Bukan Ilmuan Jika Bosan Mendengar Berulang Pembahasan - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Jumat, Mei 17, 2019

Bukan Ilmuan Jika Bosan Mendengar Berulang Pembahasan

Ilustrasi Foto (Santri Mahsiswa Stai Ma'had Aly Al-Hikam Malang)
Penulis: Vanzaka Musyafa 

Atorcator.ComKita semua sudah pasti tahu dan hal ini pun masyhur. Sahabat Ali Karamallahu wajhah itu adalah gerbang ilmu. Sedangkan Nabi Muhammad Saw adalah kotanya. Kalau keatas lagi adalah sumber sekaligus pencipta Ilmu adalah sang Khaliq Allah SWT.

Ilmu itu nggak seperti yang lain. Misalkan, nasi, hari ini rasa nasi kayak apa? Besok kita coba lagi, rasa pasti sama. Atau mungkin daging ayam misalkan ayam goreng, krispy dan lain sebagainya. Satu dua kali enak-enak saja tapi lebih dari beberapakali jadi bosan.

Ini pengalaman yang penulis rasakan bersama temen-temen santri di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang. Berkah bulan Ramadhan juga. Setiap kali berbuka pasti dapet kotak nasi, dan bisa dipastikan menunya berupa ayam. Bahkan sampai ada yang bilang, "kalau bisa carikan yang launya tahu sama tempe". Saking bosannya mungkin.

Hal ini seharusnya tidak terjadi khususnya pada santri mahasiswa atas bosan dengan pembahasan ilmu yang disampaikan oleh gurunya. Penulis mengutip pendapat Dr. Rosidin, M. Pd. I dari akun Facebook yang beliau kutip dari QS. Al-Waqiah: 77:  إنه لقران كريم (al-Qur'an itu sangat kaya Makna, maka yang dipahami hari ini, berbeda dengan esok)".

Jadi, ini kaitannya dengan ilmu bahwa ilmu itu berbeda. Ilmu itu luas bak samudera yang tak bertepi. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa ni'mat Allah itu tidak akan ada habisnya. Walaupun pohon-pohon itu dijadikan sebagai pena dan lautan dijadikan sebagai tinta, Bagaimana pun ni'mat Allah SWT tidak akan semua bisa tertuliskan. Dan salah satu ni'mat Allah disini adalah Ilmu.
Nabi Adam AS itu menjadi makhluk yang paling mulia karena dianugerahi Ilmu. Walaupun para Malaikat khawatir akan tingkah laku manusia nantinya yang akan merusak dunia, Allah SWT tetap menjadikan Nabi Adam AS sebagai makhluk paling sempurna. Dan mempercayakan kepadanya sebagai khalifatullah fil ardh. Membekalinya dengan ilmu pengetahuan. Sya'ir ini kami kutip dari kitab Hidayatul Muta'alim yang ditulis oleh KH. Taufiqul Hakim

ولو يكون السمع الف مرة
من كلمة مسئلة واحدة
فليس اهل العلم من تعظيمه
ينقص بعد الف مرةله

Ta'dzim ing ilmu kurang ba'dane krungu
Ping sewu ora termasuk ahli ilmi
Tetep Ta'dzim najan krungune Ping sewu
Podho lan ra bosen ahli ilmu estu

Terjemahannya:

Takzim kurang setelah mendengar ilmu
Sribu kali tak termasuk ahli ilmu
Tetap takzim walau dengar sribu kali
Sama tak bosan ahli ilmu sejati

Intinya adalah bahwa jangan bosan untuk terus mendengarkan, menelaah, mempelajari ilmu walau sudah tahu. Karena jika ilmu itu terus ditelaah, dipelajari akan terus bertambah dan berkembang.

Teknologi dan ilmu pengetahuan itu berkembang pertamakali dipelopori oleh ulama dunia Islam. Dari mana lagi sumbernya kalau bukan dari kitab suci agama Islam? Disaat dunia barat berada pada kegelapan, Islam sudah mengalami kemajuan. Kita sudah pasti tahu ulama' seperti Ibnu Sina, AlJabbar dan yang lainnya. Kemajuan itu tepatnya ada di daerah andalusia atau sekarang Spanyol. Setelah perang salib berlangsug kemudian Spanyol dikuasai oleh Eropa. Dan setelah itu Eropa menjadi negara maju.

Oleh karena itu, mari kita sebagai pemuda yang berhak mewarisi Islam untuk maju pantang mundur. Merebut kembali kejayaan Islam yang dulu pernah Jaya. Jihad/usaha kita sangat dibutuhkan oleh Islam untuk menegakkan nilai-nilai agama bukan sekadar amaliah belaka.

Kata Gus Dur "tirakate wong saiki iku belajar". Jihad/usaha yang paling dibutuhkan adalah belajar. Dengan belajar, berpendidikan dan berilmu Tuhan akan mengangkat derajat seseorang. Dimulai dari individu yang baik dan berkualitas akan muncul kelompok atau komunitas yang baik dan berkualitas pula. Semakin keatas ibarat pohon yang dimulai dari akar yang sehat dengan suplai air yang cukup yang terbebas dari parasit, daun yang bersih dari ulat maka akan terlihat sebuah pohon yang sehat.

Begitu juga dengan Agama dan Negara. Agama Akan dinilai moderat dan menjadi rahmatan lil'alamin apabila dari pemeluknya bisa menerapkan nilai dan amaliah agama itu sendiri. Kemudian negara, negara akan dikatakan maju jika rakyatnya sejahtera dalam arti seluas-luasnya. Tidak hanya bagus dalam kemiliteran dan teknologinya. Indikator dari sejhtera adalah dinilai dari kualitas pendidikanya yang menghasilkan SDM berkualitas, menguasai ilmu pengetahuan, sains, teknologi, memiliki daya saing yang kuat dan mampu menghadapi tantangan dan tuntutan zaman.

Wal hasil, kita yang sedang belajar baik santri dan mahasiswa berjuanglah bersama untuk menjadi generasi penerus agama dan bangsa yang bisa bermanfaat bagi keduanya. Sabda Nabi SAW: Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain. 

والله اعلم بالصواب

#iqra'ulQur'anwalhadis

#Tadarusbacaan

  • Vanzaka Musyafa Pengurus Jam'iyah Ngopi Pegon