Padukan Hakikat dan Syariat

nu.or.id
Penulis: Ahmad
Maimun Nafis
Atorcator.Com –
Keindahan Islam salah satunya terletak pada seni memadukan segala
aspek di dalamnya seperti aspek akidah, syari’ah dan sebagainya. Kita dituntut
untuk meyakini satu paham teologi tertentu namun kita juga dituntut untuk
mematuhi aturan Syari’at.
. . . . . .
Contoh kecil:
1.     
Secara
teologis kita meyakini bahwa seluruh yang terjadi di alam raya ini adalah
bagian dari takdir Allah SWT. Dan sebagai muslim, kita wajib meridhoi dan
menerima segala keputusan takdir.
{
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ (49) } 
القمر[ 49
]
.
2. secara
syari’at kita diwajibkan untuk mengingatkan sesama.
{
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ}  آل عمران[ 110
]
. . . . .  . . .
Dari dua aspek
tersebut jika tidak dipadukan dengan baik hasilnya demikian.
.
1. Seorang
terlalu melihat aspek akidah saja akan berkata “walaaah… Sudah tidak
usah diingatkan, dia melakukan maksiat itu yaaa karena takdir Tuhan juga. Jadi
biarkan saja”. Semangat juang dalam hatinya redup.
.
2. Orang yang
terlalu ekstrim melihat syari’at malah sebaliknya, ia akan berjuang sekuat
tenaga untuk mengingatkan, menegur dan menghentikan kebiasaan buruk orang lain.
Gersang hatinya jika ia lupa bahwa yang merubah isi hati seseorang adalah sang
penguasa takdir, bukanlah dirinya.
. . . . . . .
Perpaduan yang
baik adalah kita tetap harus berusaha mengingatkan sesama. Namun di dalam lubuk
hati, kita perlu ingat bahwa kesalahan yang dilakukan orang lain adalah bagian
dari takdir, dan perubahan dalam diri orang lain juga bagian dari takdir.
….
Ia tidak akan
kecewa jika orang yang ditegurnya tidak mempedulikan karena ia sadar bahwa
tugasnya hanya mengingatkan bukan merubah seseorang. Dan ia tidak akan congkak
ketika seseorang bisa berubah sejak bertemu dirinya karena ia sadar perubahan
dalam diri orang lain adalah bagian dari kekuasaan takdir.
.
Sudah

Sumber: Status Facebook Maimun Nafis

Related Posts