Ramadan di Pesantren: Sebuah Kenangan KH Husein Muhammad (1)

Ilustrasi Foto (KH Husein Muhammad/Fahmina.or.id)
 Penulis: Husein Muhammad

Atorcator.Com – Saya dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pesantren di
Arjawinangun, namanya Pondok Pesantren Darut Tauhid yang didirikan oleh kakek
saya, KH. A. Syathori.
Masih terekam dalam memori otak saya, saat masih anak-anak,
kala bulan Ramadhan tiba, ada dua tradisi di pesantren itu, yaitu: pertama,
tradisi kiyai membagi-bagikan bubur kepada para santri pada setiap menjelang
maghrib untuk santapan buka puasa. Setiap jam 4 sore, para santri mulai antri
dengan tertib dan sabar di halaman pondok. Pada wajah mereka terlihat
kebahagiaan.
Mereka membawa piring (bukan piring beling/kaca, tetapi
piring seng/logam ringan), mangkok dan lain sebagainya—tergantung kepunyaan
masing-masing. Satu per satu dari mereka maju, dan pengurus pondok kemudian
menuangkan bubur ke piring masing-masing. Selain diberi bubur, mereka juga
diberi sayur lodeh dan teh manis. Ini semua merupakan sedekah /shodaqoh pribadi
kakek saya, bukan sumbangan dari masyarakat setempat.
Tidak seperti sekarang, dulu tidak ada kurma. Sehingga di
saat “ta’jil ” berbuka masyarakat di kampung lebih suka makanan
tradisional. Kalau sekarang, saat hubungan Indonesia dengan negeri-negeri di
Timur Tengah terjalin dengan baik dan intens, kurma bukanlah sesuatu yang
langka. Di setiap tempat kita pasti menemukannya, khususnya di bulan Ramadhan,
sebagai makanan nyaris ‘wajib’ untuk ta’jîl bagi sebagian kalangan.
Kedua, tradisi menabuh kentongan yang tujuannya membangunkan
orang pada waktu menjelang sahur. Setiap jam, dari pukul 12 malam, kentongan
itu ditabuh secara berbeda. Misalnya, pada pukul 12 ditabuh sebanyak 12 kali,
pukul 1 ditabuh sekali, dan begitu seterusnya—mirip dengan lonceng yang
berbunyi untuk menunjukkan waktu. Kemudian pada waktu imsak kentongan itu
ditabuh sebanyak 6 kali sebagai peringatan agar orang segera menghentikan
aktivitas makan.

Menariknya, kentongan itu menjadi rebutan di antara para
santri. Saya sendiri, misalnya, supaya kentongan itu tidak diambil anak-anak
yang lain, kadang harus memeluknya di saat sedang tidur, atau menyembunyikannya
di suatu tempat. Saat waktu menunjukkan pukul 12, saya bangun dan menabuhnya
dengan keras, sebanyak 12 kali. “Tung tung, tung tung”. Kalau sudah
begitu saya merasa gembira.

  • Husein Muhammad Pencinta kajian-kajian keislaman, utamanya di bidang ilmu fikih, tema-tema keperempuanan, dan ilmu tasawuf. Menulis beberapa buku, aktif di pelbagai forum kajian, baik nasional ataupun internasional. Tinggal di Pesantren Darut Tauhid, Cirebon, Jawa Barat

Related Posts