Jika Harus Milih, Saya Pilih LGBT daripada Radikalisme

Ilustrasi Foto (Liputan6)
 Penulis: Dimas Supriyanto
Atorcator.Com – Kadang kita
dihadapkan dengan dua pilihan yang kelihatannya sulit untuk ditetapkan – 
tapi kadang juga mudah. Karena sudah kita pahami dan alami.
Seseorang berandai andai; 
“Kamu pilih yang mana,  berteman dengan kaum LGBT atau dengan kaum
radikal agama?”
Jika pertanyaannya itu ditujukan
kepada saya,  tanpa berpikir dua kali,  saya menjawab, “berteman
dengan LGBT!”
Kenapa? Karena sejak dulu saya
sudah berteman dengan mereka,  LGBT –  dan kami baik baik saja.
Sedangkan orang orang radikal sudah
terbukti menjadi masalah bagi bangsa ini – bahkan jadi masalah global – yang
makin modern dan bhinneka ini.
Mereka sudah terbukti membawa
kerusakan di muka bumi.
Antara tahun 1992 hingga 2002 lalu,
saya menjadi redaktur pelaksana di majalah ‘Film’ dan majalah ‘Prada’ dan
kemudian juga portal dan tabloid ‘Indonesia Selebriti’ bekerjasama dengan Grup
‘Jawa Pos’.
Saya dan teman teman banyak
melakukan pemotretan, kerja kreatif dan liputan ke lokasi suting dan bergaul
dengan komunitas artis serta LGBT.
Di lingkungan seni dan hiburan pada
umumnya kaum LGBT menjadi bagian yang tak terpisahkan. Seperti ikan yang masuk
ke kolamnya.  Biasanya menangani ‘make up artis’, kostum, artistik,
penulis skrip. Sutradara ada juga.  Dan kami bekerjasama dengan mereka.
Tidak.  Saya bukan gay,
lesbian atau bisex. Apalagi transgender. Saya laki laki hetero yang menyukai
wanita – teman teman malah menggosipkan saya cenderung playboy  – dan saya
bekerjasama dengan mereka semua.
Sejauh ini,  saya nyaman
nyaman saja.
Sebenarnya –  bahkan jauh jauh
hari sebelum itu – ketika masih jadi reporter di koran untuk halaman fashion,
dan mingguan, saya kenal dengan desainer dan teman teman redaktur mode media
lain –  yang juga LGBT. Bahkan,  saya berguru dengan mereka. So, no
problema!
Mereka punya kelebihan. Lebih ulet,
kreatif dan gigih. Fokus dan total dalam berkarya. Banyak idenya.
Kalau anda ke mall atau ke
pasar,  maka harus Anda pahami bahwa sebagian isinya merupakan karya
kreasi dan hasil kerja keras kaum LGBT.
Karena saya lama dekat dengan
mereka – saya malah jadi tidak mengerti,  mengapa mereka dimusuhi dan
ditolak.  Seperti sekarang ini.
Kecuali orientasi seks mereka yang
berbeda,  mereka sebenarnya sama dengan kita yang merasa
“normal”.
Dan sementara itu, sulit
mendefinisikan “normal” dan “tidak normal”. Sebab mereka
merasa “normal” juga.
Kita sesungguhnya tidak menyadari
bahwa kita berada di lingkaran homoseks serta biseks. Juga Transgender. 
Ya!  Dan itu sudah sejak dulu kala.
Kini menyebut 
“normal” dan “tidak normal” tidak sederhana lagi. 
Memerlukan kajian dan diskusi lebih lanjut. Perlu ada ilmunya.
Kalau soal sebutan
“penyimpangan perilaku”  jangan hanya tuding LGBT. Mereka yang
memakai narkoba, mabuk mabukan, cabul,  pesta seks, nipu, maling, korupsi,
nyebar hoaks, dan semua yang laku menyimpang ada di lintas gender; laki,
perempuan,  gay,  lesbian,  transgender, bisek – ada yang
melakukannya!
Buka mesin pencari google, lalu
ketik ‘ustadz cabuli santri’…cek hasilnya..buanyaaaaak…. kasus penipuan
investasi dan umroh…naudzublillah….
LALU, di sisi lain, apakah saya
tidak pernah berdialog dan ngobrol dengan kaum radikal?
Ya, pernah! Dan itu mengerikan!
Pola pokir mereka hitam putih,
cetek dan intoleran. Diskriminatif,  pastinya.
Dan setinggi apa pun kecerdasannya,
mereka yang sudah kerasukan ajaran radikal jadi intoleran. Bengis!
Kampus kampus ternama seperti ITB,
UI dan IPB ditengarai sudah banyak kemasukan ajaran radikal intoleran. Bahkan
menurun ke SMA,  SMP dan SD Terpadu. Menyemai intoleransi dan radikalime
ke jajaran anak anak. Dan mereka jadi dungu. Mereka berpotensi sebagai masalah
global.
Para pemimpin daerah yang mengeluarkan
perda perda syariat adalah “pohon yang sudah jadi” dari bibit paham
radikalisme beberapa tahun lalu –  dalam praktik yang paling ‘soft’.
Larangan buka warung di bulan puasa
juga. Mempraktikan ajaran agama dengan mendzalimi pedagang kecil –  yang
sedang mencari nafkah untuk keluarganya.
RADIKALISME di seluruh dunia memang
sudah naik kelas. Bukan lagi orang miskin, stress, nekad dan putus asa. Namun
mereka yang mapan, intelek dan sekilas tampangnya “baik baik saja”.
Lihat saja,  terduga para
pelaku pemboman gereja di Srilangka, baru baru ini.
Menteri Pertahanan Ruwan
Wijewardene mengungkapkan bahwa terduga pelaku berasal dari keluarga berada,
terpandang dan berpendidikan.
“Kami meyakini salah satu
pelaku bom bunuh diri pernah belajar di Inggris dan menyelesaikan pendidikan
pasca-sarjana di Australia sebelum kembali ke Sri Lanka,” terang
Wijewardene.
Dia mengatakan kebanyakan dari
pelaku merupakan orang berpendidikan dan datang dari keluarga kelas menengah ke
atas. “Mereka mendanai operasi dan keluarga mereka stabil secara
finansial,” papar dia.
Dua pelaku bom bunuh diri merupakan
kakak beradik dan putra dari seorang pedagang kaya di ibu kota Colombo. Mereka
meledakkan diri di Hotel Shangri-La dan Grand Cinnamon.
Hal yang sama sudah terjadi di sini
dimana banyak remaja dan mahasiwa kampus ternama menjadi korban NII – Negara
Islam Indonesia. Kini digarap oleh HTI dan PKS dengan paham Ikhwanul
Musliminnya.
Indonesia pernah dibuat repot oleh
dr Azhari dari Malaysia. Dan dia peraih gelar S2.
Bahkan di Srilangka –  kakak
beradik yang berpendidikan tinggi itu bunuh diri bareng. Edan !!

Related Posts