ini:

1. Nasihat tentang Syirik.

Dalam bertauhid kita harus bebas dari syirik dzahir dan syirik batin. Syirik dzahir berbentuk menyembah berhala dan sejenisnya. Sedangkan syirik bathin terkait dengan menuhankan faham, menuhankan digital, takut pada pimpinan atau penguasa, meng-ilahkan lain dan sebagainya. Ingat bahwa syirik adalah dosa besar. Innasy syirka ladzulmun ‘adziim. Karena itu kita perlu ekstra hati-hati, ketika kita takut sesuatu atau memuji sesuatu, bisa-bisa menomerduakan Tuhan.

2. Nasehat terkait berpegang pada Alquran dan Sunah

Syariah Islam adalah syariah yang berdasarkan Alquran dan Sunah. Ummat Islam dalam menjalankan ibadahnya harus sesuai dengan Alquran dan Assunah. Keduanya merupakan jalan kita: Alquran jalan menuju Allah dan Sunah jalan menuju Rasulullah.  Setiap ibadah, kita seharusnya selalu didasarkan pada dalil naqli ini, tidak terlalu andalkan dalil aqli.

3. Nasihat untuk taqwa dengan ikhlas

Tiga hal mutlak bagi seorang mukmin, dalam segala keadaan, yaitu: (1) Harus menjaga perintah-perintah Allah swt, (2) Harus menghindar dari segala yang haram, dan (3) Harus ridha dengan takdir Allah Yang Maha Kuasa. Dengan mengamalkan ketiga hal ini secara istiqamah diyakini insya Allah iman, islam, dan ihsan kita akan terjaga.

4. Nasihat tentang Ulama yang buruk

Kita diharapkan berhati-hati, bahwa setiap era selalu dijumpai ada ulama yang buruk (ulama’ suu’) yang berfatwa berdasarkan hukum Allah swt. Namun karena pertimbangan lain, mereka suka berfatwa tetapi tidak melaksanakan apa yang difatwakan. “Kaburo maqtan ‘indallaahi antaquuluu maalaa taf ‘aluun” (QS Ashshaaf:3). Karena itu kita harus berhati-hati sekali terhadap ulama yang demikian. Walaupun kita juga tidak salah memberi perhatian terhadap fatwa ulama suu’, karena ada mahfudzaat “lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan”.

5. Nasihat tentang Tasawuf

Dalam mengamalkan tasawuf, seharusnya dimulai dari sanubari, hati, jiwa baru badan, bukan dibalik dari dzahir baru ke batin. Jika sanubari bersih, maka hati, jiwa, anggota tubuh, makanan, dan pakaian akan bersih pula. Kemudian, segala tingkah laku pun akan bersih. Ingat, Adhdhoohiru yadullu ‘Alal baathin”,

6. Nasihat tentang tawakkal

Pada hakekatnya tawakkal itu tidak menafikan ikhtiar atau bekerja. Bahwa berikhtiar dan bekerja wajib dilakukan. Bekerja dengan keras dan berkomitmen tinggi dengan kerahkan segala kemampuan. Setelah itu baru bertawakkal kepada Allah swt.  “..,dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-prang beriman bertawakkal” (Qs Al Maidah:11).


Nasihat-nasihat ini memperkuat ajaran yang selama ini kita dapatkan. Masih banyak bertebaran nasihat Syeikh Abdul Qadir Jailani bisa menjadi rujukan bagi kita untuk memperbaiki diri posisinya sebagai Abdullah maupun sebagai Khalifah di atas bumi. Tentu dalam menerapkan nasihat-nasihatnya kita harus sesuaikan dengan konteksnya, sehingga memiliki kebermaknaan. Hidup kita tidak pernah berhenti memghadapi masalah. Untuk hadapi masalah apapun, dengan rambu-rambu yang ada, kita manfaatkan nasehat-nasehat Syech Abdul Qadir Jailani, para Khulafaur Rasyidin, Sahabat, Tabi-‘iin wat Tabi-‘iin, Wali, dan ‘Alim Ulama. Semoga amalan kita tetap terjaga.