Syeikh Allamah Syahid Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi

Nu online

Penulis: Moh Musa


Atorcator.Com – Dr. Al-Buthi adalah figur ulama yang mengabdikan hidupnya sebagai seorang pembimbing dan dai sembari terus menampilkan sikap zuhud di dunia yang fana. Orang yang berprinsip tegas jika memang benar itu adalah benar, tanpa peduli tindakannya nanti akan dicerca orang ataupun sebaliknya.


Beliau juga merupakan seorang pemikir Islam moderat sekaligus penulis yang sangat produktif. Karyanya mencapai bilangan tujuh puluh lima buku. Karya-karyanya juga banyak diterjemahkan  ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, al-Hub fil Qur’an (Al-Qur’an Kitab Cinta), La ya’thil Bathil (Takkan Datang Kebathilan terhadap Al-Qur’an),  Fiqh al-Sirah al-Nabawiyah (Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasul Saw) dan masih banyak yang lainnya. Dalam konteks kepesantrenan, terutama pesantren salaf, bukunya yang berjudul Dhowabitul Maslahah merupakan referensi primer dalam kajian Bahtsul Masail (BM).


Tokoh yang paling berpengaruh di Timur Tengah ini juga termasuk barisan ulama yang getol membendung radikalisme Islam. Paham radikal adalah suatu paham yang anti dengan tradisi bermazhab, menyerukan pentingnya ijtihad, intoleran, cenderung eksklusif dan menganggap kebenaran hanya ada pada kelompok mereka. Kegigihannya dalam membendung paham radikal ini terekam dalam bukunya yang berjudul As-Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarokah la Mazhab Islamiyun dan al-La Mazhabiyyah: Akhtoru Bid’atin Tuhaddidus Syariah Islamiyyah.


Selain hal itu, beliau juga salah satu ulama yang menjadi rujukan kalangan Ahlussunnah Waljamaah dalam bidang akidah. Bahkan ada menyebut beliau sebagai ghazaliyu-l-ashr  atau Imam Ghozali masa kini. Sebutan ini sebetulnya tidaklah berlebihan. Toh nyatanya beliau dapat membuktikan dengan menulis buku yang berjudul Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah.
Dalam bidang tasawuf pun, juga tidak bisa diragukan lagi kemampuan intelektual-spiritual Dr. Buthi ini. Syarah kitab Al-Hikam karangan Ibnu ‘Athoillah al-Iskandary yang terdiri dari lima jilid dengan ketebalan rata-rata 400-an halaman menjadi saksi bisu akal hal itu.


Alkisah, ketika Dr. Buthi mempunyai keinginan untuk mensyarahi kitab tersebut, beliau tidak bisa memulai menulis sebelum berziarah ke makam Imam Ibnu ‘Athoillah dan memohon kepada Allah Swt. supaya diberi jalan mudah dalam mensyarai kitab itu.
Ketika sedang merebak isu penyelewengan jihad atas nama agama, Dr. Buthi juga sangat tanggap dalam menyikapi masalah ini.


Al-Buthi tetaplah seorang ulama yang berwawasan luas, mempunyai ilmu yang dalam, dipadu dengan hati yang ikhlas dan bersih menempatkannya sebagai ulama berpengaruh yang dicintai masyarakat dan disegani penguasa.


Beliau wafat Kamis malam Jumat 21 Maret 2013 akibat serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh teroris-ekstrem ketika sedang memberikan pengajian mingguan di Masjid Jami’ Al-Iman, Mazraa, Damaskus.


Dalam kejadian yang menelan banyak korban itu, cucu Dr. Buthi—demikian beliau akrab disapa—yang bernama Ahmad juga ikut menjadi korban pengeboman.


Perihal kepergian Dr. Buthi ini, kurang lebih sekitar dua minggu sebelum kejadian tersebut, Habib Ali Al-Jufri ketika menelpon Dr. Buthi seakan sudah mendapat isyarat akan kewafatannya. Di akhir pembicaraan itu, Dr. Buthi berkata kepada Habib Ali:


“Tidak akan tersisa umurku kecuali hanya beberapa hari lagi. Sungguh aku telah mencium bau surga di belakangnya. Maka jangan lupa untuk mendoakanku”.


Sumber: http://www.nu.or.id

Related Posts