Perhatikan Lima Hal Ini: Cara Cerdas Menonton Berita - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Kamis, April 18, 2019

Perhatikan Lima Hal Ini: Cara Cerdas Menonton Berita

Backpackernusantara

Penulis: Muhammad Ilham Fadli

Atorcator.Com - Beberapa hari yang lalu, Si Upik kembali mengutarakan keberatannya. "Saya tak ingin menonton berita-berita berkaitan dengan politik, bang. Lebih baik saya menonton sinetron. Masing-masing TV tak selamanya berimbang memberitakan sesuatu. Semuanya sudah partisan. Saling curiga mencurigai!".

Dik .... itu biasa.
Tinggal kamu lagi memilah dan memilih.
Mari abang jelaskan lima hal.

Pertama, kita akan menemukan media yang mengecilkan sebuah peristiwa. Sebenarnya besar. Implikatif. Menjadi perbincangan publik. Tapi tidak diberitakan dalam durasi waktu panjang. Tidak dikabari secara berulang-ulang. Atau ada pula media yang membesar-besarkan sebuah peristiwa. Padahal kita berfikir, peristiwa itu biasa-biasa saja, tapi di-format sedemikian rupa. Bombastis, jadinya.

Kedua, kamu pernah mendengar berita yang dibangun atau dikonstruksikan oleh beberapa media massa “mainstream” bahwa Saddam Hussein diserang oleh NATO, dengan Amerika Serikat sebagai yang “kepala sukunya”. Bush Junior (anaknya Bush Senior), mengatakan bahwa Saddam Hussein menyimpan senjata pemusnah massal. Jumlahnya teramat besar. Bila tidak dihentikan, maka Saddam akan jadi “epidemi”. Penyakit menular bagi kedamaian. Maka atas dukungan media massa, dibangunlah opini, bahwa Saddam ayah Uday Saddam ini memang menyimpan senjata pemusnah massal. Ketika operasi “pembebasan Irak” selesai, senjata pemusnah massal tak dijumpai. Lalu pertanyaan akan muncul, “data apa yang digunakan oleh beberapa media selama ini sehingga publik percaya bahwa Saddam Hussein menyimpan senjata pemusnah massal dan pantras untuk dihabisi?”.

Ketiga, kita akan menemui bahwa ada media massa yang berusaha membangun opini untuk membangun agenda tertentu. Mereka membangunnya dengan sengaja. Dikondisikan. Mereka akan menyuguhkan kepada kita berita-berita ataupun acara-acara yang berorientasi pada agenda mereka. Berkelanjutan. Berketerusan. Dengan segala corak dan rona rupa bentuk acara.

Keempat, kita tidak disuguhi oleh berita-berita yang sebenarnya penting bagi kita. Artinya, ada sebuah peristiwa yang sangat inspiratif, mengedukasi publik ..... tapi tidak diberitakan. Pada sisi lain, ada berita yang termasuk kategori “bad-news”, justru dikabarberitakan secara berulang-ulang.

Kelima, meyakinkan kepada publik bahwa mereka sebenarnya tidak berbohong. Tidak memiliki tujuan atau agenda tertentu. Lalu dibuatlah acara dengan mengundang informan, pengamat, dan beberapa peristiwa lapangan yang kemudian diberitakan. Tujuannya cuma satu, meyakinkan publik bahwa mereka tidak sedang membangun agenda (tertentu). Bahkan ada pula acara yang dibuat sedemikian rupa. Debat, contohnya. Hangat. Panas. Adu argumentasi yang transparan dengan dukungan data-data. Tapi pada akhirnya justru untuk mengukuhkan agenda yang awalnya ingin dibentuk.

Demikianlah, dik.

Makarit [maka karena itu] selalulah bangun daya kritis. Bukan daya kebencian. Bukan buruksangka membabi buta. Cerdaslah “memamah” berita. Berlatih terus untuk melakukan itu. Selalu pertanyakan, dalam konteks apa serta oleh siapa sebuah berita itu diketengahkan. Oleh media mana. Selalu tonton berbagai sumber berita. Selalu berdiskusi dengan berbagai pihak. Bisa jadi, kita melihat dari satu sisi, disisi lain, kita luput memperhatikannya. Justru pihak lain yang melihatnya. Buka ruang diskusi.