Kisah Kecil Tentang Legenda Hidup Sang Gelandangan Politik

Penulis: Taufiq Wr Hidayat


Jumat 21 Juni 2019 18:23
Ilustrasi foto/Kompas


Atorcator.Com – “Negara tidak butuh agama, Jendral!” ujar Labudah kepada Sadimin. Tapi Sadimin bukan jendral. Labudah pun bukan jendral. Juga bukan mantan jendral.

“Negara hanya butuh orang-orang fanatik buta. Tidak harus bodoh. Tapi yang penting bisa dibodohi. Yang dapat diperalat untuk rela berkorban segala-galanya membela kepentingan berkuasa. Kemudian kita katakan pada mereka, agama sedang terancam.

Sehingga mereka yakin agama memang terancam dan gawat. Lalu mereka bangkit. Kebangkitan agama sebagai simbol selamanya adalah kepentingan politik praktis dan kekuasaan. Bangga-banggaan. Itu rumus!”

“Mereka kaum beragama yang merasa terancam itu, dijadikan pendukung seorang pemimpin politik, pemimpin politik yang tak beragama. 

Cukup mengaku dan berlagak beragama dan menepuk diri akan menyelamatkan agama, menegakkan kebenaran dan keadilan dengan berupaya mendirikan kerajaan Tuhan di dunia, berjanji memberikan pekerjaan dan mengentaskan kemiskinan, serta siap membentengi rakyat dari serangan orang asing,” kata Labudah kepada Sadimin. Gleg! Seteguk anggur semerah darah memasuki tenggorokan Labudah.

Sadimin diam saja. Tidak tertawa. Tidak tersenyum. Sebenarnya Sadimin mau tertawa, tapi dia menahan tawanya. Karena tertawa di hadapan Labudah saat ini, saat dia tengah berduka atas kekalahannya dalam Pemilu adalah makar!

Kejahatan. Dan pengkhianatan tak terampunkan. Maka Sadimin diam saja. Menahan tawa. Menahan segalanya. Diam. Dia cuma tukang kebun. Tukang kebun yang dipanggil Labudah untuk mendengarkan ocehan dari mulut Labudah.

“Dasar gelandangan politik!” ujar Sadimin dalam hati. Tentu Labudah tidak mendengar kata-kata Sadimin yang diucapkan di dalam hatinya itu.

“Tahukah kamu wahai Sadimin, tukang kebun? Saya paling benci kalau dibilang gelandangan politik. Itu sangat ngawur, jendral!”

“Ingat! Seorang jendral itu hebat. Nyawa manusia itu kecil!” Labudah menunjukkan ujung jari kelingkingnya dengan ibu jari. “Sekali bidik. Dor!” tangannya membidik, berbentuk pistol. “Maka beres!” lalu telapak tangan kanannya seolah meratakan tanah.

“Satu peluru adalah satu nyawa. Hanya dengan sekali batuk kecil saja, saya dapat menciptakan kerusuhan yang masif, terorganisir, dan mengerikan. Menembakkan peluru dari tempat tidur. Cukup sekali jentik. Penembak-penembak yang tak terlihat, bergerak senyap, tak terlacak. Seperti hantu. Saya adalah mantan penggerak mahasiswa yang pernah menjatuhkan sebuah rezim diktator.”

“Saya bukan orang sembarangan! Bahkan saya bisa berbicara dengan hewan.” “Tapi mereka itu congkak! Mereka menganggap saya sudah uzur.

Tua bangka. Lihat saya! Saya masih kuat. Saya dapat melawan usia. Saya bukan gelandangan politik, Sadimin! Lihat mobil saya yang mewah, mobil seharga hampir dua milyar. Lihat rumah saya. Kuda tunggangan saya setara pendapatan sebuah kota metropolitan. Rumah mewah saya ini, di atas bukit. Saya berdialog dengan Tuhan di atas ketinggian ini. Saya memiliki hak atas ratusan juta hektar lahan. Saya bukan gelandangan politik.

Paham kamu, Sadimin?” bentak Labudah. Mengangkat bahunya dari sandaran kursi. Berdiri. Kedua matanya menatap tajam ke cakrawala.
“Paham, Tuan Labudah,” jawab Sadimin, tukang kebun Labudah yang kurus itu. Gugup.

“Bagus! Tukang kebun yang bagus. Mengerti politik dan masa depan bangsa serta negara.”
Angin senja tiba di antara reranting pohonan di bukit itu. Seperti mengirimkan sesuatu yang tak mujur. Labudah menceburkan dirinya ke dalam kolam. Byuuur! Ia berenang ke sana kemari seperti kegelisahan yang tak terpecahkan.

Labudah tidak tahu, Sadimin adalah tetangga Atroyu. Ketika pulang kampung saat lebaran, Sadimin menceritakan kehidupan Labudah pada Atroyu. Semua yang diucapkan Labudah, Sadimin ingat. Tapi menurut Sadimin, sebenarnya Labudah itu orang baik. Baik pada satu sisi, jelek di sisi yang lain.

“Semua orang begitu, Sadimin,” ujar Atroyu sambil menyalakan tembakau di bibirnya yang hitam. “Tak ada malaikat. Tak ada iblis. Yang ada hanyalah manusia yang mengandung iblis dan malaikat,” lanjut Atroyu.

“Setuju, Atroyu!” kata Sadimin.

“Bagus!”

“Sebaik apa pun manusia, tetap saja dia tak mungkin menjadi malaikat. Sebejat apa pun manusia, dia tetap tak mungkin jadi iblis,” ujar Atroyu.

“Kata-katamu seperti pernah aku dengar entah di mana, Atroyu,” jawab Sadimin.

Atroyu tertawa. Atroyu memang gemar mengutip kata-kata motivasi atau kata-kata mutiara dari mulut orang-orang terkenal atau seorang motivator berkepala botak itu. Kadang-kadang Atroyu mengutip kata-kata seseorang berkumis tebal yang pindah agama demi mengawini perempuan kekasihnya, demi segenggam daging kemerahan. 

Dengan bangga Atroyu mengucapkan kata-kata mutiara atau kata-kata motivasi kepada siapa saja. Atroyu mengira, kata-kata motivasi atau kata-kata mutiara adalah puisi. Tentu saja Atroyu tidak tahu sastra, dia juga bukan orang yang kebal senjata. 

Dia hanya orang biasa. Penjual karung goni di sebuah pasar tradisional. Dia bertetangga dengan Sadimin, tukang kebun Labudah. Dan Atroyu tidak pernah punya keinginan pindah agama, karena baginya bekerja menegakkan hidup dengan berjualan karung goni di pasar tradisional adalah agama. Orang tak perlu sibuk dengan agama jika perilaku hidupnya, lahir dan batinnya, ia yakini agama dan keimanan itu sendiri, kesadaran perihal kebahagiaan yang ditegakkan atas kasih-sayang dan penjagaan kehidupan. Minum kopi yang baik pun agama bagi Atroyu.

“Jadi buat apa pindah agama? Gak ada kerjaan apa?” ujar Atroyu sembari tertawa keras bersama Sadimin tetangganya.

Sedangkan Labudah masih gemar berenang di kolam renang rumahnya yang megah dan mewah. Seolah membuang gelisah yang lengket pada tubuhnya. Pada dadanya yang gelap dan memburu. Rumahnya seharga puluhan milyar. 

Halaman yang luas. Ruangan yang bersih. Tiang-tiang rumahnya besar, kuat, dan kokoh. Itulah istana Labudah. Saat Labudah keluar dari kolam renang, ia mengguyur tubuhnya pada pancuran air. Labudah tidak menyadari, air yang mengucur dari pancuran itu telah berubah darah manusia yang amis. Anyir. Labudah mandi darah. Dan darah itu memang berwarna merah. Merah semerah-merahnya.

Tembokrejo, 2019

Catatan:
Nama, tempat, dan peristiwa dalam kisah fiksi ini, seharusnya tidak ada dalam kenyataan.

*) Pernyataan Labudah ini dikutip dari sebuah berita.

  • Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi ‖Suluk Rindu‖ (YMAB, 2003), ‖Muncar Senjakala‖ (PSBB, 2009), kumpulan cerita ‖Kisah-kisah dari Timur‖ (PSBB, 2010), ‖Catatan‖ (PSBB, 2013), ‖Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti‖ (PSBB, 2014), ‖Dan Badut Pun Pasti Berlalu‖ (PSBB, 2017), ‖Serat Kiai Sutara‖ (PSBB, 2018). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi

Related Posts