Kebenaran Hadits “Dibalik Skenario Trend Simbolik Akhir Zaman”

 Penulis: KH. DR. Miftah el-Banjary, MA
________
Editor: Syarifah
Publisher: Nailatul izzah
Ilustrasi foto (Duta-Islam)

Atorcator.Com – Diantara hadits Rasulullah shallallahu alaihi wassalam yang
diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ، عَنِ النَّبِيِّ -صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: «لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا
شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ
تَبِعْتُمُوهُمْ». قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ: الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ:
«فَمَنْ»؟
Dari Abi Sa’id al-Khudri dari Nabi shallallahu alaihi
wassalam bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi-tradisi
umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga
sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun, kalian akan mengikuti
mereka. Lantas para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah mereka
golongan Yahudi dan Nasrani? Rasulullah menjawab, “Siapa lagi jika bukan
mereka?!”
Dari hadits ini, mengisyaratkan bahwa ancaman bagi kaum
muslimin di akhir zaman, mereka akan rentan dan mudah sekali terjebak dalam
adat tradisi dan kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani dalam banyak demensi
kehidupan.
Faktanya hari ini, banyak kaum muslimin yang telah kehilangan
identitas keislaman mereka. Mereka tidak lagi bangga dengan simbol-simbol
keislaman mereka, bahkan cenderung minder dan malu menunjukkan identitas
kemusliman mereka sesungguhnya.
Bahkan justru hari ini, banyak orang yang merasa bangga dan
sudah merasa modern hanya dengan mengikuti trend kekininian ala Western, ala
Eropa, ala Korea, ala Jepang, dan trend kekinian non-Islami lainnya; yang
sejatinya tidak sedikit menyimpang dari tradisi kehidupan role seorang muslim.
Baik dari model fashion, penampilan, gaya berpakaian, menu
makanan, gaya bicara, jenis musik, hiburan, life style, hingga pola pemikiran
yang mengusung ide dan wacana liberalisasi dan sekulerisasi.
Islam sesungguhnya tidak membatasi kemajuan, Islam juga tidak
menghalangi modernisasi, selama batas-batas identitas dan jati diri keislaman
itu tetap dijaga dan dipertahankan. Islam bukan sekedar belief; kepercayaan,
tapi Islam juga model role yang memiliki standar nilai yang mengatur semua lini
kehidupan umatnya dari bangun tidur hingga tidur lagi.
Hari ini, banyak umat Islam yang lebih bangga merayakan hari
ulang tahun dengan tiup lilin diiringi nyanyian “Happy Birthday”,
ketimbang mensyukuri hari miladnya dengan cara berpuasa, bersedekah, dan
berdoa, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dalam setiap kali merayakan
hari kelahiran beliau.
Hari ini, banyak orang Islam lebih memilih mempercayai
ramalan zodiak perbintangan, ketimbang mempercayai kebenaran al-Qur’an dan
hadits-hadits Nabi shallallahu alaihiwassalam serta fatwa para ulama shalihin.
Hari ini, banyak anak-anak muda generasi Islam yang lebih
suka mendengarkan lagu-lagu Barat, K Pop, Jazz, Rock, dan genre musik-musik
non-Islami, ketimbang menyimak tilawah para qari melantunkan lagu-lagu indah
al-Qur’an serta lantunan shalawat-shalawat kecintaan terhadap Rasulullah.
Hari ini, banyak orang Islam yang lebih mengenal serta
memfavoritkan idola pemain sepakbola dunia, aktor film-film Holywood, bintang
aktris drama Korea, sejumlah selebritis dan penyanyi idola mereka, daripada
mengenal sejarah para ulama dan tokoh pejuang Islam yang berjasa besar terhadap
Islam.
Sampai pada akhirnya, penggunaan simbol-simbol Yahudi dan
Nasrani pada tempat-tempat ibadah kaum muslimin pun akan ditolerir. Seperti,
simbol segitiga Piramid, mata satu Dajjal, simbol Illuminati dan sejenisnya
akan dianggap biasa-biasa saja yang tidak perlu dipersoalkan.
Memang secara akidah, tidak ada yang kita khawatirkan dari
simbol-simbol tersebut, simbol tersebut tidak akan sedikit mengubah, bahkan
menggeser keyakinan kepercayaan tauhid kita. Akan tetapi, persoalannya bukan
sekedar simbol-simbol itu.
Lebih dari itu, ada tujuan terselebung dibalik itu yang akan
menggeser perlahan masuk ke dalam skenario dan rencana besar mereka, mengikuti
ajaran mereka. Hal itu yang tidak kita inginkan dan tidak juga diinginkan oleh
Rasulullah menimpa umatnya di akhir zaman, sebagaimana hadits di atas.
Inilah mengapa kaum muslimin harusnya peka dan kritis dalam
persoalan akidah dan keagamaan, bukan sekedar simboliknya, akan tetapi pada
“message” dan makna dari simbol tersebut yang tidak inginkan dan
harus dihindari.
Inilah mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wassalam
semenjak 14 abad yang lalu, telah memberikan kabar tentang apa saja yang akan
terjadi menjelang datangnya peristiwa akhir zaman. Dan hari ini, semua itu
telah terbukti kebenarannya.

Semoga saja kita dan keluarga bukan termasuk dari golongan
yang terjebak dalam skenario trend akhir zaman tersebut. Allahumma sallimna.

  • KH. DR. Miftah el-Banjary, MA Penulis National Bestseller | Dosen | Pakar Linguistik Arab & Sejarah Peradaban Islam | Lulusan Institute of Arab Studies Cairo Mesir

Related Posts