Kisah sebuah jemblem dan Pandangan al-Ghazali

Ilustrasi foto (Masakan dapurku)
Penulis:
Muhammad Nur kholis

Atorcator.Com –
Suatu ketika saat penulis masih menapaki jenjang pendidikan
Ibtidaiyyah, penulis pernah mendapatkan sebuah pelajaran tentang sebuah
kebutuhan manusia terhadap karbohidrat untuk tetap kuat untuk melakukan
aktivitas. Uniknya pelajaran ini penulis peroleh dari mata pelajaran Bahasa
Indonesia, bukan mata pelajaran yang seharusnya membahas karbohidrat.

Kejadian ini
penulis ambil ketika guru bahasa Indonesia mengajarkan materi tentang membaca
cepat. Setelah materi disampaikan, guru memberikan sebuah teks yang harus
dicatat dengan cara mendekte teks itu. Untuk selanjutnya, masing-masing siswa
diminta membaca dengan cepat dengan baik di hadapan teman-teman sekelas.
Kebetulan teks itu membahas pentingnya sarapan pagi.

Ketika guru itu
mendikte, sesekali beliau menjelaskan maksud dari apa yang penulis dan
teman-teman tulis. Selesai menulis, beliau memberikan sebuah contoh sederhana
dan renyah untuk kami, para siswa yang masih dalam masa kanak-kanak cerna.
Beliau mencontohkan sebuah jemblem yang dimakan oleh Budi (tokoh imajiner yang
menjadi objek percontohan). Ketika Budi memakan Jemblem yang memiliki berat
karbohidrat seribu gram di pagi hari, budi berjalan kaki menuju sekolah dengan
kebutuhan karbohidrat sekitar 500 gram. Jadi sisa karbohidrat yang dimiliki
oleh budi sekarang menjadi 500 gram.

Jadi bagaimana
jika budi hanya memiliki 100 gram karbohidrat dan harus berjalan kaki menuju
sekolah yang membutuhkan 500 gram dan tidak makan jemblem tadi? Pasti dia akan
cepat lelah, merasa lapar, dan mungkin dia akan mudah tertidur di sekolah
karena dia telah kehabisan karbohidrat

Kisah tentang
jemblem inipun berlanjut ketika penulis menginjak dunia perkuliahan. Kisahnya
lebih dalam dan bukan sekadar sarapan pagi dengan jemblem karena kebutuhan, namun
lebih dari itu. Yaitu ketika penulis belajar kitab “Mursyidul Amin” yang
dikarang oleh Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali atau Al-gazel
dalam sebutan dunia Barat. Tepatnya ketika pembahasan tatakrama makan dan
minum.

Di sana
diterangkan bahwa makanan ataupun minuman harus suci dari hal-hal yang
diharamkan oleh Allah baik cara memperoleh makanan ataupun minuman itu, ataupun
wujud dari makanan atau minuman itu. Mengapa hal ini menjadi penting? Sebab
makanan ataupun minuman yang tercemar oleh hal-hal yang diharamkan oleh Allah
akan mempengaruhi aktivitas lahiriah dan bathiniah si pemakan.

Kembali ke
jemblem yang dimakan oleh Budi yang memiliki karbohidrat dengan berat seribu
gram tadi. Jika jemblem yang dimakan oleh Budi itu adalah jemblem hasil curian,
boleh jadi Budi memiliki karbohidrat yang cukup untuk berjalan menuju sekolah
namun ada pengaruh tersendiri bagi aktivitas lahiriah dan bathiniah Budi
seperti dia malas untuk berjalan, tetap tidur di kelas meski sudah sarapan, tetap
lemas dikelas, atau bahkan bisa jadi di dalam kelas dia tidak bisa menangkap
pelajaran.


Terimakasih
contoh Jemblemnya, Guru. 

Related Posts