Sekolah Kita yang Kejam

wowkeren

Penulis: Arif Maftuhin

Atorcator.Com – Saya sebenarnya mau menulis ini sebelum kasus Audrey itu. Sebab
saya menulis karena apa yang saya dengar dari dua anak saya. Perempuan, satu di
SD dan satu di SMP.
Awalnya si kecil cerita soal
“persahabatannya” dengan dua temannya, sebut saja A dan B. Mereka
bertiga, menjadi semacam trio “sahabat”. Tetapi dia merasa salah satu
temannya itu, si B, hanya – dalam bahasa anakku – “memanfaatkan otakku dan
A”. Nah, saat si B tidak masuk, anakku dan A membahas soal itu dan mereka
berniat “putus” saja. Ya, itu kata yang dia gunakan, putus. Seperti
orang pacaran itu.
Saya bilang ke anak saya, nggak
perlu putus… Tetapi juga jangan eksklusif begitu. Semua teman adalah
“sahabat”. Dia bilang tidak bisa. Hampir semua anak di kelasnya itu
punya “sahabat” begitu. Yang lebih bermakna “geng”,
sebenarnya. Anakku bilang, “aku tu nggak mau jomblo.” Duh, ini lagi.
Istilah jomblo untuk mereka yang tidak punya geng.
Perlu diketahui, anak saya sekolah
di sekolah Islam yang memisahkan laki-laki dan perempuan. Jadi, ini murni
urusan persahabatan dan pemakaiannya yang menurut saya lebih rumit daripada
yang saya bisa pahami.
Percakapan kami didengar kakaknya
yang SMP. Saya tanya ke dia, apa yang begitu juga terjadi di sekolahnya.
Kecenderungan anak untuk bikin geng berbungkus “sahabat” itu. Si
kakak mengiyakan. Bahkan lebih parah karena terkadang menjurus ke solidaritas
yang memicu kekerasan antar teman, baik yang verbal maupun mental. Si kakak
bahkan bercerita sambil terisak. Nangis tetapi ia tetap berusaha menjelaskan
dengan rinci dunia pergaulan anak sekarang. Anak saya memegang teguh pesan kami
agar berteman dengan semua orang. Tak perlu teman khusus atau ngegeng. Ia tegar
tetapi ia juga sedih karena sikap begitu tidak populer. Ia, dalam bahasa si
adik, menjadi jomblo. Tak punya sahabat dan rentan menjadi korban fitnah yang
disebarkan geng geng yang tidak menyukainya.
Dari diskusi saya dengan dua anak
saya itu, saya koq ngeri sekali melihat sekolah sekarang. Geng (sahabat) itu
sudah seperti tribalism Arab pra Islam. Orang yang dikeluarkan dari suku sama
dengan dihukum mati. Dia tidak punya “wali” yang melindungi civil
rightnya.
Jadi, kembali ke kasus Audrey, itu
hanya secuil buah dari kejamnya struktur sosial di sekolah kita. Istri saya
guru SMA, belum lama ini juga harus berurusan dengan kasus
“tribalism” di sekolahnya. Geng yang lebih mengerikan lagi dari apa
yang diceritakan dua anak saya di level SD dan SMP.
Saya jadi ingin ketemu dan ngobrol
dengan Bu Novi Candra yang punya Gerakan Sekolah Menyenangkan. Solusi masalah
ini, salah satunya, ada di gerakan beliau. Dan kita semua harus turun tangan.
Jangan hanya meratapi Audrey dan berhenti di status facebook. Kita mulai?

Sumber: Status Facebook Arif Maftuhin

Related Posts