Puasa Sebagai Refleksi Penyelamatan Lingkungan Hidup - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Kamis, Mei 09, 2019

Puasa Sebagai Refleksi Penyelamatan Lingkungan Hidup

m.semarangpos.com
Penulis: Wahyu Eka Setyawan

Atorcator.Com - Bumi semakin panas, di mana beberapa publikasi ilmiah mencatatkan peningkatan suhu hampir mencapai 1 derajat celcius. Maka tidak heran, jika di beberapa titik wilayah suhu bisa mencapai 29 hingga 30 derajat celcius. Belum lagi di kota-kota besar yang selain panas karena cuaca terik, juga diakibatkan oleh polusi yang semakin meningkat tajam. Hal ini menjadi isu bersama, mengenai peningkatan suhu di bumi dengan aneka dampaknya bagi kehidupan manusia, salah satunya ialah persoalan ibadah.

Salah satu ibadah yang terancam akibat peningkatan suhu ialah puasa. Peningkatan suhu ekstrem memaksa tubuh untuk menyesuaikan, tak jarang juga yang gagal untuk beradaptasi dengan ekstremnya suhu. Salah satu dampaknya ialah pusing-pusing, lemas dan kurang fokus. Hal ini diakibatkan oleh cuaca panas yang menguras habis energi tubuh, salah satu yang umum ditemui yakni dehidrasi. Tubuh manusia mayoritas adalah cairan, peningkatan suhu ekstrem memaksa cairan di tubuh keluar dengan cepat, melalui pori-pori kulit atau saluran pembuangan.

Hal ini menjadi persoalan serius, yang mana ibadah puasa menuntut kita untuk tidak makan dan minum selama 12 jam lebih. Dengan situasi dan kondisi inilah mengakibatkan kekhusukan ibadah puasa terganggu. Bukan hanya itu saja, di tengah bumi yang tidak baik-baik saja, suhu yang meningkat tajam ternyata bukan satu-satunya ancaman. Masih ada ancaman kekeringan hingga memburuknya kualitas udara. Tidak hanya ibadah puasa saja yang terancam, namun ibadah lainnya juga sangat riskan. Seperti ketika kita sholat butuh air bersih, ketika berdzikir membutuhkan udara yang segar dan hal-hal lain yang mendekatkan diri dengan sang khalik.

Maka dari itu, esensi seungguhnya ibadah puasa bukan hanya sekedar menahan haus dan lapar. Meningkatkan jumlah kunjungan ke masjid untuk berjamaah, hingga buka bersama dan sahur bersama. Bahkan melampaui tren kekinian yakni sekadar update status di media sosial. Namun, ibadah puasa Ramadan secara hakikat merupakan ajakan untuk merefleksikan diri terkait apa yang telah kita perbuat. Mengajak kita untuk berlaku adil serta melawan hawa nafsu, ini sangat relasional dengan berbagai tindakan-tindakan yang berpotensi merusak.

Puasa merupakan wujud transendensi, mencoba berinteraksi dengan sang khalik. Di dalam aspek teologi Islam mengajak setiap insan untuk kembali rabb. Menunjukkan suatu sisi hubungan vertikal, antara mahkluk dengan sang khalik. Selain itu, puasa juga manifestasi dari sisi ekuilibrium. Titik di mana manusia harus egaliter, duduk setara dengan manusia dan mahkluk lain baik biotik ataupun abiotik.

Secara horizontal hubungan tersebut terbagi menjadi dua yakni hablum minannas dan hablum minalalam. Dalam konteks hablum minannas, puasa Ramadhan sejatinya mengajak kita untuk memperbaiki hubungan sosial, dalam hal ini termanifestasi dalam sholat tarawih dan aneka kegiatan yang bersifat kolektif. Selain itu, ada hablum minalalam yang mana mengajak manusia untuk menjaga dan melestarikan alamnya. Dalam konteks ini puasa ialah menahan hawa nafsu, menjaga diri agar tidak berbuat kerusakan dan senantiasa menunjukan sisi rehabilitatif sebagai salah satu manifestasi memperbaiki diri.

Dari konteks ini puasa Ramadan sejatinya mengajak manusia untuk lebih baik, menahan hawa nafsu agar tidak merusak, memperbaiki diri agar bisa menjaga dan merawat. Karena puasa sendiri merupakan ibadah reflektif, baik secara horizontal maupun vertikal. Tentu, hal ini dapat dimaknai jika salah satu cara untuk menanggulangi bencana alam, ialah dengan istiqomah berbuat positif untuk bumi. Seperti berupaya untuk menahan, dan menghentikan peningkatan suhu di bumi yang mengakibatkan perubahan iklim.

Maka puasa Ramadan adalah cara jitu untuk merefleksikan diri, hingga masuk ke hakikat dari beribadah dan menjalankan perintah dari Allah SWT. Salah satunya ialah menjaga lingkungan hidup, serta serius dalam melawan perubahan iklim.

Perubahan iklim, rusaknya lingkungan hidup hari ini, merupakan akibat dari rakusnya manusia, perubahan perilaku dari manfaat ke mudharat, dari yang menggunakan sesuai kebutuhan menjadi perilaku boros menjurus ke ghuluw. Semua itu merupakan implikasi dari keserakahan manusia, mereka memakan apapun demi keuntungannya sendiri. Tanpa peduli orang lain dan kontinuitas peradaban manusia.

Puasa Ramadhan merupakan sebuah cara progresif, karena memiliki syarat materil untuk menjadi sebuah gerakan etis. Yang mana etika lingkungan hidup dapat dikonstruksikan melalui puasa Ramadhan, sebagai satu langkah konkrit dalam menghadapi perubahan iklim.

(Penulis Wahyu Eka Setyawan adalah Mahasiswa Unair, Walhi Jatim & FNKSDA)