Menyingkap Simbol Segitiga Pyramid dan Illuminati Bagian (1) - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Minggu, Juni 02, 2019

Menyingkap Simbol Segitiga Pyramid dan Illuminati Bagian (1)

Add caption
Penulis: KH. DR. Miftah el-Banjary, MA

Atorcator.Com - Pyramid dalam bahasa Arabnya disebut "Al-Ahram" merupakan sebuah bukti keunggulan peradaban Mesir kuno sekaligus salah satu dari 7 keajaiban dunia yang masih bisa kita saksikan sampai hari ini.

Sejak ribuan tahun yang lalu, Pyramid terkubur oleh gurun pasir. Pyramid baru ditemukan kembali pada tahun 1818 oleh para arkeologi Prancis yang melakukan penelitian tentang situs bersejarah peninggalan Mesir kuno.

Melalui berbagai kajian, akhirnya 3 buah Pyramid besar di kawasan Ghiza ditemukan kembali melalui penggalian pasir yang menutupi bangunan segitiga raksasa tersebut.

Kejayaan Mesir kuno kembali mencengangkan dunia, betapa peradaban masa lalu telah menunjukkan satu kemajuan dan teknologi arsitektur yang tidak tertandingi hingga hari ini.

Dari sekian 40 buah Pyramid terbesar yang dibangun oleh keluarga dinasti Fir'aun selama kurun 5.000 tahunan, hingga kini hanya tersisa 3 Pyramid besar, yaitu Pyramid peninggalan Raja Fir'aun Khufu, Khafra' dan Menkaura'.

Bangunan Pyramid terbesar pertama Pyramid Khufu dibangun oleh raja Fir'aun Khufu (2551-2528 SM) yang juga dikenal dalam bahasa Yunani sebagai Cheop putra dari Fir'aun Sneferu.

Raja Khufu telah membangun Pyramid dengan tinggi 156 meter dan lebar 230 meter yang kini telah mengalami erosi sebanyak 10 meter.

Sedangkan Pyramid terbesar kedua, yaitu Pyramid Khafra (2520-2494 SM) generasi ke- 4 yang dikenal sebagai Chefren ini merupakan anak dari Fir'aun Khufu membangun Pyramid yang tingginya 146 meter dan lebarnya 210 meter. Khafre ini pula yang membangun Sphinx yang menghadap Pyramid Khufu.

Terakhir, Pyramid Menkaura' yang dibangun oleh Raja Menkaura' (2490-2472 SM) yang merupakan anak dari Khafra sekaligus cucu dari Fir'aun Khufu yang membangun Pyramid dengan tingginya hanya 65 meter dan lebarnya 105 meter.

Kesemua piramid-piramid tersebut masih berdiri kukuh dan masih bisa disaksikan sampai hari ini di kawasan El-Ghiza Cairo.

Satu buah proyek bangunan Pyramid bisa dibangun dalam masa kurun 40 tahun dengan membutuhkan ribuan pekerja dari Bani Israel yang telah berjatuhan sebagai korban.

Terdapat sekitar 2.300.000 batu stupa yang tersusun mengerucut. Dan setiap batu stupa memiliki berat lebih 2,5 ton yang membutuhkan 40 orang lelaki kuat untuk bisa mengangkatnya.

Dulu sejak tahun 2010, saya memang bekerja sebagai Guide Tour di salah agen travel resmi di Mesir untuk menjelaskan detail tentang Pyramid dan seluk beluk sejarah Mesir pads setiap pengunjung yang datang menggunakan jasa agen travel kami.

Hal yang saya pahami tentang Pyramid dari setiap generasi keluarga dinasti Fir'aun pembangunannya memang sebuah keniscayaan. Setiap Fir'aun yang berkuasa wajib membangunkan Pyramid untuk dirinya.

Pyramid bukan sekedar tumpukan bangunan stupa batu raksasa yang mengerucut hingga ujungnya, namun Pyramid memiliki makna dan simbol yang sangat penting bagi setiap raja-raja Fir'aun Mesir.

Pyramid bukan sekedar "kuburan" bagi raja-raja Fir'aun. Lebih dari itu, Pyramid merupakan mega proyek raksasa yang ditinggalkan oleh setiap generasi Fir'aun. Artinya, semakin besar dan kukuh Pyramid itu dibangun akan menegasikan semakin kuat dan berjaya di masanya.

Pyramid juga merupakan simbol dari kekuasaan unlimited yang menegasikan kekuasaan dari semua arah mata angin sebagai Tuhan yang Maha Tinggi.

Sehingga Ramses II dalam ucapannya mengklaim dirinya sebagaimana yang diabadikan oleh al-Qur'an dengan kata-kata, "Ana Rabbukumul 'Ala!"

Di masanya, tiap generasi Fir'aun sudah meyakini adanya konsep "Life after Death". Dengan konsep itu, Pyramid menjadi media bagi Fir'aun menegasikan kebesaran kemegahan dan kekukuhan bangunan Pyramid sebagai tingkatan pencapaian kedewaan yang lebih tinggi yang ia raih kuasanya di alam Baqa.

Pesan sejarahnya, jika Fir'aun pada masa lalu saja, sudah sangat memperhatikan tentang hari kehidupan "Life after Death" yang dalam keyakinan agama disebut hari "akhirat", mengapa Fir'aun-Fir'aun modern justru melupakan akan adanya kehidupan akhirat.

Buktinya, mereka memerintah dengan penuh kezhaliman, menekan segala bentuk perlawanan atas ketidakadilan, membiarkan terjadinya perpecahan dan pertikaian, bahkan sangat menikmati segala bentuk kecurangan dan ketidakadilan.


  • KH. DR. Miftah el-Banjary, MA Penulis National Bestseller | Dosen | Pakar Linguistik Arab & Sejarah Peradaban Islam | Lulusan Institute of Arab Studies Cairo Mesir.