Saya Pembela Mazhab yang Empat

Ilustrasi Foto (NU-Online)
Penulis: Ahmad Sarwat, Lc, MA

Atorcator.Com – Seorang
teman menggelari saya sebagai nasihru al-madzahib al-arba’ah alias pembela
mazhab empat. Barangkali sering baca tulisan saya yang selalu kutip pendapat
mazhab yang empat.
Padahal,
Kalau saya boleh buka kartu,
sebenarnya saya bukan pembela mazhab empat secara langsung. Tapi kenapa jadi
membela, karena ada sebabnya, yaitu kurikukum perkuliahan saya di S1 LIPIA
memang selalu membahas mazhab yang empat : Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.
Memang belajarnya mazhab empat,
kitabnya memang khusus yaiti Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd. Begitu ujian,
soal yang keluar juga seputar mazhab yang empat. Misalnya gini :
اذكر أقوال الفقهاء
في مسألة قنوت الفجر مع ذكر الأدلة وعزوى الكلام إلى صاحبه وسبب اختلافم

 Jawabannya mau gak mau kudu dirinci
dari masing-masing mazhab, plus dengan dalil mereka masing-masing, serta
analisa kenapa mereka beda pendapat.
Panjang jawabannya bisa sampai 3-4
halaman untuk satu soal. Kadang jumlah soal sampai 5 nomor. Maka lembar jawaban
bisa mencapai 4×5= 20 halaman.
Saya sering menyebut bahwa ini
bukan lembar jawaban, tapi ini makalah ilmiyah
Gara-gara mata kuliah fiqih selama
8 semester itulah akhirnya kalau jawab pertanyaan, saya selalu menjawab pakai
mazhab yang empat. Udah kebiasaan sih sebenarnya.
Sayangnya kebanyakan ustadz di
kalangan muslim oerkotaan malah gak terbiasa menjawab pertanyaan model soal
ujian di LIPIA. Modalnya cuma pakai satu mazhab saja. 
Malah ada yang berani jawab soal
tidak pakai modal sama sekali, alias tidak pernah belajar ilmu fiqih babar
blas. Modalnya cuma pakai hadits doang.
Padahal haditsnya justru saling
bertentangan. Lalu jawabannya ditentukan berdasarkan fanatisme kelompoknya dia
aja. Kalau kelompoknya bilang A, ya dia bilang A. Kalau kelompoknya bilang B,
dia bilang B.
Pura-puranya pakai hadits shahih,
padahal seratus persen taqlid sama kelompoknya sendiri. Memang banyak akalnya.
Dan yang jadi murid main telan bulat-bulat aja.
Dia haramkan ikut para mujtahid
mazhab empat, tapi dia wajibkan taqlid ke kelompoknya. Walah kok nyungsang gitu
ya

  • Ahmad Sarwat, Lc. MA Pendiri Rumah Fiqih Indonesia (RFI), Direktur Sekolah Fiqih, dan Penulis 18 Seri Fiqih Kehidupan

Related Posts