Mubaligh Kondang Desa dan Macam-macam Santri Salaf

Penulis: M, Hizbulloh Al-Haq Al-Fulaini


Ahad 23 Juni 2019 13:47
Ilustrasi foto/inspirasi


Atorcator.Com – Pernah ngundang salah satu muballigh kondang di acara haflah madrasah desa kami. Alasan kami ngundang, simpel! Ceramahnya renyah dan enak dikonsumsi masyarakat awam. Selain muballigh tersebut, karena ingin ngalab berkah doa. Kamipun juga mengundang Kyai/Guru almarhum pendiri madrasah desa kami yang kebetulan juga guru sang muballigh.

Hari H pun tiba. Setelah rentetan seremonial berjalan lancar. Sampailah pada acara inti, yakni pidato –yang diharapkan hujan joke nan segar dan mendalam– dari sang Muballigh.

Tapi, penonton terdiam. Hampir semuanya menatap tajam dengan perasaan tanda tanya dan mata meredup mulai ngantuk. Sebab apa?! Mulai awal sampai akhir, gaya pidato yang di idam-idamkan para penonton, blass tidak muncul! Persis seperti lomba pidato waktu di pondok; lurus, main ati-ati dan membosankan. Padahal terlihat sekali sang Kyai yang jadi gurunya senantiasa tersenyum ketika melihat muridnya tampil sebagai muballigh kondang.

Setelah acara selesai. Ditempat makan-makan. Dan usai Mbah Yai gurunya pulang. Muballigh itu mengeluh pada panitia, salah satunya hamba: “Sepuntene ingkang kathah. Kulo mboten saget ngomong, nek dateng ngajenge guru, sepuntene (Mohon maaf sebanyak-banyaknya. Saya tidak bisa berpidato –seperti biasanya–, kalau berada di hadapan guru, sekali lagi mohon maaf)”.

Jadi gini: Secara umum, santri salaf; santri dengan metode kuno. Terbagi menjadi beberapa bagian:

1. Punya ruukhul jihad (Jiwa berjuang) dan pede. Dimanapun tempat ia siap tempur. Walau kadang kalau dihadapan gurunya banyak yang mbulet ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ mungkin ini alasan kenapa banyak yang ndak mau tampil di tivi. “E, jangan-jangan nanti guruku liat”. ๐Ÿ˜…

2. Punya ruukhul jihad tapi tidak se-pede santri pertama. Ada saja alasannya untuk menolak tampil dimuka umum. Mulai: “Masih ada yang sepuh, lho”, “Aku tak gini saja, kalau ada yang mau minta diajar, ya ngajar. Kalau tidak, mungkin inilah maqamku”, “Sudahlahhh,,, selagi masih ada yang alim, biarlah mereka yang maju”, dan ungkapan tawadhu lainnya.

3. Ruukhul jihadnya masih tersendat dengan mikir ekonomi dan dunia lainnya.

4. Blass tidak punya ruukhul jihad. Ilmu diamalkan untuk diri sendiri dan dan keluarganya. “Loh, pesen mbah yai sepuh kalau pulang harus ngedep dampar (Kiasan untuk mengajar) itu tidak cuma harus ngajar terang-terangan. Tapi juga memasukkan mengajar diri sampai mati dan anak istri. Itu sudah cukup lho,” ada yang punya alasan seperti itu.

5. –Naudzubillah– lupa dengan kesantriannya. Tidak menganggap gurunya lagi yang telah mengajarkan alif ba’ ta’ padanya. Sebab sudah punya pemahaman baru dari orang lain yang dia anggap lebih jempolan dari gurunya waktu mesantren. 

“Kalautoh ia tidak menampakkan kesantriannya. Tapi tetep hormat dengan gurunya. Insya Allah sebelum meninggal. Ia akan kembali lagi kepada kita” wejang guru hamba, “Tapi, kalau sudah tidak menghormati gurunya. Semoga saja ia mendapatkan hidayah dari Allah Ta’ala”.

So, dengan maraknya desakan para santri agar tampil dipelbagai acara berbasis internet, tapi yang di sindar-sindir tetep adem ayem. Ketahuilah, semua punya alasan sendiri. Baik tawadhu, merasa ilmunya belum mumpuni, atau malah suka gaya berfikirnya dikonsumsi dan dinikmati pengguna internet, tapi tidak ingin wajahnya dikenal dimana-mana.

Kalau ada yang bertanya, “Lhoh?! Adakah orang seperti itu?!”. Mungkin yang ditanya hanya tersipu malu sambil mringis kecil, “He.. he.. he …”

Related Posts