Syaikhona Kholil Bangkalan Menjodohkan Santri yang Mondok 120 Tahun

Penulis: M, Hizbulloh Al-Haq Al-Fulaini


Sabtu 22 Juni 2019 20:52

Syaikhona Kholil Bangkalan/foto dari santri Nurul Kholil Bangkalan
Atorcator.Com – Dulu, sebelum gempita kemerdekaan terjadi. Hiduplah seorang Santri yang mengabdi dengan tulus pada Kyainya. Ia mondok hanya mengikuti dawuh sang guru. Apapun beban dan tanggung jawab yang diberikan padanya, dia lakukan dengan suka cita. Bahkan selama tiga tahun penuh tidak mengaji dan diajar ngaji oleh Kyainya, karena penuhnya kesibukan yang diembankan padanya, ia tetap ikhlas dan manut dawuh guru.

Suatu ketika, ada tamu yang menemui Kyainya. Setelah basa-basi pembukaan, si tamu berkata:
“Mbah Yai, saya punya anak gadis sudah dewasa dan waktunya menikah. Saya ingin dia menikah dengan santri Mbah Yai. Terserah siapa saja yang penting bisa ngaji, sebab dirumah ada santri. Saya percaya penuh dengan Panjenengan”.

“O, begitu. Kebetulan saya punya santri sangat baik, ia akan aku ajar selama 120 tahun! Sebentar, akan kusuruh memanggil dia kesini”

Karena hormat luar biasa, tamu itu hanya memendam penasaran mendalam atas jawaban Kyai yang kondang waskita ini. “Masak ngaji kok 120 tahun?! Lha umur Beliau dan santrinya itu berapa?!” mungkin begitu batinnya.

Santri yang dipanggil Mbah Yai lewat utusannya, sedang menimpal kotoran sapi milik Beliau. Tahu dipanggil gurunya. Seketika, dengan tetap memakai pakaian penuh kotoran sapi, ia menghadap orang yang dihormatinya.

“Ini, anaknya” kata Mbah Yai setelah santri itu menghadap. “Kamu, akan menjadi mantu Bapak ini, Le. Kamu mau kan?”

“Iya, Kyai. Saya manut”.

Jawaban singkat tanpa keraguan meluncur dengan lancar dari mulutnya. Cantikkah calon istrinya?! Nasabnya baikkah?! Agama dan hartanya mumpunikah?! Apakah orangtuanya setuju atau tidak?! Ia tidak peduli, yang ada dalam fikirannya mungkin hanya manut dan percaya seratus prosen bahwa pilihan gurunya adalah yang terbaik. Mengalahkan segalanya.

Berbeda dengan tamu yang meminta santri itu jadi mantunya. Melihat penampilan yang awut-awutan disertai bau menyengat kotoran sapi, ia menjadi ragu dan sangsi. Terlebih kelak ia tahu bahwa anak ini tidak pernah mengaji dan di ajar oleh Mbah Yai. Tapi, karena sudah berkata percaya dengan orang mulia didepannya. Ia tidak bisa mengelak dan kemudian merembuk agar hari H pernikahan segera ditetapkan.

Beberapa hari setelahnya. Terjadi keanehan pada diri santri itu. Ketika tidur, ia bermimpi seakan berada di Dunia dimensi lain, dan yang ada dipondok hanya dia dan gurunya. Setiap hari gurunya mengajar Qur’an, banyak kitab Tafsir, dan alat pendukung untuk memahaminya. Ia dan hanya gurunya saja! Dan itu ia rasakan lama sekali sampai empat puluh tahun! Iya, perasaannya, mimpi yang hanya semalam itu, seakan empat puluh tahun lamanya, seakan waktu berhenti, atau ada istilah zaman dulu Thayyul Wakti; melempit waktu. Setelah usai pelajaran Qur’an dan pendukungnya, ia terbangun. Yang lebih mengejutkan ternyata mimpi bertahun-tahunnya memang benar-benar hanya terjadi semalam!
Tergopoh-gopoh, ia sowan ke Kyainya, yang disana, ternyata Beliau seakan telah menunggunya. Tanpa banyak tanya, gurunya langsung mengetes pelajaran yang diperolehnya, dan akhirnya hanya ada ucapan pendek, “Alhamdulillah, kamu telah faham dan tahu apa yang telah kuajarkan dalam mimpimu”.

Hari kedua, Santri itu mimpi kembali. Juga empatpuluh tahun! Tapi dengan pelajaran Hadist, Syarah; penjabar, dan ilmu pendukungnya. Setelah terbangun, di tes lagi oleh gurunya. Dan ia sukses.
Hari ketiga juga begitu. Namun, dengan pelajaran Fiqh, Ushul, Kaidah Fiqh dan perangkat pendukungnya. Lagi-lagi keesokan harinya, juga di tes gurunya dan Beliau puas.

“Baik, ilmumu sudah baik, sekarang kamu menuju ke rumah calon mertuamu, ya. Karena sebentar lagi pernikahanmu akan dilaksanakan,”

“Iya, Kyai.”

Segera ia mengemas pakaiannya, pamit ke gurunya, dan langsung menuju alamat yang telah dijelaskan.

Sesampai disana, antara bahagia dan keraguan yang membuncah. Sang mertua segera mengakad nikahkan santri itu. setelah akad nikah usai. Ia tidak boleh masuk ke kamar temanten, tapi disuruh untuk membacakan beberapa kitab, dan itu kosongan; tanpa makna!

Seperti kerbau dicocok hidungya, ia tidak bisa mengelak. Tapi, yang membuat orang-orang tambah penasaran. Santri yang disitu sudah masyhur hanya mondok tiga tahun tidak pernah ngaji dan menjadi mantu pimpinan mereka, malah kelihatan kalem dan tanpa perasaan khawatir sama sekali. Bahkan kekhawatiran malah menyelimuti mertuanya. Ia menyuruh para santrinya untuk menjaga Masjid tempat ngaji melingkar! Khawatir kalau mantunya ini malu dan kabur.

“Bismillahirrahmanirrahim …” terdengar suara santri itu mulai menggema di dalam Masjid. Lalu setelahnya kitab apapun yang disodorkan padanya, seakan seperti makanan lezat. Ia lahap memakannya dengan nikmat. Membaca serta menerangkan dengan fasih dan lancar. Dan para pendengar melongo terkagum-kagum. Sebenarnya, dalam hati santri itupun juga takjub, ternyata kitab yang dipelajarinya dalam mimpi, termasuk kitab-kitab yang ia baca sekarang ini.

Terdengarlah sautan-sautan kekaguman dan decak pujian dari mertua dan para pendengarnya. Kejadian itu meyakinkan mereka dan membuat para hadirin, terkhusus mertuanya yang semakin ta’dhim dan yakin dengan keampuhan Kyai dari mantunya ini.

Kelak, setelahnya, santri itu sangat terobsesi dengan segala macam kitab yang ada dan tersedia di sekitarnya. Ia muthalaah tiada henti. Penasaran ingin membuktikan kitab-kitab yang telah ia pelajarinya dari mimpi, apakah sama dengan yang ada di dunia nyata. Dan ternyata, sama! Hingga ketidakpuasannya akan samudra ilmu dalam kitab, membuatnya mengembara ke negeri Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallama, Makkah al-Mukarramah. Dan setelah itu, ia menjadi tokoh yang benar-benar disegani kawan maupun lawan, dengan berbagai karamah dan kealimannya. *
—-
Konon, Santri itu adalah Hadratus-Syaikh Hasyim Asy’ari, Sedang Kyai yang menjadi guru panutannya adalah Saikhana Khalil Bangkalan.
Dan kebetulan, beberapa hari lalu juga dapat cerita, bahwa cara ngaji Tafsir Hadratus-Syaikh Hayim Asy’ari, tidak memakai kitab tafsir semacam Tafsir jalalain, Tafsir Munir, Tafsir Ibnu Abbas, Tafsir Ibnu Katsir dan lainnya. Tapi hanya memegang al-Qur’an saja! Namun keterangan panjangnya. Setelah diteliti para santrinya, ternyata sama persis dengan rujukan tafsir yang Beliau sebut. Jadi bukan kebetulan Beliau dipanggil dengan Hadratus-Syaikh (Gurunya para guru).

Bahkan kakak hamba pernah bertemu dengan sesepuh yang menjadi murid Beliau langsung. Ketika menuturkan gurunya. Ia sangat ta’dhim dan menyebutnya berulang-ulang setiap nama beliau tersinggung dengan sebutan mulia: Hadratus-Syaikh.

*Sumber: dari karibku, dari tamunya, dari kakeknya yang berasal dari Madura. Benar tidaknya: Wallahu A’lam bis-Shawaab. Kalau ada kesalahan baik tulis ataupun penuturan, itu murni dari hamba yang lemah ini. Kalau ada kebenaran. Itu mutlak dari Allah Ta’ala.

Related Posts