Agama Jimat

Keterangan Foto: Fb-Fiq
Penulis: Taufiq WR. Hidayat

Atorcator.Com –
Agama sejatinya membebaskan. Lantaran ia intisari dan kerinduan
paling asasi manusia. Tatkala agama mengajarkan ketakutan, ia tak lagi agama.
Melainkan setan. Lalu menyelipkan jimat untuk melawan ketakutan dengan
kebencian. Atau mengimani tahayul, menikmati delusi asik sendiri, dan ekstasi.
Agama sejatinya cinta; penerimaan, penghimpunan, kebersamaan, keselamatan.

Come,
ujar Jalaludin Rumi. Datanglah. Kemarilah. “Whoever you may be, even if
you may be, an infidel, a pagan, or a fire-worshipper
“. Siapa pun kamu,
bahkan jika kau adalah seorang pengkhianat, para Pagan, penyembah api.
“Come!” katanya. Datanglah. Kemarilah.


Bagi Rumi,
dengan segala makhluk beserta keadaan dan statusnya masing-masing, persaudaraan
dan keterhimpunan itulah cinta. Puncak segala jalan spiritual atau pun agama.
Ia mengajarkan dan mengerjakan sebuah harapan. Harapan bagi semua yang baik,
bahkan bagi yang bejat atau yang terlanjur bejat. Tentu dalam pengayoman cinta,
keluasan dan kesungguhan kemanusiaan. Maka dari pandangan ketuhanan ini,
segalanya tak ada yang batil (sia-sia). “Ours is not a brotherhood of
despai
r,” tegasnya.

“Even if
you have broken, your vows of repentance a hundred times,” ucapnya. Bahkan
jika sekalipun kamu kufur, kau ingkari sumpah penyesalanmu ratusan kali. Maka
memang tak ada yang sia-sia dalam cinta. “Come,” katanya. Datanglah..
Kemarilah..

Dalam Anthony
de Mello, agama sejati mengajarkan hidup yang penuh kasih, dan melihat
kenyataan secara cerdik. Menegaskan tak ada ketakutan, lalu mengajaknya
memercayai harapan. Memastikan tak ada jimat atau ritual yang secara ajaib
dapat menentramkan atau menyelamatkan manusia, kemudian meyakinkan pada
vitalnya meneladani sifat-sifat luhur ilahiyah, penjagaan kemanusiaan,
kebersamaan, persaudaraan, pengentasan. Sehingga agama tak lagi perlu
ditampak-tampakkan belaka sebagai baju, identitas, atau kebanggaan-kebanggaan
gombal. Melainkan agama telah menyatu dalam diri, menjelma manusia yang damai
dan menyelamatkan tanpa kebencian. Bagi de Mello, begitu kiranya agama yang
baik.

Ketika kecil ia
takut hantu lantaran ditakut-takuti orangtuanya. Saat dewasa, orangtuanya
memberi pengertian dan meyakinkan bahwa hantu-hantu itu sesungguhnya tak ada.
Yang ada adalah kegelapan, dan tiap orang harus melewatinya dengan cahaya ilmu,
kedewasaan, iman. Tetapi agama yang keji, atau agama yang diajarkan para
bajingan dan agamawan palsu, mengajarkan ketakutan pada hantu-hantu dan
mengimani sehelai jimat sebagai bekal keselamatan menghadapi kegelapan.
Sehingga lahirlah manusia-manusia penyembah jimat, menghamba pada agamawan
palsu si pencipta ketakutan dan si pembuat jimat itu. Lantas agama tak
menciptakan kedamaian, melainkan kebencian dan perang, prasangka dan dendam,
bodoh dan pintas.

Salman Rushdie
menulis kisah pendek perihal jimat pembawa malapetaka. Sastra Rushdie memang
menarik, terlepas pandangan dunia terhadap novelnya “The Satanic
Verses
” yang terasa gombal dan dianggap menista agama itu. Sahdan sehelai
benda keramat yang disimpan di sebuah masjid hilang. Keadaan kisruh. Para
agamawan, polisi, penduduk, politisi, dan entah siapa lagi, gempar. Mereka
berkumpul untuk menemukan sehelai benda keramat yang hilang. Tersebutlah
 seorang pemeras bernama Hasim. Ia telah menemukan benda keramat yang raib itu.
Dasar mental rentenir Hasim tak mengembalikannya. Ia terkagum-kagum pada
sehelai benda keramat yang disimpan dalam sebuah botol perak.

Benda keramat
itulah yang diyakini orang adalah sehelai rambut sang nabi. Dengan gembira,
Hasim membawa pulang sehelai rambut sang nabi dalam botol perak tersebut. Ia
berpikir akan ada kolektor membeli sehelai rambut keramat itu dengan harga
mahal. Di samping itu, ia mengambilnya dengan niat baik, ingin menghindarkan
masyarakat dari dosa pemberhalaan.

Dibawa
pulanglah sehelai rambut sang nabi ke rumahnya. Terjadi keganjilan dalam diri
Hasim si pemeras, sejak menyimpan sehelai rambut sang nabi dalam sebuah botol
perak. Ia menjadi sok religius. Ia mengakui dengan jujur perselingkuhannya,
menerapkan keharusan jujur pada istri dan anak-anaknya, mewajibkan tanpa ampun
agar keluarganya menjalankan syariat agama secara ketat. Perubahan mendadak
religius pada sikap Hasim tak menciptakan ketentraman dalam keluarganya.

Sebaliknya.
Istri dan anak-anaknya tersiksa, tertekan atas sikap sok religius Hasim sebagai
kepala rumah tangga yang awalnya adalah seorang rentenir. Berundinglah kedua
anak Hasim beserti istrinya. Perundingan membuahkan keputusan, agar keadaan
rumah kembali sedia kala, satu-satunya jalan, rambut sang nabi yang disimpan
Hasim harus disingkirkan atau dikembalikan. Keluarga Hasim meminta pertolongan
seorang pencuri agar mencuri benda keramat yang telah menimbulkan perubahan
sikap sok religius dan sok suci pada diri Hasim.

Tatkala pencuri
memasuki rumah Hasim, anak lelakinya yang menderita sakit kaget. Berteriak.
Lalu mati mendadak. Hasim sadar, benda keramat hendak dicuri. Dalam keremangan,
ia dengan sigap mengambil pedang. Melihat bayangan mendekat, tanpa pikir
panjang Hasim menikamkan pedangnya pada bayangan yang mendekat. Bayangan itu
roboh. Tewas. Tapi bukan pencuri yang tewas, melainkan anak perempuan Hasim.

Hasim
terperanjat. Ia tak sengaja telah menikam anak perempuannya sendiri. Menyesal.
Hasim pun menikam dirinya sendiri. Istri Hasim menjadi gila melihat kematian
mendadak yang terjadi dalam rumahnya. Pencuri yang sudah berhasil mencuri
sehelai rambut sang nabi dalam sebuah botol perak itu tertembak petugas saat
melarikan diri. Dan rambut sang nabi pun ditemukan. Dikembalikan dalam masjid
yang menyimpannya.

Kisah rambut
sang nabi yang ditulis Salman Rushdie itu sesungguhnya hendak mencari
pengertian timur dan barat. Latar belakang budaya India pada ingatan Rushdie
perihal pengertian timur dan pendidikan di Inggris perihal pengertian barat,
membuat Rushdie mencoba mendialogkan keduanya dalam sastra. Ia tak mengkufuri
pengertian timur yang mistik. Tetapi tak hendak memberikan tafsir pada
peristiwa mistik dengan pengertian barat. Barangkali Rushdie hendak mengawinkan
keduanya, meski tampak tak sempurna dan terlihat “memaksa”.

Namun
setidaknya, kisah lama itu tengah mencatat sikap beragama yang tahayul, fanatik
buta, dan tak masuk akal. Sehingga agama hanya menjadi kebanggaan, membentuk
sikap sok suci seperti sikap iblis yang terkutuk. Benar bahwa agama memerlukan
simbol dan penanda. Namun itu bukan yang hakiki. Hanya sarana spiritual.


Apa yang harus
dipelihara dari sosok seorang nabi—sebagaimana ditegaskan dalam teks-teks
suci, adalah kepribadian sang nabi yang luhur dan agung. Meneladani dan
melanjutkan sikap hidupnya yang mulia (uswatun khasanah), yang memandang
segalanya dengan pandangan cinta. Bukan mengkeramatkannya secara membabibuta,
tanpa ilmu dan pendalaman tafsir. 

Sehingga menjadikannya berhala. Sedang
nilai-nilai hidup dan keluhuran kepribadian sang pembawa ajaran yang suci tak
pernah hidup di dada orang yang mengaku beriman dan beragama. Selain kebodohan
yang amat mudah dimanfaatkan kepentingan praktis dan uang melalui doktrin serta
keyakinan-keyakinan kosong yang gombal. Agama mengimani jimat atau benda
keramat. Tetapi gagal mengimani dan merawat kemanusiaan sebagai sisi terpenting
sebuah keimanan dalam menghamba kepada Tuhan.

Tembokrejo,
2019



Taufiq
Wr. Hidayat
dilahirkan
di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa
Wongsorejo
Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada
fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan
puisi
Suluk Rindu (YMAB, 2003), Muncar Senjakala (PSBB, 2009), kumpulan cerita ‖Kisah-kisah dari
Timur‖ (PSBB, 2010), ‖Catatan‖ (PSBB, 2013), ‖Sepotong Senja, Sepotong Malam,
Sepotong Roti‖ (PSBB, 2014), ‖Dan Badut Pun Pasti Berlalu‖ (PSBB, 2017), ‖Serat
Kiai Sutara‖ (PSBB, 2018). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi

Related Posts