06/04/2020

Menelisik Belenggu Iblis: Semakin Kuat Belenggu, Semakin Kuat untuk Membobol

Ilustrasi foto
 Penulis: Taufiq WR. Hidayat

Atorcator.Com –
Konon pada bulan Ramadhan iblis dibelenggu. Tapi kenapa manusia
masih melakukan penyimpangan? Kenyataan itu sejatinya menjelaskan, iblis
mengalir di aliran darah, sebagai kehendak dan keinginan-keinginan yang tak
terkendali. Sang iblis dibelenggu oleh puasa sejak terbit sampai terbenam
matahari. Semua kebutuhan atas tubuh dihentikan; tak ada makan, tak minum, tak
ada aktivitas seksual.
Tapi apakah
dengan dibelenggu itu kehendak dan keinginan dasar tubuh mati? Tidak. Manusia
masih hidup. Iblis tak pernah mati, hidup dalam aliran darah. Orang
membelenggunya di siang hari bulan puasa. Malam hari belenggu itu dibuka, tepat
matahari terbenam.
Jika puasa tak
bermuara pada kesadaran pengendalian diri atas apa-apa yang dibelenggu di siang
hari itu, belenggu puasa sebulan tak akan merubah apa pun dalam kepribadian
manusia. Hanya olahraga rutin tahunan, ujar seorang sastrawan Arab, Najib
Mahfouz.
Pengendalian
terhadap tubuh yang bermuara pada kematangan jiwa atas tubuhnya. Tubuh
meniscayakan pada perbuatan. Jiwa meniscayakan pada kematangan, ketenangan,
kerelaan, keterlibatan merasakan penderitaan. Ia merindukan yang lain,
kebersamaan, tak dapat sendirian, namun terkadang ingin tak dimengerti siapa-siapa.
Ia rapuh. Tapi juga kokoh.

Dengan keutuhan
jiwa dan raga itu, manusia melewati waktu, mengolah kenyataan dalam gairah suci
penjagaan. Ini barangkali pengertian sederhana perihal puasa sepanjang masa,
atau Ramadhan yang kekal, lebaran (fitri) yang setiap saat dirayakan bagai
detak jantung, sebagaimana dibisikkan para penekun tasawuf.

Dalam teks
Qur’an Surat al-Ashr, diurai-Nya: “Demi masa (senja), sungguh manusia
celaka, kecuali yang beriman dan berbuat baik (amilus sholihat).”

Dalam pengertiannya, “amal” berarti perbuatan, “sholeh”
berarti baik. Bersedekah, zakat, puasa, bukan “amal”. Tapi
bentuk-bentuk dari “amal”. “Sholeh” dapat diukur dengan
kebaikan dan kebergunaan bagi kehidupan, yang pada hakikatnya adalah penjagaan
dan manfaat. Menjaga diri agar tidak kedinginan oleh cuaca yang dapat
menyebabkan celaka/sakit pada tubuh, termasuk dalam perbuatan baik atau
“amilus shalihat”.
Lalu bagaimana
itu semua akan menjadi kesempurnaan jika dijalankan tanpa keyakinan, tanpa
keyakinan bahwa menjaga diri dari cuaca dingin itu dapat melindungi dari sakit?
Iman—secara sederhana, ialah keyakinan, percaya, keteguhan. Dalam khazanah
Islam, ia harus dibuktikan dengan penyaksian (syahadat). Penyaksian dan
pembuktian untuk menjaga kehidupan, menyelamatkan dan saling mencintai
(al-islam).
Iman,
sebagaimana disebutkan dalam teks suci, ialah meyakini yang tak terjangkau
(gaib). Dan menegakkan kemanusiaan sebagai bukti keyakinan adanya yang tak ada
(tak terjangkau) itu. Atas landasan inilah, perbuatan baik (amilus shalihat)
dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa “amilus shalihat”, iman
hanya konsepsi perihal keyakinan yang secara praktis disebut doktrin.
Lalu apa
perlunya perbuatan baik, tapi tak menjaga dan menyelamatkan kehidupan, hanya
kepentingan dan menuruti kehendak sendiri? Itu kiranya al-Islam. Cukup mudah.
Namun tak dimudah-mudahkan. Lentur. Tapi tegas. Rapuh, rawan, halus (latif).
Namun kokoh dan kuat. Bukan yang digawat-gawatkan para “ustad selebritis” dan
“dai sponsor” yang menggampangkan ajaran suci dengan retorika, yang gemar
mengklaim atas nama Islam pada dirinya sendiri atau kelompoknya. Pengertian ini
penting. Al-Islam bukan Arab. Tetapi Arab (dan budaya apa pun) hanya sebentuk
sarana, yang ajaran Islam secara halus dan arif berbaur di dalamnya.
Tetapi belenggu
atas iblis tak berarti urusan selesai. Semakin kuat belenggu, semakin kuat
kehendak untuk bebas. Semakin besar kekuatan guna membobol belenggu. Manusia
adalah bebas. Ia hanya dikendalikan oleh dirinya sendiri. Pada tataran sosial,
dibatasi hukum dan hak-hak bersama. Semakin iblis dibelenggu, semakin berada dalam
tekanan semakin cerdik dia untuk meloloskan diri. Atau mendobrak membongkar
belenggu-belenggu itu.

Pada bulan
Ramadhan, kebutuhan atas tubuh justru semakin membeludak. Mall ramai.
Menguntungkan para pemodal raksasa. Dan pemodal kecil hanya mendapat keuntungan
“sisa-sisa” dari para monster kapital. Mereka yang kecil itu
diceramahi para “ustad sponsor”, dianjurkan bersyukur atas ketidak-adilan para
penguasa pasar.

Tak hanya
membakar gairah memiliki, iblis yang dibelenggu itu pun membisikkan berhala
pada kebanggaan-kebanggaan di dada orang beriman. Sehingga orang beriman
tersebut mencium sehelai rambut yang disimpan dalam tabung, yang diyakini
rambut sang nabi. Itu diumumkan, divideokan, dipotret. Supaya apa? Barangkali
supaya populer kalau dia mencintai nabinya, dan rumahnya ramai dikunjungi
orang. Bukankah itu pendangkalan dan pembodohan? Iman dan kecintaan yang
sejatinya “sirri” (rahasia) dan sakral itu didangkalkan potret,
video, disahkan sertifikat, dan klaim-klaim gombal.
Tetapi belenggu
atas iblis, tak pernah usai. Dan politik (yang modern maupun klasik), selalu
ditegakkan dengan diskriminasi, kebencian, omong kosong agama, dan tipu daya.
Iblis yang dibelenggu itu membisikkan ajarannya yang mujarab menyeret manusia
dalam kegilaan-kegilaan berkuasa dan menguasai.
Pada sudut
lain, belenggu atas iblis ditandai dengan hidup yang anti keaneka-ragaman,
tidak setuju melihat banyak orang di dunia ini bergerak ke segala arah, ke
segenap penjuru atau pilihan yang berbeda-beda. Ada yang bergerak ke barat,
timur, atas, bawah, selatan, utara, sudut. Ke segala arah. Tidak ada yang
searah. Ada dunia di seberang fakta, di seberang kenyataan dan kesadaran pada
dirinya sendiri.
Abu Nawas
ditanya. “Tuan Nawas, kenapa semua manusia di dunia ini bergerak ke segala
arah? Kenapa tidak bergerak ke satu arah saja?”
Tuan Nawas
menjawab. “Jika semua manusia berjalan pada satu arah, bahaya! Bumi ini
pasti berat sebelah, lantas akan tergelincir jatuh ke dalam jurang!”

Tembokrejo,
2019

  • Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa WongsorejoBanyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi Suluk Rindu (YMAB, 2003), Muncar Senjakala (PSBB, 2009), kumpulan cerita ‖Kisah-kisah dari Timur‖ (PSBB, 2010), ‖Catatan‖ (PSBB, 2013), ‖Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti‖ (PSBB, 2014), ‖Dan Badut Pun Pasti Berlalu‖ (PSBB, 2017), ‖Serat Kiai Sutara‖ (PSBB, 2018). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *