Ketika Anda Menjadi Budak Politik Kekuasaan - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Selasa, Mei 21, 2019

Ketika Anda Menjadi Budak Politik Kekuasaan

Ilustrasi foto (Indikator alor)
Penulis: Taufiq WR. Hidayat

Atorcator.Com - Kawan Ali bin Abi Thalib bersabda: "barangsiapa beriman pada dunia, maka dunia akan mengkhianatinya". Ini kiranya sabda muncul dari pengalaman politiknya yang tak mudah, berakhir dramatis dan tragis. Barangkali sebentuk keinsafan. Mungkin penyesalan.

Mirip keluh kesah yang lantas kita anggap "nasehat suci", agar tiap orang mawas diri dalam politik kekuasaan. Berhati-hati dalam sebuah wilayah di mana di situ kekuasaan diperebutkan mati-matian dan pakai segala cara, seperti memperebutkan benda bulat yang menggelinding, meluncur, memantul dalam pertandingan sepakbola.

Kekuasaan tak pernah utuh. Dan kokoh. Lantaran ia dipegang dan dijalankan makhluk fana bernama manusia. Mempertahankan, ambisi, dan khayalan kekuasaan selalu menciptakan delusi, baik secara langsung maupun diam-diam. Di dalam perhelatannya yang mendebarkan, orang tak pernah mau kalah. Keharusan menang membuatnya dapat bertarung sejadi-jadinya, dan tak sunguh-sungguh siap untuk kalah.

Delusi kemenangan seringkali jadi penyakit bagi mereka yang kalah atau dikalahkan. Ia menciptakan suatu keadaan yang---di dalam keadaan tersebut, ia menang. Atau berkuasa. Bagi yang kalah, kemenangan dan kekuasaan itu palsu. Seolah-olah. Sebab ia tak mau menerima kekalahan, sehingga kekalahan yang dideritanya tambah parah dan tragis. Ambisinya menyusun keseolah-olahan yang menipu, menyesatkan, dan tidak waras. Orang mengobati kegagalannya pada kekuasaan dengan menebarkan dan meyakinkan diri---juga orang lain, bahwa dirinya telah dicurangi atau diperlakukan tidak fair. Ia mengalami sakit jiwa.

Tetapi pada puncaknya, kekuasaan dan ambisi gila terhadapnya, selalu menyisakan satu hal: kesangsian. Ia sangsi pada kenyataan. Atau meragukan kesetiaan para penyokongnya, mencurigai adanya para pengkhianat. Dan kekuasaan memang selalu melahirkan pengkhianat. Tatkala berada dalam semangat hebat, siapa saja datang menyokong.

Lantaran para penyokong itu memiliki cita-cita yang sama dengan yang disokong: berkuasa. Ketika kalah, para penyokong itu berlarian lintang-pukang menyelamatkan diri masing-masing. Atau berbalik; mengabdi pada pihak yang menang. Bukan cerita baru! Para brutus itu ada sejak zaman sebelum masehi sampai zaman jatuhnya Soeharto---kita ingat, ditinggalkan para jendralnya yang angker-angker dan menakutkan.

Barangkali itu kiranya maksud "nasehat suci" Kawan Ali di atas. Ia telah melewati kenyataan politik yang sulit, tragis, hingga merenggut nyawanya dengan bekas benda tajam pada tubuhnya. Sejarah lalu ditegakkan dari kepedihan atas suatu kehilangan. Agar manusia tidak beriman pada dunia, sebab pastilah dunia akan berkhianat.

Politik---salah satu yang paling kentara sebagai apa yang disebut dunia itu, dalam khazanah keilmuan Islam kuno (salaf) ditetapkan sebagai yang duniawi (yang menipu). Bukan yang ukhrawi (yang sejati). Banyak orang sakit jiwa (secara harfiah maupun seolah) karena beriman pada yang menipu itu.

Pendikotomian antara duniawi dan ukhrawi, sejatinya bukan pemisahan. Meski khazanah Islam memandang dan memosisikan politik sebagai yang duniawi, tapi ia tak pernah mengutuk dunia. Ia hanya mengingatkan, agar orang mawas diri di dalam urusan tersebut. Ketidakhati-hatian dalam politik, membuat orang kehilangan jatidiri kemanusiaannya.

Ketika kemanusiaan musnah atau diinjak-injak demi sebuah kekuasaan yang duniawi itu, pertanda celakalah ia dalam wilayah yang sejati (ukhrawi). Itu setidaknya yang melandasi pikiran Romo Mangunwijaya, baginya ada "politik nurani" yang merupakan penyeimbang terhadap "politik kekuasaan".

Bagi Gus Dur, kemanusiaan harus berada di atas segala-galanya dalam arena politik. Politik cuma sarana, sebagaimana pula agama. Tetapi sebagai sarana, ia amat gampang menjadi Tuhan, lantaran dalam perhelatannya, manusia bermain-main terlalu jauh dengan api ambisinya yang sangat mematikan. Seolah ada keretakan antara teologi dan politik. Atau memang retakan yang niscaya.

Tatkala agama dibawa-bawa dalam politik, kita pun mengerti betapa menjijikkan, yang suci direndahkan jadi pendorong ambisi manusia, dan itu berbahaya. Orang berbenturan dan membenci atas keyakinan yang tak sejati, yang bagi Kawan Ali Karamallah; ialah yang berkhianat dan membodohkan. Orang tak sadar berada atau sedang bermain dalam sebuah permainan yang lekas selesai, tapi meninggalkan jejak panjang yang tak mudah dilupakan.

Hegel mengandaikan hubungan antara tuan dan budak. Seorang budak sejatinya tuan, karena ia memakai akal budinya untuk melayani, menerima nasehat, dan kritik. Seorang tuan sesungguhnya budak, sebab ia tak memakai akal budinya melayani, anti kritik, dan keras kepala. Namun apa yang diandaikan Hegel, hari ini tak segamblang itu. Seorang tuan tak dapat dipastikan membudak. Atau seorang budak tak bisa dipastikan menjelma tuan.

Tatkala kekuasaan lepas atau tak dapat diraih seseorang (tuan), para budak akan meninggalkannya sendirian. Kesetiaan hanya omong kosong dari lidah para budak itu. Mereka patuh hanya pada tuan, siapa pun sang tuan itu, dari bangsa iblis sekalipun. Apakah hari ini yang menjadi tuan adalah orang lain atau yang dulu adalah musuhnya, bagi para budak bukan persoalan.

"Dan siapa yang beriman pada dunia, dunia akan menghancurkannya," ujar Kawan Ali.

Ah! Cukup niscaya, bukan?


Tembokrejo, 2019

  • Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa WongsorejoBanyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi Suluk Rindu (YMAB, 2003), Muncar Senjakala (PSBB, 2009), kumpulan cerita ‖Kisah-kisah dari Timur‖ (PSBB, 2010), ‖Catatan‖ (PSBB, 2013), ‖Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti‖ (PSBB, 2014), ‖Dan Badut Pun Pasti Berlalu‖ (PSBB, 2017), ‖Serat Kiai Sutara‖ (PSBB, 2018). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwang