Sedekah: Ketika Kita Bisa Menerima Maka Kita Harus Bisa Memberi



Penulis: Abdul Rosyidi



Atorcator.Com – Di dalam kelas filsafat ISIF, saya katakan Peradaban Barat dibangun atas kedigdayaan akal. Sementara di Timur, filsafat juga tentang hati dan semua potensi kemanusiaan.


Lalu entah kenapa saya kemudian cerita, Nadran dan Sedekah Bumi adalah lambang rasa syukur manusia pada Tuhan. Pada zat yang maha kuasa, yang memberi manusia kehidupan, memelihara bumi tempat kehidupan, dan yang melimpahkan rizki.


Ritual itu semacam bahasa simbolik dari kesadaran yang begitu dalam bahwa manusia hanyalah hamba. Yang tak punya kuasa tanpa kuasaNya. Sebuah laku kolektif yang mungkin susah untuk dipahami kita di zaman ini yang banyak melihat sesuatu dari aspek materialnya belaka.


Tapi bagi orang-orang di kampungku, Nadran dan sedekah Bumi itu semudah kita memahami bahwa kalau kita mengambil/menerima maka kita juga harus memberi.


Kalau kita setiap hari mengambil makanan dari laut dan bumi, maka sudah seharusnya kita juga memberi kepada yang punya laut dan bumi. Ini filsafat masyarakat kita dahulu kala.


Kearifan yang tak bisa dipahami dengan akal manusia sekarang yang mengeksploitasi alam untuk kepentingan pribadinya saja.


Katanya alam boleh dieksploitasi sehabis-habisnya untuk kepentingan manusia. Pemahaman yang tak pernah terlintas di benak manusia Nusantara.


Tapi itu dulu, sekarang kita juga ikut-ikutan mengeksploitasi alam dengan cara mereka. Ah.


Tiba-tiba saja salah satu mahasiswa bertanya, lalu bagaimana caranya kita membalas kepada zat yang sudah memberi kita terlalu banyak?


Setiap embusan nafas, denyut jantung, aliran darah, limpahan rizki, dan masih banyak lagi adalah pemberian Allah yang terlalu banyak untuk dibalas.


Manusia tidak akan pernah sanggup membalas kebaikan itu dengan setimpal. Bahkan jika mamusia menyembah sehari semalam lamanya.


Maka yang mungkin adalah membalas dengan laku simbolik, dengan ritual kepasrahan diri. Sebuah acara yang perlu ditata dengan makna-makna abstrak yang bersumber dari kepercayaan-kepercayaan masyarakat setempat. Nah itulah Nadran dan Sedekah Bumi.


Tapi masalahnya kita sudah sangat terbiasa melihat sesuatu hanya dari sisi materialnya belaka? Kita menyerapnya dari bangku-bangku sekolah yang berkiblat ke sana.


Ruhnya, semangatnya, nilai-nilai luhurnya, luput dari pandang.


Lalu muncullah mereka yang berpikiran tertutup yang melihat Nadran hanya dari aspek materialnya saja. Yang kasat matanya saja.


Kemudian dengan mengatasnamakan agama menuduh syirik dan tak ragu melakukan kekerasan. Aduh, kira-kira agama mana yang mengajarkan kekerasan? Tidak ada. Islam juga tidak.


Jadi kekerasan itu datangnya dari mana?[]

Related Posts