Pilpres: Hari Kemenangan Sudah Dekat

Tribun



Penulis: Yusuf Nurbani


Atorcator.Com – Produksi informasi palsu meningkat. Menutupi kekalahan yang sudah dekat—GM.


Dalam demokrasi, tidak jelas siapa yang bisa disebut menang. Pemilu mungkin bisa dianggap sebagai upacara merayakan tekad. Juga kerendah-hatian ditengah riuh. Atau juga semacam ikhitiar untuk menepati janji-janji dan maaf.


‘Pada saatnya saya harus ambil keputusan. Apakah membela keluarga atau membela suatu kesetiaan yang lebih tinggi dari sekadar kekeluargaan. Yaitu setia pada bangsa dan rakyat Indonesia,” kata Prabowo pada detik-detik menjelang kejatuhan Pak Harto.


Semua orang memang harus menentukan pilihan termasuk memilih Presiden untuk memimpin Indoenesia lima tahun ke depan. Bukan kemenangan umat Islam sebab ini bukan perang antar agama. Bukan pula kemenangan akal sehat atas si dungu atau kampret atas si cebong. Tapi kemenangan bangsa Indonesia. Kita sedang tidak memilih Presiden umat Islam. Atau pemimpin bagi sebagian elite agama, ras atau suku tertentu—kita memilih Presiden boeat semoea tanpa kecuali”.


*^^*
Berkatalah Khalifah Umar kepada Said, “Aku ingin memberimu amanah menjadi gubernur”.  Said menolak tawaran tersebut dengan alasan takut terjerumus ke dalam sebuah fitnah. Said berkata, “Jangan kau jerumuskan aku ke dalam fitnah, wahai Amirul Mukminin. Kalian mengalungkan amanah ini di leherku kemudian kalian tinggal aku.”  Khalifah Umar tetap berkeras, Said pun menerima dengan alasan ketaatannya kepada khalifah.


Hingga beberapa waktu datang delegasi dari Syam tempat di mana Said menjabat gubernur–menyampaikan beberapa catatan kebutuhan dan daftar orang miskin.  Khalifah Umar pun terkejut sebab nama gubernur Said ada pada deretan orang miskin. Awalnya Khalifah Umar mengira bahwa Said meminta gaji, tapi dugaan itu keliru.


Di rumah Gubernur Said sudah beberapa hari tidak ada api. Khalifah Umar meneteskan air mata, kemudian menaruh uang 1000 dirham. Berikan pada gubernurmu untuk menutupi kebutuhannya dan sampaikan salamku padanya–kata khalifah.


*^^*
Betapa terkejutnya Gubernur Said. Fitnah telah masuk ke rumahku hingga merusak akhirat ku, maukah kau bantu aku–kata Said kepada isterinya yang kebingungan. Kemudian berkata bahwa–Khalifah Umar telah mengirimkan sejumlah uang untuk menutupi semua kebutuhanku. Kemudian isterinya memanggil para kaum faqir dan membagi-bagikan uang itu untuk berbagai keperluan. Berbeda dengan para capres dan caleg yang membagi-bagi untuk memilih nya.


Sayangnya Gubernur Said tidak hidup di jaman sekarang. Di mana jabatan diperebutkan dan dikompetisikan. Meski yang berebut tetap mengaku tidak ingin pada jabatan itu. Lantas bagaimana mengukur ke-zuhud-an seorang calon pemimpin–jika setiap hari memamerkan kebaikan dirinya dan keburukan lawannya.


Politik perlu kerendah-hatian agar ketika menang tidak sambil menginjak. Kemenangan yang baik adalah sikap tidak saling membalaskan sakit. Tapi kesediaan menerima kekalahan sebagai sesuatu yang niscaya. Said Al Jumhi adalah contoh pejabat yang zuhud terhadap kekuasaan–ia bisa sewaktu-waktu menyerahkan amanah atau memberikan amanah kepada siapapun yang lebih baik darinya. Bukankah demokrasi hanya salah satu cara apalagi pungut suara terbanyak.


*^^*
Kemenangan itu bukan sesederhana mengalahkan atau sebuah cara membuat lawan tiada berdaya. Sebab jika demikian–kita sebenarnya sedang menanam benih perlawanan juga kebencian–karena kekalahan akan selalu membalaskan sakit … “.
Wallahu taala a’lam


@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Related Posts