“Hikmah Belajar dengan Metode yang Tepat dan Benar”

Penulis: Vanzaka Musyafa
Selasa 25 Juni 2019 06:00

Ilustrasi foto/, pojokan



Atorcator.Com – Kehadiran manusia di muka bumi ini tidak lain untuk beramal. Bekerja sesuai status, posisi dan kemampuannya. Mulai dari bayi sampai tua renta.


Bagaimana tidak? Jika kita telisik semua ciptaan Tuhan hampir tidak ada yang diam, bukan? Misal, Sekelas pohon yang terlihat keras dan tidak dapat dibengkokkan saja dia juga bergerak. 


Ada cerita nih. Dulu saya pernah jalan-jalan ke Jepara. Kota pesantren di mana saya mulai faham ilmu nahwu dan sharaf. Meski tidak terlalu ahli.


Dalam perjalanan tersebut saya melewati daerah Keling Jepara. Kurang lebih pukul 06:30. Kiri kanan kulihat saja banyak pohon karet nan condong arah timur. Waw keren, bisa kompak gitu! Kata saya dalam hati. 


Singkat cerita saya pulang pukul 17:00. Setelah saya amati, kok beda ya condongnya? Sekarang kearah barat. Dari situ saya dapet pencerahan tentang ilmu biologi oleh temen diperjalanan. Dan ibrohnya (pelajaran) adalah bahwa pohon pun bergerak. 


Jangankan pohon. Batu pun demikian. Walaupun sekilas memang disebut benda mati. Namun, ia dapat melebur menjadi pasir dan semen. Baik secara kimiawi maupun diolah oleh manusia. 


Dikatakan dalam surah al-ashr yang artinya, “Demi masa. Sungguh orang-orang itu dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman,” beramal shalih”, berlomba dalam kebaikan dan bersabar”.


Coba direnungkan. Seluruh manusia akan merasa rugi. Pernyataan itu pun tidak main-main, karena ada sighot sumpah Allah. Dikecualikan adalah orang-orang yang beramal shalih, maslahat untuk ummat.


Seseorang yang bekerja saja kadang masih merugi. Apa lagi orang yang tidak berkeinginan menyapa matahari.


Hanya saja, ketika seorang itu bekerja, belajar, dan beraktifitas harus memiliki prinsip. Yakni metode atau prosedur pelaksanaan aktifitas tersebut. Yang jadi penentu dalam keberhasilan bukan dari sebesar apa hal yang digelutinya. Akan tetapi, walau pun yang digeluti itu hal yang kecil, disertai metode yang tepat maka, akan menghasilkan karya yang hebat.


Dawuh KH. Taufiqul Hakim (Pengasuh Pesantren Darul Falah Amtsilati di Jepara) dalam kitabnya:


  • من أخطاء الطريق كان ضل # ولم يزل قصده قل جل



“Salah jalan maka sesat dan tak bisa # menggapai cita-cita kecil besarnya”. 


Bahwa orang yang salah metode, maka sulit berhasilnya. So, metode itu sangat diperlukan untuk menyokong keberhasilan sebuah usaha. Baik yang berprofesi berdagang misal, dia tidak akan sukses jika lokasi tokonya saja tidak strategis. 


Terlebih bagi pelajar yang masih berproses. Metode pembelajaran yang digunakan harus presisi/sesuai jenjangnya. Jika masih setingkat TK, maka pembelajaran ya cukup menggambar dan menyanyi. SD sudah mulai dibimbing berhitung dan melancarkan bacaan. Begitu seterusnya sampai ketika menjadi mahasiswa. Metode pembelajarannya sudah tidak lagi dengan sistem disuapi. Harus mencari dan makan sendiri. 


Ada cerita juga dari seorang teman (sebut saja namanya mas  Beta) yang pernah menang dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional. Dia mengatakan “lawan saya itu, rata-rata semuanya meneliti sebuah perusahaan yang besar. Sedangkan saya cuma neliti kafe sawah. Tapi anehnya saya mendapat juara dua”. 


Setelah berhasil mendapat penghargaan dia berfikir. Apa sebenarnya yang membuat saya menang? Dan setelah berdiskusi dengan temannya ternyata yang menjadi nilai utama dalam hal ini bukan ide gilanya. Akan tetapi metode penelitiannya dimana meski yang diteliti sekedar kafe dipinggir sawah, dapat memberikan gambaran kecil secara rinci dan komprehensif. 


Begitu pula dengan KH. Taufiqul Hakim. Beliau tidak muluk-muluk dalam mengarang kitab. Kitab yang dikarang kebanyakan adalah seukuran buku saku. Walaupun kitabnya kecil. namun, menyimpan segudang penafsiran dan kemanfaatan bagi saya. 


Dan subhanallah, dengan waktu yang relatif singkat. Mulai dari tahun 2001 hingga saya mondok disana. Mulai masuk sekitar mulai tahun 2010. Kitab yang bernama Almtsilati sudah merambah nasional bahkan internasional. Dari informasi yang penulis dapatkan, sudah sampai Malaysia, Singapore dan Yaman. Begitu juga banyak alumninya yang melanjutkan di Yaman, Arab Saudi dan Maroko. 


Konklusinya adalah metode itu sangat diperlukan dalam berbagai hal, baik dalam bekerja, berorganisasi, berdakwah dan utamanya dalam belajar. Meski hal yang digeluti itu tidak menggila. Tapi jika metode yang dipakai tepat, maka akan menghasilkan karya yang hebat. Sampai dikatakan 


“atthariqotu ahammu min al-maadah, wa al-ustadz ahammu min al-thoriqoh”


Bahwa metode itu lebih penting dari materi, dan ustadz/guru itu lebih penting dari metode. 


Wallahu a’lam bi al-showab… 


  • Vanzaka Musyafa pengurus jam’iyah ngaji pegon Malang

Related Posts