Soenarko Selundupkan Senjata, Prabowo-Sandi Pancing Kerusuhan Nasional - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Minggu, Mei 26, 2019

Soenarko Selundupkan Senjata, Prabowo-Sandi Pancing Kerusuhan Nasional

Ilustrasi foto (CNN)
Penulis: Ninoy N Karundeng

Atorcator.Com - Edan. Bekas Danjen Kopassus Soenarko menyelundupkan senjata. Dicokok dan meringkuk di Rutan Guntur. Prabowo-Sandi tengah melakukan pertaruhan berbahaya. Di balik sikap mereka tercium niat jahat. Kejahatan ala mafia dan preman yang ditunggangi oleh gerakan khilafah, bahkan teroris. Kejahatan ini terstruktur dan sistematis. Saling memberikan peran. TNI/Polri dan BIN harus menemukan titik kejahatan terselubung.

Kerusuhan dengan dibalut atas nama demonstrasi terus didorong oleh kubu Prabowo. Atas nama keadilan, kedaulatan rakyat. Itu hanya kedok dari kejahatan, niat jahat. Demo tanpa tujuan jelas terus digaungkan sebagai hak konstitusional. Dahnil Simanjuntak, Prabowo, dan semua pentolan kubu Prabowo terus membela mereka agar demonstrasi. Tanpa henti. Kapan pun.

Bahkan sudah jelas kalah, mereka membangun kemenangan palsu. Menyuarakan kecurangan tanpa bukti. Itu khas provokator. Persis sama dengan peristiwa Pilpres 2014 lalu. Tidak menerima kekalahan. Maunya menang. Fadli Zon menyuarakan pasang ucapan selamat kepada Prabowo-Sandi sebagai presidan dan wakil presiden terpilih – bahkan sebelum KPU menetapkan.

Sejak awal, sebelum Pilpres 2019 mereka telah merancang kerusuhan. Narasi menang Pilpres 2019 Prabowo-Sandi sangat merusak nalar. Prabowo-Sandi akan menang kalau pemilu tidak curang. Ini pelaksanaan belum dilakukan sudah tidak percaya.

Amien Rais, sang provokator menyampaikan dengan jelas. Pilpres 2019 Prabowo harus menang. Jokowi harus dijungkalkan. Sengkuni ini pun menyatakan tidak akan memercayai Mahkamah Konstitusi (MA). Dia menginginkan menggerakkan people power. Bentuk lain pemaksaan alias makar.

Narasi tuduhan Pilpres curang terus dibangun – namun Pileg diterima. Sikap refleksi kejahatan pikiran kubu Prabowo. Untuk melontarkan tuduhan curang pun tidak ada bukti sama sekali. Penggelembungan suara, DPT, bahkan kematian anggota KPPS dan Bawaslu serta aparat kepolisian dan TNI dijadikan bahan fitnah.

Tujuannya untuk menggambarkan kecurangan. Padahal mekanisme konstitusional telah ada untuk dugaan curang. Namun, semua itu dinafikan. Bawaslu (dan KPU) dijadikan sebagai sasaran protes, tuduhan curang. Tanpa bukti.

Publik pun terpecah. Mereka digiring untuk tidak memercai KPU, Bawaslu, dan Pemerintahan Jokowi. Pendukung Prabowo dibuai oleh harapan palsu. Prabowo menang. Bagi pendukung Jokowi hal itu juga membuat mereka pasang kuda-kuda. Kisruh.

Situasi ini dimanfaatkan oleh para teroris. Ratusan teroris ditangkap di Bekasi, Tasikmalaya, Depok, Jakarta, Serang, Sibolga. Mereka bersama-sama bergerak. HTI dan khilafah bergerak ke lapangan. PKS memfasilitasi. Para teroris pun ikut bermain.

Masjid-masjid FPI dan PKS menjadi base camp mereka. Muncullah bendera hitam dan putih khilafah di depan gedung Bawaslu. Di Petamburan lebih rusuh. Asrama Brimob Petamburan diserang. 14 mobil dibakar, dua pendepo tewas. Ratusan orang terluka.

Para pendukung khilafah pemuja Prabowo melempari polisi dengan banyak batu,  diangkut dengan ambulan. Kondisi ini diperparah oleh kehadiran ACT. ACT menyalurkan sumbangan masyarakat ke sarang teroris di Idlib, Homs, Aleppo, Deir-Azzur dan kota-kota yang dikuasai teroris di Syria. ACT mendokumentasikan berita, menyebarkan, tujuannya untuk provokasi.

Namun, kubu Prabowo tidak ada upaya untuk meredam. Tidak ada himbauan untuk tidak turun ke lapangan. Mereka bersembunyi dengan HAM, hak konstitusional untuk demo. Maka ketika terjadi keributan, kerusuhan, tewanya pendemo oleh teroris, dan ratusan cedera, kubu Prabowo-Sandi tetap mendorong mereka demo. Dengan menuduh KPU  dan Bawaslu curang.

Narasi kecurangan terus dibangun. Bahkan ketika ada korban mimisan pun, para pendemo dan pendukung Prabowo menyebarkan fitnah. Ada masjid terbakar, padahal mereka membakar markas Brimob Petamburan. 99 perusuh ditangkap polisi.

Tujuannya adalah menyatukan emosi keagamaan, sentimen agama. Ini skenario untuk membangun kerusuhan. Persis seperti di Arab Springs. Yang menghancurkan Syria lewat hoaks dan fitnah media sosial.

Kubu Prabowo tetap mendukung demo tersebut. Artinya, narasi sejak awal dibangun oleh Prabowo, Fadli Zon, Amien Rais, Tengku Zulkarnaen, Kivlan Zen, Permadi, Andre Rosade, tentang people power, tetang aksi konstitusional, adalah upaya untuk membuat kerusuhan. Aparat Polri dan TNI tidak bisa membiarkannya.

Para teroris pun menyelundupkan senjata M-4, revolver pada 19 Mei 2019. Senjata M-4 bisa digunakan dengan memasang teropong, untuk sniper. Caranya mereka akan menembak pendemo agar timbul kerusuhan besar. Timbul ketidakpercayaan terhadap TNI/Polri.

Kekacauan ini dijadikan alasan untuk menurunkan Jokowi – dan mengangkat Prabowo. Ini seperti yang dilakukan oleh MUI Yogyakarta yang meminta Jokowi mundur. Kegilaan yang dibangun dari pikiran sinting. Ini akibat paham khilafah yang telah merasuk ke dalam jiwa mereka. Terlebih dengan narasi yang dibangun yakni negara tidak aman dan chaos.


Jadi, seluruh rangkaian kerusuhan akibat provokasi harus ditindak oleh Polri, sebelum menjadi api yang membakar negeri. Jika telah ditemukan, TNI/Polri tidak perlu takut Prabowo. Kelompok perusuh sejak semalam di Petamburan, Tanah Abang, Thamrin harus disikat habis, siapa pun di belakangnya. Termasuk Prabowo, Amien Rais. Para provokator yang memanas-manasi.

  • Ninoy N Karundeng Wakil presiden penyair Indonesia, penyair, seniman, dan budayawan