Ketika Anda Menjadi Budak Politik Kekuasaan

Ilustrasi foto (Indikator alor)
Penulis: Taufiq WR. Hidayat
Atorcator.Com – Kawan Ali bin Abi Thalib bersabda: “barangsiapa beriman
pada dunia, maka dunia akan mengkhianatinya”. Ini kiranya sabda muncul
dari pengalaman politiknya yang tak mudah, berakhir dramatis dan tragis.
Barangkali sebentuk keinsafan. Mungkin penyesalan.
Mirip keluh kesah yang lantas kita anggap “nasehat
suci”, agar tiap orang mawas diri dalam politik kekuasaan. Berhati-hati
dalam sebuah wilayah di mana di situ kekuasaan diperebutkan mati-matian dan
pakai segala cara, seperti memperebutkan benda bulat yang menggelinding,
meluncur, memantul dalam pertandingan sepakbola.
Kekuasaan tak pernah utuh. Dan kokoh. Lantaran ia dipegang
dan dijalankan makhluk fana bernama manusia. Mempertahankan, ambisi, dan
khayalan kekuasaan selalu menciptakan delusi, baik secara langsung maupun
diam-diam. Di dalam perhelatannya yang mendebarkan, orang tak pernah mau kalah.
Keharusan menang membuatnya dapat bertarung sejadi-jadinya, dan tak sunguh-sungguh
siap untuk kalah.
Delusi kemenangan seringkali jadi penyakit bagi mereka yang
kalah atau dikalahkan. Ia menciptakan suatu keadaan yang—di dalam keadaan
tersebut, ia menang. Atau berkuasa. Bagi yang kalah, kemenangan dan kekuasaan
itu palsu. Seolah-olah. Sebab ia tak mau menerima kekalahan, sehingga kekalahan
yang dideritanya tambah parah dan tragis. Ambisinya menyusun keseolah-olahan
yang menipu, menyesatkan, dan tidak waras. Orang mengobati kegagalannya pada
kekuasaan dengan menebarkan dan meyakinkan diri—juga orang lain, bahwa
dirinya telah dicurangi atau diperlakukan tidak fair. Ia mengalami sakit jiwa.
Tetapi pada puncaknya, kekuasaan dan ambisi gila terhadapnya,
selalu menyisakan satu hal: kesangsian. Ia sangsi pada kenyataan. Atau
meragukan kesetiaan para penyokongnya, mencurigai adanya para pengkhianat. Dan
kekuasaan memang selalu melahirkan pengkhianat. Tatkala berada dalam semangat
hebat, siapa saja datang menyokong.
Lantaran para penyokong itu memiliki cita-cita yang sama
dengan yang disokong: berkuasa. Ketika kalah, para penyokong itu berlarian
lintang-pukang menyelamatkan diri masing-masing. Atau berbalik; mengabdi pada
pihak yang menang. Bukan cerita baru! Para brutus itu ada sejak zaman sebelum
masehi sampai zaman jatuhnya Soeharto—kita ingat, ditinggalkan para
jendralnya yang angker-angker dan menakutkan.
Barangkali itu kiranya maksud “nasehat suci” Kawan
Ali di atas. Ia telah melewati kenyataan politik yang sulit, tragis, hingga
merenggut nyawanya dengan bekas benda tajam pada tubuhnya. Sejarah lalu
ditegakkan dari kepedihan atas suatu kehilangan. Agar manusia tidak beriman
pada dunia, sebab pastilah dunia akan berkhianat.
Politik—salah satu yang paling kentara sebagai apa yang
disebut dunia itu, dalam khazanah keilmuan Islam kuno (salaf) ditetapkan
sebagai yang duniawi (yang menipu). Bukan yang ukhrawi (yang sejati). Banyak
orang sakit jiwa (secara harfiah maupun seolah) karena beriman pada yang menipu
itu.
Pendikotomian antara duniawi dan ukhrawi, sejatinya bukan
pemisahan. Meski khazanah Islam memandang dan memosisikan politik sebagai yang
duniawi, tapi ia tak pernah mengutuk dunia. Ia hanya mengingatkan, agar orang
mawas diri di dalam urusan tersebut. Ketidakhati-hatian dalam politik, membuat
orang kehilangan jatidiri kemanusiaannya.
Ketika kemanusiaan musnah atau diinjak-injak demi sebuah
kekuasaan yang duniawi itu, pertanda celakalah ia dalam wilayah yang sejati
(ukhrawi). Itu setidaknya yang melandasi pikiran Romo Mangunwijaya, baginya ada
“politik nurani” yang merupakan penyeimbang terhadap “politik
kekuasaan”.
Bagi Gus Dur, kemanusiaan harus berada di atas segala-galanya
dalam arena politik. Politik cuma sarana, sebagaimana pula agama. Tetapi
sebagai sarana, ia amat gampang menjadi Tuhan, lantaran dalam perhelatannya,
manusia bermain-main terlalu jauh dengan api ambisinya yang sangat mematikan.
Seolah ada keretakan antara teologi dan politik. Atau memang retakan yang
niscaya.
Tatkala agama dibawa-bawa dalam politik, kita pun mengerti
betapa menjijikkan, yang suci direndahkan jadi pendorong ambisi manusia, dan
itu berbahaya. Orang berbenturan dan membenci atas keyakinan yang tak sejati,
yang bagi Kawan Ali Karamallah; ialah yang berkhianat dan membodohkan. Orang
tak sadar berada atau sedang bermain dalam sebuah permainan yang lekas selesai,
tapi meninggalkan jejak panjang yang tak mudah dilupakan.
Hegel mengandaikan hubungan antara tuan dan budak. Seorang
budak sejatinya tuan, karena ia memakai akal budinya untuk melayani, menerima
nasehat, dan kritik. Seorang tuan sesungguhnya budak, sebab ia tak memakai akal
budinya melayani, anti kritik, dan keras kepala. Namun apa yang diandaikan
Hegel, hari ini tak segamblang itu. Seorang tuan tak dapat dipastikan membudak.
Atau seorang budak tak bisa dipastikan menjelma tuan.
Tatkala kekuasaan lepas atau tak dapat diraih seseorang
(tuan), para budak akan meninggalkannya sendirian. Kesetiaan hanya omong kosong
dari lidah para budak itu. Mereka patuh hanya pada tuan, siapa pun sang tuan
itu, dari bangsa iblis sekalipun. Apakah hari ini yang menjadi tuan adalah
orang lain atau yang dulu adalah musuhnya, bagi para budak bukan persoalan.
“Dan siapa yang beriman pada dunia, dunia akan
menghancurkannya,” ujar Kawan Ali.
Ah! Cukup niscaya, bukan?

Tembokrejo, 2019

  • Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa WongsorejoBanyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi Suluk Rindu (YMAB, 2003), Muncar Senjakala (PSBB, 2009), kumpulan cerita ‖Kisah-kisah dari Timur‖ (PSBB, 2010), ‖Catatan‖ (PSBB, 2013), ‖Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti‖ (PSBB, 2014), ‖Dan Badut Pun Pasti Berlalu‖ (PSBB, 2017), ‖Serat Kiai Sutara‖ (PSBB, 2018). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwang

Related Posts