Kejamnya Warung Kopi Ber-Wifi yang Harus Membayar Menggunakan Laptop

Penulis: Moh. Syahri

__________

Editor: Syarifah
Publisher: Nailatul Izzah
IkusIlust foto (mas founder yang sedang ngopi)


Atorcator.Com – Waktu perjalanan ke kantor cabang Bank ngurus ATM yang ditelen mesin ATM yang sedang lapar. Saya coba menongkrongi salah satu warkop di Sumenep yang direkomendasi oleh teman, yang katanya difasilitasi WiFi yang memiliki kecepatan cukup lumayan. Alih-alih untuk menghilangkan rasa jenuh, dan lelah bercampur penat dan yang tak kalah penting untuk nyukurin atas kembalinya ATM saya yang ketelen.

Saya klo pulang kampung, sebenarnya jarang ngopi-ngopi seperti halnya di Malang. Saya lebih enak ke Telkom WiFi id saja walaupun jaraknya lumayan jauh dari rumah sekitar 12 kiloan.

Setibanya di tempat warung kopi Sumenep, saya bingung minuman apa yang pas buat siang-siang gini. Kebingungan ini membuat saya lama mendatangi tempat pemesanan sambil mikir keras sembari melihat pemandangan yang ada di sekitar tempat warkop itu.

Wal_hasil, saya putuskan untuk minum minuman yang biasa-biasa saja. Di samping minuman + rokok jauh lebih penting bagi saya adalah WiFi nya. Karenanya, saya termasuk tipe orang yang tidak gampang masuk warkop sembarangan klo fasilitasnya tidak begitu memadai dan WiFi nya tidak lancar….hahahaha ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ kecuali terpaksa

Saya berangkat masuk warkop. Saya datangi mas-mas pemesanan yang merangkap jadi kasir.
“Mas, saya pesan teh tarik,” ujar saya tanpa melihat daftar menu yang nggak tau ada apa tidak.

Saya mengira, mas-mas itu paham dengan nama minuman yang saya pesan itu. Ternyata tidak. Ia malah menunjukkan wajah bingungnya sembari menanyakan balik ke saya “Teh tarik mas?

“Iya mas” jawab saya dengan penuh tegas dan meyakinkan

“Apa itu mas?” tambahnya

“Teh susu mas, tapi dingin ya…” ujar saya dengan nada agak keras.

Wah, saya jadi malu sendiri. Saya seperti menggurui dia soal aneka macam minuman. Padahal minuman itu sangat familiar, termasuk juga terkenal di Singapura dan Malaysia. Saya pun bukan orang marketing manager warung kopi yang tau segalanya.

Saya lantas, coba iseng-iseng menanyakan soal Wifi. “Mas, di sini bisa pakek laptop?”

“Bisa mas, tapi klo laptop bayar mas, satu jamnya dua ribu klo tiga jam lima ribu. Tapi Klo HP bebas” jawabnya dengan detail dan lengkap.

Kali ini saya yang dibuat bingung oleh dia.

“Lho, masak bayar mas?”

“Iya mas, soalnya klo laptop itu mengganggu ke yang lain” ujarnya dia yang seolah-olah juga menggurui saya. Nah, ini ceritanya saling menggurui.

Saya yang biasa pakek laptop tiap ke warung kopi. Rasanya kurang afdhol jika ke warung kopi nggak mencet tombol laptop untuk ngakses sesuatu. Ya walaupun sekadar buat bahan curhat.

“Oke mas saya bayar lima ribu untuk tiga jam sekalian ya…”

“Siap mas,” sambil senyum-senyum dan gembira yang rasanya tak banyak orang bisa make laptop di tempat ini.

Bajigur. Saya tak habis pikir. Aturan pakai WiFi di warung kopi ada yang seribet dan sejelimet ini.
Seberapa untungkah warung kopi yang menerapkan aturan seperti itu? Untuk siapakah warung kopi yang difasilitasi WiFi itu, apa ia tidak buat mahasiswa yang biasanya uang mepet dan tiap harinya bisa dibilang ngerjain tugas makalah yang kadang melalui refrensi akses jurnal?

Sepanjang perjalanan pulang, saya terus saja merenung “Apa hubungannya jawaban mas tadi itu ya…? Apa iya setelah saya bayar lima ribu pakek laptop akses internetnya tidak lemot? Kenapa nggak sekalian larang pengguna laptop jika memang memprioritaskan kecepatan akses internet?”

Ah, sudahlah. Di dunia ini memang sepertinya mustahil ada yang bisa seperti Rasulullah saat berdagang. Hidup ini memang semakin hari semakin keras walaupun tidak semuanya bisa cerdas. Makanya klo bekerja harus lebih keras dan lebih cerdas.

  • Moh. Syahri Founder Atorcator | Pernah nyantri di Pondok Pesantren Darul Istiqomah Batuan Sumenep Madura

Related Posts