Mahkamah Konstitusi dan Paradigma Pengadilan Tuhan

Penulis: Nurbani Yusuf
Rabu 26 Juni 2019 12:02

Ilustrasi foto/merdeka



Atorcator.Com – Baru tahu —kenapa Tuhan tak bisa dilihat. Sebab manusia bakal menyoal apapun yang sudah Tuhan putuskan dengan logika dan pengetahuan cekaknya.


*^^^*
Dikisahkan seorang musafir yang hendak mencari guru sufi di perbatasan pinggiran sungai ephrat—karena lelah yang sangat setelah sepekan berjalan–iapun memutuskan berhenti dan beristirahat di sebuah pohon beringin besar yang rindang.  Udara sejuk membasuh peluhnya –angin semilir dibawah pohon yang hijau penuh daun–iapun mulai ngantuk karena lelap yang sangat. 


Pada menjelang kantuknya itu–sang musafir yang merasa pintar itu sempat mengkritik kebijakan Tuhan. Ia menyoal kenapa pohon sebesar ini buahnya kecil-kecil sedangkan labu yang merambat saja buahnya sebesar helm. Gumamnya dalam hati. Tuhan tak adil katanya—mestinya pohon beringin besar beranting rimbun ini yang pantas berbuah besar bukan labu merambat, yang menyangga pohonnya sendiri saja tak cukup mampu. 


Sejenak hening—ketika kantuknya mulai pekat. Buah kecil pohon beringin itupun jatuh tepat mengenai pucuk hidungnya yang mancung di antara dua jidadnya. Seketika kantuknya hilang karena kaget. Musafir yang menyoal keadilan Tuhan tadi terkesima–sepertinya Tuhan telah menjawabnya kontan atas kritiknya. Andai buah beringin tadi sebesar labu mungkin ia bakal kehilangan hidung mancungnya atau jidadnya mungkin remuk.


*^^^*
Adil itu apapun yang sesuai dengan yang kita mau. Benar itu apapun yang sesuai dengan yang kita pikir. Jadi adil dan benar adalah apapun yang sesuai dengan yang kita inginkan. Lantas siapakah kita?   


Untuk apa memaksakan diri ikut Pilpres jika sudah yakin bakal dicurangi—Untuk apa mencari keadilan pada pengadilan MK jika sudah yakin bahwa keputusan yang ditetapkan bakal mengalahkannya. Ini soal pikiran yang harus diluruskan. Soal kesehatan berpikir dan akal sehat. Saya suka pernyataan Sandiaga Uno bahwa pengadilan sengketa di MK bukan hanya soal kalah dan menang–tapi ikhtiar membangun demokrasi ke depan yang lebih baik–agar penguasa dan penyelenggara tak sembarang berbuat. Maka apapun keputusan MK akan menjadi dasar pijak yang kuat sekaligus mengukuhkan demokrasi kita lebih legitimate.


Pengadilan MK adalah uji publik atas penyelenggaraan Pilpres sebagai wujud atau model demokrasi yang sehat. Prabowo dan Sandi telah menunjukkan dirinya sebagai patriot yang mencintai tanah airnya. Telah berjuang hingga titik akhir. Luar biasa … saya membanggakannya sebab keduanya telah berhasil membangun demokrasi yang sehat dan bermartabat. Kalah menang soal biasa tapi marwah dan kehormatan adalah yang utama dan Pabowo-Sandi telah menunjukan ekspektasi sebagai negarawan patriot … 


*^^^*
Lantas bagaimana dengan sikap  para pendukungnya –ini soal lain meski keduanya berkait erat. 


Pada akhirnya kita memang hanyalah segumpal darah penuh nafsu dan gairah tak terbendung. Kita hanyalah sekumpulan ke inginan tiada batas—bagi pendukung pasangan 02, keadilan itu adalah jika Prabowo ditetapkan menang dan Jokowi ditetapkan curang dan kalah—bagi pendukung pasangan 01 keadilan itu adalah jika Jokowi di menangkan dan Prabowo dipermalukan di depan publik atas klaim curang yang tidak terbukti–syukur jika semua lawan politik dibui—agar bisa leluasa memerintah dan berkuasa tanpa kritik. Kita memang sekumpulan keinginan dan kemauan tiada batas … yang membenam keadilan hingga dasar. 
Wallahu taala a’lam


@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

Related Posts