Haji: Antara Ibadah Fisik dan Finansial

Penulis: Nur Kholilah Mannan
Sabtu 27 Juli 2019


وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (27) لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ (28) ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ (29) 

Legitimasi untuk melaksanakan haji datang setelah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām rampung membangun kakbah. Ketika itu ia berdiri di maqamnya dan menyeru semua makhluk untuk berhaji, lantas batu-batu, pepohonan dan manusia menjawabnya dengan kalimat talbiyah لبَّيك اللهمّ لبَّيك. Menurut at-Ṭabarī (w. 923), siapapun yang menjawab seruan itu dialah yang kemudian hari akan beribadah ke baitullah  (Rumah Allah).


Haji adalah rukun islam urutan kelima, ia berada di urutan terakhir bukan karena pahalanya yang paling kecil, bukan juga karena ibadah yang layak diakhirkan melainkan karena ia merupakan ibadah yang tak hanya memerlukan kerja fisik tapi juga cukupnya finansial yang tak sedikit.


  • Rukun ibadah pertama, syahadatain, cukup dengan tekad dalam hati dan ungkapan dengan lisan kemudian dibuktikan dengan penyempurnaan perbuatan, maka ia sudah sah sebagai saksi bahwa seseorang telah bersyahadatain. 



Rukun islam kedua, menegakkan shalat, rukun ini memang sedikit mengeluarkan biaya seperti kain untuk menutup aurat tapi kewajiban shalat tak bisa gugur meski tak mampu membeli kain karena penutup aurat bisa diganti dengan lumpur.


Rukun Islam ketiga berpuasa di bulan Ramadan, ibadah ini termasuk ibadah yang paling ringan dilakukan. Mengapa? Karena salah satu ibadah yang tak perlu mengeluarkan biaya, cukup menahan dari makan, minum dan hal yang membatalkan yang lain. Berpuka puasa tak wajib dengan makan dan minum yang memerlukan biaya untuk membelinya tapi cukup dengan niat membatalkan puasa.


Selanjutnya rukun Islam keempat, membayar Zakat, rukun ini memang objek utamanya adalah harta tetapi selain kewajiban mengeluarkan zakat hanya setahun sekali (zakat fitrah) zakat tidak dianggap berat karena harta yang dikeluarkan tidak begitu besar lain halnya dengan rukun Islam kelima, ia tak cukup dengan berbekal tekad dalam hati saja melainkan harus disertai aksi fisik disamping jauh sebelumnya sudah menyiapkan bekal finansial yang memadai, bukan hanya untuk orang yang ingin melaksanakan haji tapi ia juga harus memikirkan biaya hidup orang-orang yang ditinggal pergi selama berhaji.


Itulah alasan mengapa saya mengatakan bahwa ibadah haji itu adalah perpaduan fisik dan finansial. Dalam ayat di atas Allah menggambarkan orang-orang yang menjawab seruan nabi Ibrahim berasal dari penjuru dunia, فَجٍّ عَمِيقٍ bermakna “tempat yang jauh”, mereka berdatangan dengan kendaraan-kendaraan mereka sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing, ada yang menggunakan unta, keledai, kuda, mobil, pesawat dan ada pula yang berjalan kaki.


Ini salah satu alasan bahwa haji adalah bentuk dari jihad di masa kini. Berjuang dengan harta yang dimiliki disertai ketangguhan fisik selama perjalanan sampai selesai semua rentetan ibadah haji dan yang terpenting adalah berjuang menekan nafsu selama beribadah untuk tidak debat kusir, berkata kotor dan berbuat fasik. Tuhan Maha Mengetahui bahwa untuk melaksanakan haji seseorang membutuhkan biaya besar.


Semoga jiwa kita termasuk yang menjawab panggilan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām yang meski dengan biaya besar kita diberi kemampuan untuk melaksanakannya.


Wallahu a’lam


  • Nur Kholilah Mannan Santri Salafiyah Syafi’iiyah Sukorejo Situbondo 

Related Posts