Tips Biar Anak Betah di Pondok

Penulis: M, Hizbulloh Al-Haq Al-Fulaini


Kamis 20 juni 2019 8:29
Mondokkan…….


Atorcator.Com – Memondokkan anak itu, penuh dengan lika-liku. Ungkapan kitab Ta’lim yang melegenda, “Kunci sukses belajar tergantung tiga orang: Guru, Orangtua, dan anak” begitu banyak di dengungkan. Tapi tidak semudah yang dibayangkan! Kadang anaknya krasan, orang tua kangen dan tidak tega.

Kadang anak tidak krasan, orangtua pusing tujuh keliling. Kadang anak krasan ples orangtua cocok, tapi bermasalah dengan guru. Hingga menyakiti hati guru yang berimbas manfaat atau tidaknya ilmu yang diserap. Jadi memondokkan anak itu sulit, sangat sulit sekali.

Berbagai macam cara pernah hamba lihat untuk membuat anak krasan, mulai membawa tanah rumah dikubur dipondok. “Ini sebagai washilah agar anakku krasan” kata orang tua yang pusing melihat anaknya seakan mau boyong terus.

Ada yang hampir saban hari mengunjungi anaknya walau jaraknya tidak terbilang pendek. Ada yang menuruti semua kemauan anaknya agar mau mondok. Ada yang meminta doa-doa dari banyak orang ampuh. Dan banyak lagi caranya.

Untuk orangtua hamba. Memang, dari masih sekolah umum, Ayah senantiasa mewanti-wanti, “Kamu sekolahnya cukup SMP saja, sebagai dasaran. Untuk pengembangan, bisa otodidak, setelah itu mondok”. Apakah setelah mondok langsung otomatis krasan?! Ya enggaklah. Tempat yang tidak senyaman dirumah. Kadang ada kawan yang tukang mbully. Masak sendiri. Nyuci sendiri. Tidak boleh ber hiha-hihi dengan para gadis. Keluar dibatasi. Jam sekolah ketat. Pelajaran sulit.

Belum lagi peraturan pondok yang tak jarang membuat cemut-cemut wkwk. Tapi percaya tidak?! Dari awalnya seakan penuh dengan keterbatasan dan terkekangnya diri, malah jadi krasan pol-polan, sampai bertahun-tahun enggan pulang, hingga jadi jomblo lapuk hahaha.

Lha untuk ayah dan Ibu?! Kalau ayah sih bergaya cool dan menampilkan diri semacho mungkin, padahal ternyata kangennya pol-polan. Haha. Sedang Ibu?! Hehe. Gaya Ibu hamba yang kalem, sangat sayang pada anak-anaknya. Sangat tidak berbanding lurus dengan Ayah. Jadi, kalau kami molor kembali ke pondok, malah bahagia wkwk.

Mengunjungi pondok hampir setiap hari dengan jarak tempuh 25 KM. Saking seringnya, anak kamar memanggil hamba dan adik-adik sebagai anak mama. Apakah hamba malu? O, tidak! Bahkan merasa keren.


Ibu Pernah kutanya, “Selain alasan kangen, kenapa dulu njenengan rajin menjenguk saya dipondok, Bu’e?”. dan Beliau menjawab dengan senyum teduhnya, “Ya, selain kangen. Biar kamu lekas krasan. Abahmu itu melarang aku untuk mengangan-angan kangen kamu dari rumah. Katanya, ‘Kalau kamu kangen, sana, langsung ngunjungi anakmu di pondok. Biar dia tidak pingin pulang. Angan-angan ibu itu, mudah tembus ke anak!’”.


Kangen, sangat lumrah dan wajar. Malah, yang blass tidak kangen, bisa dipastikan hubungan orangtua dan anak ada masalah. Menyikapi sikap kangen itu, dari orangtua hamba dan beberapa orang yang hamba kenal, ada beberapa pembenar dan penawar:


“Kudu di tahan! Ibarat kita ingin sehat, minum obat pait dulu”. “Kalau kangen, bacakan Fatihah untuknya”. “Kalau tidak tahan, kunjungi! Kita yang mengalah untuk masa depan mereka”. “Kehidupan itu keras dan tidak menentu. Kalau sekarang kita tidak memberi mereka bekal. Bagaimana mereka kelak. Ilmu agama adalah rem pakem kehidupan”.

“Susahlah sekarang, Insya Allah kelak kita akan mendapat manis madunya mereka. Selama nyawa dikadung badan, apakah ada yang lebih baik daripada kasih sayang, penghormatan dan kebaikan dari anak yang kita pondokkan?! Sebab sekolah agama yang paling dikedepankan adalah akhlaq”.


Dan kemaren salah satu angan-angan karib hamba yang dulunya tidak mondok, tapi ndilalah dianya pingin anaknya mondok serta disambut riang putranya, “E, awak iki sing abang ijo ireng, mbok menowo sok mati, dikirimi patikah sedino pisan, lak ayem! (E, diri yang abangan ini, andai kelak mati dikirimi Fatihah sehari sekali, kan tenang!)”.
Jadi, semuanya memang berat. Tapi ingat, banyak kawannya! Kata-kata yang tenar dimasyarakat daerah kami waktu menghadapi bulan puasa, “Poso iku dianggep enteng wae, wong disengkuyung bareng-bareng ae (Puasa Ramdhan, dianggap enteng saja, wong diangkat/dikerjakan bareng-bareng, kok)”.


Dalam kitab Ta’lim Mutaallimnya Syaikh Zarnuji:

واعلم بأن الصبر والثبات اصل كبير في جميع الأمور ولكنه عزيز


Ketahuilah! Sungguh! Sabar dan tekun adalah modal besar segala hal. Akan tetapi jarang yang memilikinya”. Seperti yang dikatakan dalam sebuah syair:

لكل إلى شأوالعلى حركات # ولكن عزيز في الرجال ثبات

Segala sesuatu tentu ditargetkan pada tingkat yang paling tinggi atau maksimal # Tetapi jarang orang yang mampu bertahan dalam mencapainya.”


Dikatakan dalam sebuah ungkapan: “Keberanian adalah kesabaran sesaat. Maksud dari ungkapan tersebut adalah: Keberanian sama sekali tidak diukur dari kekuatan badan, melainkan diukur dari kesabaran menanggung segala penderitaan yang menimpa.”

Wallahu A’lam bis-Shawaab.

Related Posts