Mengapa Fir’aun Hanya Membunuh Bayi Lelaki Saja?

Ilustrasi gambar (Fir’un)
Penulis: KH.
DR. Miftah el-Banjary, MA
Atorcator.Com
Diksi kata Fir’aun paling banyak disebut di dalam al-Qur’an. Paling
tidak, ada sekitar 33 kata lebih yang menyebut “Fir’aun” yang
tersebar pada beberapa surah dalam al-Qur’an, seperti surah al-Baqarah, Ali
Imran, al-‘Araf, Yunus, Hud, Ibrahim dan al-Isra.
Meski Fir’aun
bukan satu-satunya raja yang zhalim di muka bumi ini, namun cukuplah Fir’aun
sebagai simbol kelaliman yang diabadikan oleh al-Qur’an untuk setiap masa dan
setiap generasi umat manusia bahwa karakteristik yang sama akan selalu hadir,
dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan essensi dan subtansi yang sama.
Ada satu hal
yang menarik, jika kita mencermati kisah-kisah Bani Israel di dalam al-Qur’an,
kita akan mendapati kisah kelaliman Fir’aun yang kejam dan sadis memperlalukan
kaum Bani Israel yang tertindas dengan cara membunuh bayi lelaki dan membiarkan
hidup bayi perempuan.
Sebagaimana
yang dituturkan oleh al-Qur’an di dalam surah al-Baqarah: 49
يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي
ذَٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ
“..mereka
(Fir’aun) membunuh anak-anak lelaki kalian dan membiarkan anak-anak perempuan
kalian. Dan yang demikian itu musibah yang besar dari Tuhan kalian yang
memiliki keagungan..”
Pertanyaannya,
“Mengapa hanya bayi lelaki yang dibunuh, sedangkan bayi perempuan
tidak?”
Untuk menjawab
hal ini, ada baiknya kita kembali pada kisah sejarah Fir’aun itu sendiri!
Ibnu Katsir
meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya:
“Pada
suatu malam, Fir’aun pernah bermimpi menyaksikan satu gelombang api yang sangat
besar datang dari arah Baitul Maqdis menuju Mesir.
Api besar itu
melahap kerajaan Fir’aun serta simbol-simbol kekuasaannya dan juga membinasakan
orang-orang Qibty Mesir, namun anehnya tidak membinasakan kaum Bani Israel.
Keesokan
harinya, Fir’aun memanggil para peramal dan pentakwil mimpi untuk menta’birkan
mimpi anehnya itu.
“Wahai
para peramal, ramalkan apa yang akan terjadi terhadap kerajaan Mesir ini?”
titah Fir’aun.
Para pentakwil
mimpi sepakat memberikan jawaban bahwa tafsir dari mimpi tersebut akan terlahir
seorang lelaki dari keturunan Bani Israel yang akan memporak-porandakan
kerajaannya.”
Sejak itulah,
Fir’aun merasa khawatir dan ketakutan terhadap ancaman kelahiran bayi dari
orang-orang Bani Israel yang diperbudaknya itu akan melakukan perlawanan dan
menghancurkan dinasti kerajaannya.
Akhirnya,
Fir’aun memerintahkan pasukan khusus pendata bayi untuk mengontrol setiap
rumah-rumah penduduk Bani Israel untuk memastikan dan mendata siapa saja
wanita-wanita yang tengah mengandung dan memiliki bayi-bayi lelaki.
Jika sudah
diketahui, maka pada saat itu juga bayi tersebut akan dirampas, dan dibunuh
seketika. Tak ada yang bisa selamat jika sudah ditentukan dan diputuskan bahwa
bayi A atau bayi B itu yang akan menjadi target eksekusi.
Agak sedikit
unik, bahwa bayi lelaki yang dibunuh pun tidak setiap tahun, melainkan
berselang tahun. Mengapa?
Sebab Fir’aun
juga khawatir jika semua bayi lelaki yang dimusnahkan, maka habislah generasi
Bani Israel yang akan membuat kerajaan Fir’aun kehabisan tenaga pekerja budak
kasar.
Kebetulan Nabi
Harun yang masih kerabat dengan Nabi Musa, terlahir pada tahun yang berselang
berbeda dengan tahun kelahiran Nabi Musa, sehingga selagi masih bayi Nabi Harun
selamat dari target pembunuhan tentara Fir’aun.
Bayi Nabi Musa
seharusnya menjadi tahun eksekusi di tahun itu, namun atas kehendak Allah, bayi
itu justru masuk dan diasuh sendiri di kalangan kerajaan Fir’aun, bahkan
menjadi anak angkat Fir’aun.
Maka pesan
sejarahnya, meski pun Fir’aun terkenal sangat kuat dan lalim, banyak
menyebabkan kematian, maka sesungguhnya yang menghancurkan Fir’aun, kemungkinan
besar boleh saja bukan dari kalangan luar istana, melainkan dari dalam kalangan
istana itu sendiri.
Fir’aun bukan
dihancurkan dan dibinasakan oleh Nabi Musa, melainkan dihancurkan oleh kezhaliman
dan kejahatannya sendiri. Begitulah hukum Alam ini berlaku.

Wallahu ‘alam

KH. DR. Miftah
el-Banjary, MA
Penulis National Bestseller | Dosen
| Pakar Linguistik Arab & Sejarah Peradaban Islam | Lulusan Institute of
Arab Studies Cairo Mesir
.

Related Posts