Memahami Ramadlan Perspektif Al Qur’an

 

NU.or.id

Penulis: Prof.
Rochmat Wahab
Atorcator.Com
Ibadah Puasa Ramadlan 1440 H insya Allah akan segera kita awali. Salah satu
persiapan penting adalah mengetahui tentang hal ihwal atau ilmu Puasa Ramadlan.
Dengan mengetahui hal-hal yang terkait dengan Puasa Ramadlan, insya Allah kita
bisa ittiba’, terhindar dari taqlid, ikut-ikutan yang tidak tahu dalil
naqlinya, yang bisa menjadikan puasa kita sia-sia, sehingga puasa kita sesuai
dengan syari’ah-Nya. Bagi yang sudah mengetahui, diharapkan tulisan ini
memberikan penguatan dan penyegaran, sebaliknya bagi kurang lengkap tahunya,
semoga tulisan ini menambah pengayaan ilmu tentang puasa Ramadlan. 
Yang selalu
kita ikuti dalam pengajian menjelang Ramadlan, bahkan selama Ramadlan adlam QS
Al Baqarah:183-184., yang artinya “Hai orang-orang beriman diwajibkan atasmu
berpuasa sebagaimana puasa-puasa orang-orang sebelum kamu, dalam hitungan
tertentu agar kamu bertaqwa
”. Dari dua ayat ini, ada sejumlah poin penting
yang bisa dibahas satu persatu. Pertama, bahwa ayat ini yang menganjurkan
puasa, semata-mata untuk orang beriman, yang meyakini akan 6 rukun iman, dan
sudah mengkirarkan dan beridentitas Islam, dengan memenuhi syaratnya, yaitu
muslim, berakal, baligh, kuasa (mampu melakukan), dan tidak berhaid atau
bernifas.
Kedua, puasa
dalam arti syariah adalah mencegah diri dari berbagai hal tertentu pada waktu
yang tertentu. Yaitu dari terbit fajar shidiq hingga terbenam matahari, sesuai
dengan firman Allah swt, pada QS Al Baqarah:187, yang artinya “…Dibolehkan
kamu makan dan minum sehingga terbit fajar shadiq, kemudian teruskanlah puasa
hingga malam hari…
”. Mengapa puasa ini diwajibkan, karena sungguh banyak
hikmah puasa. Namun pada kali ini dapat disimpulkan dua hikmah, yaitu untuk
memperoleh kemenangan jasmaniyah dan ruhaniyah di dunia dan akhirat dan
menghindarkan kerugian duniawiyah dan ukhrowiyah.
Ketiga, puasa
yang diwajibkan kepada ummat islam bukanlah sesuatu yang baru, namun puasa itu
juga diwajibkan oleh agama-agama lain, yang sifat dan caranya berbeda. Misalnya
bangsa Mesir purbakala, ada yang berpuasa tujuh hari kadang-kadang sampai 
tujuh minggu. Di India ada satu golongan yang berpuasa sepuluh hari,
kadang-kadang 15 hari, di mana mereka selama itu siang dan malam tidak boleh
merasai makanan sedikit pun, kecuali beberapa tetes air. Orang Tibet berpuasa
duapuluh empat jam berturut-turut, tidak boleh merasa apapun, sehingga menelan
air liur pun tidak dibolehkan. Sedangkan Islam diwajibkan berpuasa dalam
hitungan tertentu (ayyaamam ma’duudah), pada bulan Ramadlan, bisa 29 hari atau
30 hari.
Sedangkan berdasarkan
hadts Rasulullah saw, bahwa di antara satu dari lima rukun Islam  adalah shaumu
Ramadlaana
, bukan shauma fii syahri ramadlaana. Karena itulah
siapapun yang meninggalkan puasa di bulan ramadlan karena nifas, haid, sakit
yang menyusahkan, perjalanan jauh, tua rapuh, atau mengandung atau menyusukan
apabila dirasakan membahayakan dirinya atau anaknya, maka harus mengganti di
hari lain untuk melengkapinya.
Keempat, bahwa
tujuan puasa ramadlan itu tattaquun (la’allakum tattaquun), bukan
muttaquun. Bahwa sehabis ummat Islam menunaikan puasa ramadlan, mereka
harus terus menjaga taqwa dengan mengamalkan perintah-perintahnya dan menjauhi
apa yang dilarang-Nya, secara terus menerus, sebagai konsekuensi dari ungkapan fi’il
mudzaari’
(ing-form atau continuous progress tense). Jadi tidak
cukup ummat Islam berpuasa ramadlan terus menjadi orang yang bertaqwa,
melainkan ketaqwaan itu harus dijaga secara berkenjutan, sehingga taqwanya
menjadi meningkat kualitasnya.
Demikianlah
sekedar sedikit catatan di antara banyak yang berkenaan dengan Puasa
Ramadlan, semoga dapat bermanfaat untuk menguatkan dan menambah pengertian dan
pemahaman tentang puasa Ramadlan, sehingga kiat bisa meningkatkan amal 
ibadah wajib dan sunnah selama bulan Ramadlan 1440 H. Mengakhiri tulisan ini,
perkenankanlah saya menghaturkan permohonan maaf atas segala kehilafan lahir
dan batin, semoga Allah swt mengampuni kita. Juga selamat menunaikan Ibadah
Shiyam Ramadlan 1440 H, semoga Allah swt melindungi, membimbing dan meridloi,
sehingga taqwa kita meningkat dari tahun lalu. Aamiin.

(Rochmat Wahab,
Yogyakarta, 05/05/2019, Ahad, pk. 07.33).

Related Posts