Agama Para Bajingan

Penulis: Taufiq Wr Hidayat
____________

Editor: Syarifah
Publisher: Azam Ibrohmy

Sabtu 15 Juni 2019 14:30
Ilustrasi foto/islami.co

Atorcator.Com – Budi Darma memang bukan Jorge Luis Borges. Siapa tahu? Namun Budi Darma, seperti juga Borges, telah menciptakan lorong tradisi yang asik dalam sastra. Di situ para pengikut ajarannya memeluk teguh lorong tradisi tersebut dengan setia.

Dengan “Olenka”, ia meyakinkan kita melalui fiksi dan kliping-kliping, bahwa kepercumaan, kekejian, derita, dan kesepian bukan sekadar cerita.Tetapi barangkali hingga melampaui realitas. Dekat. Dan karib dalam kehidupan. Bagai potongan-potongan insiden, rangkaian rumit yang diterjemahkan sebagai barang bukti, lalu tampak wajah nista yang samar berada di balik semua itu. Menjadi dalang yang tak punya banyak pilihan.

Tokoh-tokoh dalam Budi Darma itu tampak terhormat, harum, dan mapan. Juga tersisih, mengidap kesepian yang menyakitkan, terasing, dan tak berdaya. Tapi memiliki kekejian yang terampil, menyimpan semacam luka dari masa lalu—mungkin kejayaan yang terampas, yang tak tersembuhkan selain kesumat dendam yang busuk dan kelam. Ada kebencian tak terjelaskan. Menyimpang. Psikopatis. Penyimpangan-penyimpangan yang sesungguhnya akibat ketakberdayaan, sepi yang menyakitkan hati, tersisih, dan merasa tersingkir tak berarti.
Di sisi lain, memendam hasrat yang tak senonoh. 

Lalu diam-diam atau terang-terangan menjebol batas-batas kewajaran. Sebagaimana fiksi Borges, penyimpangan justru bagai sebuah anugerah busuk yang dimaklumkan. Perbuatan aib tokoh-tokoh dalam sejarah itu mashur lantaran dilakukan berulang-ulang. Manusia memang selalu tak kunjung menyadari aibnya sendiri. Ia tak mau berubah, lantaran yang ia yakini berubah hanyalah waktu. Bukan dirinya.

Keberulang-keberulangan perbuatan aib itu menandakan manusia hanya makhluk lemah yang seringkali merasa paling kuat, paling mujur, dan pongah. Mereka yang terlanjur menokohkan tokoh-tokoh yang penuh aib itu, melakukan pembelaan habis-habisan, memitoskan, atau mencari alasan pembenaran yang seolah-olah kebenaran. Selalu saja pembenaran itu konyol dan gombal. Borges mengajak kita melihat para tokoh sejarah itu apa adanya, dengan jujur dan manusiawi. Melalui fiksinya yang ganjil dan mashur manusia semestinyalah dipandang secara wajar dan manusiawi. Tak ada manusia sakti tak terkalahkan. Karena ia makhluk. Bukan Tuhan.

Kelebihan dan kemuliaan manusia tak lain karena ia benar-benar menjalani dan melayani hidupnya dengan sebuah pengabdian yang jujur dan wajar. Ia hanya mengadu ketika terkena duri. Tetapi apa pun pembenaran yang tak terukur oleh kewajaran dan kemanusiaan tak lain upaya pemberhalaan manusia, pemuja keturunan, dan penghamba kemelimpahan.

Dan agama, dalam kisah-kisah “A Universal History of Infamy” Borges, seringkali menjadi sarana membela kebusukan dan alat pembenaran terhadap aib mereka yang terlanjur diagungkan, dipandang, dianggap. Sehingga agama beserta institusi, tokoh, dan tatanan formalnya hanya menciptakan manipulasi.

Orang lalu beriman sampai mati pada mereka yang ngaku-ngaku ahli agama, pelayan umat, tapi tanpa perilaku yang jujur dan membebaskan. Padahal cuma pandai nerocos dengan satu dua ayat suci, sudah ngaku ahli dan jagoan ayat suci. Itu dilakukan guna menertibkan dan memperbudak masyarakat, membuai dengan janji, menakuti pakai ancaman, melakukan pembodohan demi meraih atau mempertahankan kekuasaan dan ambisi, juga menutup rapat setiap aib tak senonoh dan memalukan. Para bajingan yang merias diri sebagai nabi-nabi palsu, pahlawan, cendekiawan, atau orang suci.

Barangkali bagi Borges, sejarah tanpa kejujuran cuma melahirkan para pelawak dengan lelucon konyol yang menyedihkan, sehebat apa pun ia “merias diri” dalam sejarah. Itulah barangkali sebab, ketika Muhammad Sang Nabi ditanya kaumnya di Makkah perihal apa yang sebenarnya tengah diperankannya, beliau tak menjawab sebagai ahli agama apalagi ahli kitab suci. Melainkan hanyalah menggenapi akhlak (perabadaban) yang seharusnya, yakni nilai kemanusiaan dan kewajaran yang meniscayakan tiap orang untuk saling menyelamatkan, menghargai, dan saling mencintai.

Tak perlu saling melukai, mengutuk, dan saling menyakiti. Lantaran dengan begitu, sejarah ditegakkan tanpa pemaksaan. Atau jika pemaksaan tak terhindarkan, ia melakukan perlawanan wajar demi sekadar membela hak hidup kemanusiaan. Beliau menyiarkan ayat-Nya: fadzakkir innamaa-anta mudzakkir, lasta ‘alaihim bi-musaitir: “teladankanlah (dengan ingatan dan perilaku yang manusiawi/dzakkir), sesungguhnya tugasmu hanya itu (mudzakkir), tidaklah kamu berkuasa terhadap mereka”. Bukankah ini cukup mudah dimengerti?

Rupanya tokoh-tokoh gelap-kelabu dalam fiksi Budi Darma dan Borges itu, menyimpan batin para tokoh komik Barat karya Frank Miller yang difilmkan bersama Robert Rodriguez menjadi “Sin City 1 & 2” (2005 & 2014). Film hitam-putih ini tampak puitis. Seperti komik. Seolah menggambarkan kejahatan dan ulah keji para bajingan itu dipandang secara komikal.

Dalam film ini, kisah pahlawan suci yang selalu menang dan diberkati Tuhan memberantas kejahatan cuma omong kosong. Yang ada hanyalah orang yang membela atau bertahan hidup, agar tetap hidup saja. Kebajikan pun hanya bersifat komikal. Kebajikan yang lemah, terpendam hilang di belantara kehidupan kota yang memualkan.
Pada film ini dikisahkan perempuan oportunis manipulatif yang sepertinya juga seorang sosiopath. Dalam “Sin City”, sosok Jessica Alba dengan dadanya yang simetris, kenyal, dan agung mewarnai film hitam-putih ini dengan nafsu purba yang nikmat.

Surga yang nyata seperti khayalan kaum beragama yang memahami agamanya belaka setumpukan janji dan ancaman yang tak pernah termanifestasikan dalam perbuatan. Bokong Jessica Alba yang singset, menciptakan khayal yang melayang laki-laki untuk buru-buru mendatanginya dengan ganas, lapar, dan brutal. Liuk tubuh sang penari telanjang dalam “Sin City” itu terlalu luhur dengan keringat yang lengket di tengah belantara omong kosong dan hidup yang tanpa hati.

Tetapi mungkin memang begitulah dosa. Ia terlampau lezat untuk tak dikerjakan, terlalu menggoda dibiarkan, dan teramat manis dilupakan. Ia dialami mereka yang terjebak. Namun ia pun dikerjakan dengan seribu alasan pembenaran yang digali dari gudang moral dan agama.

Di tempat lain di film ini, penguasa memutilasi perempuan, meledakkan kepala seorang ahli kartu lantaran ia tak dapat mengalahkan si ahli kartu tersebut dalam sebuah permainan kartu. Tak ada kehebatan dan kewibawaan di hadapan senjata. Sehebat apa pun hukum ditegakkan, sebagus apa pun konsep demokrasi, akan beres cuma dengan sebutir peluru yang diledakkan di kepala manusia.

Mengingatkan saya pada pesan Gus Dur, agar jangan mendukung siapa pun dan sebaik apa pun menjadi pemimpin negara dari kalangan orang bersenjata. Barangkali karena senjata memang tak pernah mau mengalah pada aturan-aturan permainan, selain harus menang dengan cara menghabisi lawan, aturan yang berlaku cuma aturan-aturan dan tata cara penggunaan senjata. Tetapi keniscayaan semesta akan berkata lain, bahwa sejarah tak pernah dapat ditundukkan oleh senjata.

Sejarah mustahil menyerah dalam todongan pistol atau ditakut-takuti pakai amunisi. Sejarah punya caranya yang abadi, mengokohkan hidup yang selalu berpijak pada keselamatan bersama. 

Lantaran demikianlah fitrah manusia.
Jika fitrah atau sifat asasi manusia ingin sejahtera bersama, sejatinya agama lahir dari padanya. Bagi North Whitehead, semua agama, sebagaimana moralitas, tak lain proses menjadi (to become) dari keberadaannya (to be).

Jika agama tak membuat seseorang menuju sepi untuk menemukan dan menciptakan dirinya sendiri secara personal, semua aturan agama hanya sederetan tata aturan dan simbol-simbol yang tak lebih dari seonggok berhala kuno yang tak pernah menyadari keberadaannya di tengah perubahan ruang dan waktu.

Bagi Marquez de Sade, Tuhan manusia adalah pertemuan kelamin (terserah sejenis atau tak) yang tak dapat membedakan antara rasa nikmat dan sakit. Pada puncaknya, manusia menghamba pada kelamin. Yang kelabu. Yang dalam perjalanan penghambannya pada kelamin itu, ia terjerembab di lembah dalam, gelap, berlendir, dan tak pernah dimengerti.

Lalu agama selalu dimunculkan banyak orang sebagai pembersih. Bahkan menutup-nutupi yang kelam dan nista. Dijadikan alat pembenar meraih kekuasaan yang bermuara pada kenikmatan kelamin dengan membodohkan dan merampas. Dan nikmat kelamin itu—tentu saja bagi Freud, tak hanya bermakna pertemuan antarkelamin. Tapi sahwat dihormati, dipuji, dipatuhi, dan memperbudak.

Tetapi Freud menengarai, persoalan agama tak lain persoalan psikologis. Orang yang pemarah, akan menciptakan agamanya agama yang marah-marah. Dicarinya teks-teks agama yang dirasa sesuai untuk mendukung sikapnya yang pemarah itu. Orang yang gila kekuasaan, akan menciptakan agamanya agama yang sangat politis, dicarinya teks-teks agama yang sesuai guna mendukung ambisi kekuasaannya.

Kalau tak ada teks yang cocok, maka teks-teks agama itu ia manipulasi, direkasaya sedemikian rupa guna mendukung ambisi berkuasanya. Pada keadaan ini, kemunculan agama hanyalah cermin kondisi kejiwaan manusia yang sedang bermasalah.

Sehingga jelaslah, agama yang demikian tak bisa disebut sebagai agama yang sebenar agama. Teks-teks atau ajaran agama yang demikian itu telah mengalami campur tangan subyektif kejiwaan seseorang. Agama di tangan para bajingan hanya senjata untuk mengutuk dan menindas, menutupi aib, menipu, dan menyerang semua lawannya, menyeret kesucian iman pada wilayah kalah dan menang, pada wilayah keuntungan pribadi, kultus, dan sejuta omong kosong perihal janji dan ancaman yang memasung hak-hak dasar manusia.

Lantaran ia tanpa kearifan ilmu dan keterlibatan aktif dalam menciptakan serta merawat keselamatan dan kesejahteraan bersama. Sejatinya agama mencegah kerusakan, bukan justru menimbulkan kerusakan atasnama Tuhan. Pencegahan ini berfungsi menjaga kesejahteraan bersama. Tak tercipta kesejahteraan tanpa penjagaan, lantaran kesejahteraan adalah fitrah hidup yang niscaya yang kelestariannya mestilah membutuhkan penjagaan.

Pencegahan kerusakan tersebut diutamakan daripada sok suci menepuk dada sebagai pahlawan atau “ahli surga” demi menolong atau memberantas kerusakan. Pengertian ini yang dalam kaidah Fiqih disebut “dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih”. Menjadi teranglah apa yang dalam buku kuno “Ta’lim Muta’allim” Tuan az-Zarnuji; “afdholul ilmi ilmul khal, wat-afdholul ‘amali hifdzul khal” (sejatinya ilmu ialah perihal perilaku, dan sejatinya perilaku itu ialah menjaga perilaku). “Jatining ngelmu dhumateng tingkah laku,” kata orang Jawa. Ia bersifat menyentosakan dan mengikis keangkara-murkaan. Upaya penjagaan dan menjaga (hifdzu) dalam khasanah Islam itu sesungguhnya landasan setiap gerak kehidupan kaum muslimin, baik sosial-politik maupun ekonomi.

Itu kiranya yang mengganggu pikiran Chekov, tatkala ia mengisahkan sekelompok orang saleh yang buta pada perubahan. Hidup dibentengi aturan iman dan agama secara angkuh. Ketika mereka baru saja mendengar alangkah lezatnya kehidupan kota yang tak terikat aturan moral dan agama, mereka pun meninggalkan kuil.

Bergegas mereguk dosa yang tak akan pernah habis, kebebasan yang jahanam, yang lezatnya melampaui khayalan surga yang selalu dijanjikan dalam agama tanpa pernah ditemukan dalam kenyataan, yang dengan menakjubkan mengaburkan nikmat dan sakit. Kenapa untuk ke surga harus mati dulu dan melewati tahapan yang panjang? Kenapa surga tak dapat diraih sekarang sebagai imbalan orang beriman yang menyerahkan hidupnya dalam ibadah atau pengabdian formal yang melelahkan dalam sebuah benteng keimanan yang angkuh? Tanpa melihat dan mengalami semesta (realitas hidup dengan segala warna dan ketimpangannya), agama tak lebih cuma mencetak orang-orang angkuh yang mengasihani diri atau kelompoknya sendiri. Beragama yang berdusta, berkhianat, memanipulasi agamanya dengan dalil-dalil dangkal demi kekuasaan, ketentraman hidup sendiri, dan surga yang tak pernah dialami.

Ada sebuah “tanda tanya ketuhanan” yang integral dalam batin kemanusiaan, namun jawabnya selalu sangat panjang dalam sejarah. “Aro’aytal-ladzi yukaddibu bid-dien?” firman-Nya. Tahukah kamu orang-orang yang berdusta, menipu, dan berkhianat pada agamanya, pada nilai-nilai asasi dalam diri dan masyarakatnya? Tanya-Nya. Itulah kiranya pertanyaan yang tak pernah selesai dijawab, selalu mengguncangkan dada yang masih menyimpan hati dan kesadaran.
Banyuwangi, 2019


  • Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo￾Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi ‖Suluk Rindu‖ (YMAB, 2003), ‖Muncar Senjakala‖ (PSBB, 2009), kumpulan cerita ‖Kisah-kisah dari Timur‖ (PSBB, 2010), ‖Catatan‖ (PSBB, 2013), ‖Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti‖ (PSBB, 2014), ‖Dan Badut Pun Pasti Berlalu‖ (PSBB, 2017), ‖Serat Kiai Sutara‖ (PSBB, 2018). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi

Related Posts