Kelamin yang Tidak Sekolah

Penulis: Taufiq Wr Hidayat
Sabtu 27 Juli 2019

Ilustrasi:guediku

Atorcator.Com – Di sebuah warung kopi, orang mengatakan bahwa kelamin manusia itu “tidak sekolah”. Orang menertawakan kekonyolan tersebut dengan kepingkel-pingkel. Mereka melihat kelamin seolah makhluk lain yang melekat di bawah perut, dan tidak mau lepas “ila yaumil qiyamat”. Ia memiliki pelayan setia yang bernama indera. Tatkata mata menangkap sesuatu yang membangkitkan hasrat purba, sekitar pusar geli, menunjukkan perangkat paling istimewa yang bernama kelamin terjaga.


Lho kenapa “tidak sekolah”? Menurut orang yang di warung kopi itu, urusan kelamin bikin orang bodoh, walaupun ia sudah sekolah. Sehebat apa pun status pendidikan seseorang, bertekuk lutut di bawah kelamin. Orang kehilangan akal sehat. Sahwat bertahta menjadi Tuhan. Disembah dan dilayani. Padahal bentuk kelamin itu—dilihat dari sudut artistik, sangat tidak indah. Ia berbentuk lobang gelap yang lembab dan empuk dengan aroma yang tak terjelaskan.


Di lain pihak, berbentuk mirip lontong yang ditumbuhi rambut, menggelantung senantiasa. Sama sekali tidak menyimpan nilai seni yang tinggi. Hanya cinta yang membuatnya indah melampaui segala-galanya, kata seorang penyair yang setengah sempoyongan dalam pengaruh alkohol.


Di samping itu—menurut orang yang di warung kopi, dia tidak berpendidikan dan pemalas! Ketika sekolah dulu, orang belajar dengan serius, tapi kelaminnya malah tidur. Ketika orang bekerja keras, kelamin mendengkur. Giliran orang mau beristirahat, kelamin terjaga minta makan. Dan orang harus memberinya makan ketika ia sedang lapar dengan segala pengorbanan dan perjuangan yang tak mengenal ampun.


Padahal ia memiliki daya tarik hanya ada dalam persepsi dan kebutuhan mendesak atasnya. Bagai sejumlah orang yang merasakan orgasme hanya karena mendengarkan suara kecipak air dan suara sabun yang digosokkan pada bagian-bagian tubuh seorang perempuan muda yang sedang mandi dalam “Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi”nya Seno Gumira Ajidarma yang mashur itu. Ketika yang sesungguhnya bersalah adalah khayalan mesum yang berakibat pada aksi, kenapa tubuh yang harus dihukum? Hasrat yang dirangsang dari pendengaran itu metafisik, namun ia menjadi masalah sosial yang tak gampang diuraikan.


Tapi lupakanlah omongan tolol dari orang yang di warung kopi itu. Baiknya tiap orang menginsafi dirinya dengan memeriksa kelaminnya masing-masing; apakah masih berada di tempatnya atau ketinggalan di kamar madi tadi pagi?


Dalam khasanah keilmuan Islam, jenis kelamin tak pernah jadi ukuran nilai. Artinya Islam melihat kelamin sebagai keniscayaan yang harus disadari dan dijaga dengan sepenuh keimanan. Menurut Rasul, dua hal yang paling mudah membuat orang celaka: mulut dan kelaminnya. Mulut banyak bicara, nerocos tak kenal arah, berdusta dan membudidayakan serapah. Sedang kelamin yang tiada henti minta dilayani tanpa mempertimbangkan keselamatan dan akal sehat. Bukankah sesungguhnya kelamin itu merupakan salah satu ukuran keimanan?


Tetapi ajaran Islam memuliakan jenis kelamin perempuan. Itu bukan berat sebelah. Melainkan ajaran Islam yang diimani dengan ilmu dan cita, meletakkan nilai kemanusiaan yang ideal sepanjang masa. Sejak pra hingga pasca Islam, perempuan selalu disisihkan. Bahkan hingga hari ini di hadapan segala pencapaian teknologi dan kebudayaan manusia. Di dunia visual—tak dimungkiri, perempuan kerapkali sebagai obyek laki-laki. Atau obyek dari perempuan sendiri.


Sehingga pemosisian perempuan sebagai yang subyek, ditegaskan tanpa ragu-ragu dalam narasi suci. Al-Farabi mengibaratkan kesetaraan jenis kelamin itu dengan amat sederhana. Baginya puisi yang baik bukanlah “puisi laki-laki”. Juga bukan “puisi perempuan”. Melainkan puisi yang indah adalah puisi yang memang indah. Tak ada jenis kelaminnya. Bahwa penyetaraan jenis kelamin—kemudian pemuliaan narasi suci terhadap jenis kelamin perempuan, tidaklah berlebihan. Melainkan kewajaran. Lantaran landasannya adalah nilai kemanusiaan yang tak terikat jenis kelamin maupun gerbong profil tubuh dan bentuk-bentuk kebudayaan.


Tatkala dalam “Republik” Plato mengatakan perempuan makhluk imitasi, Ibn Rusdi membantahnya. Keliru! Katanya dengan sejumlah argumentasi yang tak terbantah. Dalam “Mabadi’ Ara al-Madinah al-Fadhilah”, al-Farabi justru menguatkan kesetaraan jenis kelamin di segala-gala bidang kehidupan, terutama dalam kepemimpinan politik. Apa yang dikemukakan para penggali ajaran Islam yang luhur itu, tak lain upaya menegaskan teks suci untuk memuliakan perempuan, sesama manusia, sebagai sesuatu yang sewajarnya dalam sejarah. Lantaran peminggiran salah satu jenis kelamin perempuan—yang dianggap lemah, justru seringkali dilakukan atasnama ajaran agama. Dan atasnama tahta suci Tuhan.


Naguib Mahfouz mengisahkan ketimpangan hidup di tengah para penganut agama. Tatkala kemiskinan dan lemahnya hukum sudah parah, segolongan orang semakin keras, kaku, dan fatal dalam segala hal. Terutama dalam agama. Ketika kesejahteraan hidup dan keadilan hukum tak ditemukan, orang frustasi. Rasa frustasi itu membuat orang hanya berharap janji surga dalam agama secara fatalistik. Agama bukan tempat pulang, tapi tempat melarikan diri. Agama sebagai topeng ketakmampuan diri menghadapi kenyataan dan musuh terhadap perubahan. Agama menjadi gawat dan menakutkan.


Naguib Mahfouz, sastrawan Arab yang mashur itu, mengetengahkan persoalan tersebut dalam banyak karyanya. Umpama dalam novelnya “Khan al-Khalili, Dar-Misr Li-at-Taba’ah” (Mesir, 1979). Kemiskinan dan lemahnya hukum, dalam karya Mahfouz, telah menciptakan masyarakat yang menyembah dogma, menikmati tari telanjang, seks bebas, dan membunuh atasnama Tuhan dan syariat agama.


Dalam keadaan seperti itu, seorang anak kecil, dalam sebuah cerita Mahfouz, sudah memiliki hasrat seks pada lawan jenisnya yang sebaya akibat kerasnya pendidikan orangtua yang miskin. Anak kecil ini harus menyaksikan seorang perempuan dibunuh di gedung kumuh, bangunan terlantar bekas Gedung Keuangan dan Hakim. Perempuan itu dicekik kekasihnya hanya perkara tak mau memberi uang buat makan sehari.


Fanatisme buta ialah pemberhalaan agama dengan mengingkari sifat Tuhan yang mahapenyayang. Sehingga agama gagal menyelesaikan persoalan kehidupan. Justru memperparah masalah sosial, memperalat orang-orang miskin, bodoh, dan diperlakukan tak adil dengan janji bidadari, semangat yang kelam membela agama, dan arogansi primordial.


Jika kebaikan terdapat pada banyak hal, kenapa kebenaran diklaim satu golongan atau kelompok mayoritas belaka? Manusia yang kikir, maka agamanya agama kekikiran. Manusia angkuh, agamanya agama keangkuhan.


Bagi Naguib Mahfouz, itu kesalahan sejarah. Apakah yang dipikirkan Naguib Mahfouz dalam karya-karya berbahasa Arabnya itu bukan cermin dari sebagian masyarakat Islam saat ini di negara-negara berkembang yang terbelakang, miskin, tertutup, bodoh, terjebak dalam fanatisme buta, lalu diperalat pemuka-pemuka agamanya yang “diremote” kekuasaan dan orang-orang yang tergila-gila pada kekuasaan?


Dalam sebuah film India—yang selalu asik dalam gagasan-gagasan cerita dan gaya bahasanya, dikisahkan sejumlah perempuan yang memberontak pada keadaan demi kebebasannya meraih kepuasan alamiah manusia: seks. Film itu berjudul “Lipstick Under My Burkha”. Judul yang nakal! Menceritakan kehidupan rahasia sejumlah perempuan bercadar yang menemukan gairah seksualnya “yang lain” setelah ditinggal mati suami mereka.


Barangkali kata “yang lain” itu merupakan perlawanan pada “yang lain” versi Beauvoir, yang eksistensi perempuan ditegakkan dari sudut pandang hasrat laki-laki terhadapnya. Para perempuan bercadar yang ditinggal mati pasangannya itu, menyimpan hasrat purba yang kehausan di balik cadarnya. Ia merindukan panggilan asasi manusia paling wajar: telanjang dan bermain-main dengan tubuhnya. Juga kelaminnya. Film garapan Alankriti Shrivastava ini menarik, sinemanya dalam. Ia memvisualkan fantasi seksual yang tak dapat dipenjara suatu doktrin agama atau keimanan yang diterapkan secara tak manusiawi.


Fantasi dan hasrat seksual itu liar, menggedor-gedor simbol-simbol doktrin yang disebut cadar yang membungkus tubuh nyaris setiap incinya. Tapi hasrat dan kebebasannya berontak. Gelisah. Menggoda untuk merayakan kebebasannya yang paling asasi itu. Dan paling purba. Tanpa busana. Juga bermain-main dengan tubuh dan mempersatukan antartubuh dalam pergulatan kelamin yang mendebarkan. Tetapi ia yang tak kuasa memungkiri kehidupannya, tata aturan, ketaatan pada nilai, atau pada keniscayaan sebagai manusia yang memiliki identitas dan jati diri. Sehingga kebebasan dan pembatasan selalu bertengkar di dalam diri, pertengkaran yang tiada akhirnya, selalu cekcok, saling cakar, saling mengalahkan sepanjang hidup seseorang dalam sejarah.


Lupakan saja film India itu. Yang tentu, bahwa narasi perihal tubuh selalu menciptakan persoalan yang tak pernah selesai dipecahkan. Lantaran ia harus senantiasa berdamai dengan realitas hidup yang dijalaninya pada sebentuk keniscayaan primordial atau agama. Namun manusia berdaulat atas dirinya. Ia dapat melakukan apa saja sekehendak hatinya. Atau memilih menyatakan “tidak” pada apa saja, ujar Nietzsche.


Namun barangkali untuk “meng-iya” atau “men-tidak” pada dunia—pada suatu keadaan, ia harus dapat bernegosiasi atau berdamai dengan kenyataan. Lantaran itu kiranya, sejatinya ajaran agama sangat menghargai kebebasan, kedaulatan, dan pilihan manusia. Agama pun lahir dari yang asasi. Paling dasar. Sehingga ia hadir sebagai pembanding yang berdialog dengan akal dan hati. Bukan memaksa. Sebab segala pemaksaan adalah politis. Pragmatis dan praktis. “Tiada paksaan dalam agama, karena telah terang yang jelas dan yang sesat,” ujar segaris teks suci (QS.2:256).


Dengan demikian agama sesungguhnya bercakap-cakap dengan akal dan hati di tempat sunyi, pada relung yang hikmat, takzim, amat personal, dan tersembunyi. Sehingga setiap gerak yang dilandaskan pada nilai-nilai agama, sejatinya panggilan asasi manusia yang dengan sepenuh kesadaran mengarifi kenyataan kehidupannya yang partikular.


Peminggiran jenis kelamin perempuan tak dapat ditolak—secara diam-diam atau terang-terangan, kadangkala dilakukan hasrat perempuan itu sendiri. Bukan kebebasan alamiah yang dirayakan. Melainkan kebebasan praktis yang ditegakkan dari kebanggaan-kebanggaan meluap-luap atas tubuh, yang obyek. Sedang yang lain, merayakannya atas hasrat menikmati tubuh—sebagai obyek itu, dengan semena-mena. Manusia pun merendahkan nasibnya yang agung.


Pada sisi lain yang tiada daya, tubuh harus kalah dan dipersembahkan secara terpaksa atau suka rela. Alangkah agung nasib manusia! Namun betapa terbatasnya ia. Tetapi daya hidup yang manusiawi, membuat orang bertahan pada suatu keadaan yang paling sulit. Atau menghikmati kebebasan dirinya dengan memaklumkan, menjaga kebebasan dan keselamatan sesamanya. Pada pengertian ini, seyogianya agama hadir sebagai harapan. Bukan belaka janji surga yang tak pernah terjadi di atas meja makan atau di atas ranjang. Bukan pula hanya kutukan, hukuman, dan ancaman.


Dan perempuan adalah segalanya. Ia yang feminin. Tetapi ia yang dapat melampaui tubuhnya, menjadi yang maskulin. Ia licin. Empuk. Menggoda dan sanggup menjatuhkan malaikat sekalipun. Juga berbahaya. Kuat. Dan lembut. Licik. Juga baik hati. Setidaknya dalam “Red Sparrow”, Jennifer Lawrence—sebagai Dominika Egorova yang muda, memerankannya dengan sempurna. Perempuan berpinggul agung, berdada agung, jangkung, berbibir merekah, dan lentur itu harus menggunakan tubuhnya yang ranum sebagai spionase Rusia. Ia mesti terampil memikat untuk menjerat. Menggali informasi buat negaranya. Ia menerima kenyataan itu lantaran profesinya sebagai penari balet kebanggaan Rusia harus ditinggalkan sebab sebuah kecelakaan “yang disengaja”. Negara segera merekrutnya. Memanfaatkan tubuhnya yang memesona, pikirannya yang berbahaya, hasratnya yang bergolak demi kepentingan negara. Betapa sejauh itu negara telah menguasai warganya, bahkan dapat menentukan kebebasan seseorang atas tubuhnya.


Apa yang ditengarai Foucault sebagai seksualitas yang dikontrol kekuasaan. Apakah ia kekuasaan kapital atau politik. Agama atau tradisi. Lantaran tubuh dan hasrat asik bermain-main dengannya sebagai obyek yang tak pernah membosankan dalam sejarah. Sebagian orang baik-baik saja. Sebagian lainnya celaka karenanya. Tapi “kapok lombok”, kata orang Jawa. Makan lombok bagaikan “makan kelamin”. Menyesal mulut kepanasan, perut mual, dan mencret. Tapi tak lama kemudian, makan lagi. Tak mau jera. Diulang-ulang bagai repetisi. Hasrat tak pernah meniscayakan batas. Seolah Sisifus—yang dalam Albert Camus, mengusung batu ke atas gunung, menggelindingkannya ke bawah, lalu mengusung lagi. Terus menerus tiada hentinya, bagai kutukan. Absurditas yang dirayakan dengan kebahagiaan atau penderitaan yang ganjil.


Tubuh memang punya batasan. Ia dikalahkan usia. Tetapi hasrat tak mau tunduk. Sesungguhnyalah nilai agama seyogyanya hadir mendamaikannya dalam penyadaran, perilaku yang menyadari penderitaan lalu menciptakan kebahagiaan. Memberinya harapan dan mendudukkan sebuah tujuan luhur yang tak dikalahkan ruang, waktu, dan peristiwa. Bukan penghakiman-penghakiman yang sewenang-wenang.


Tembokrejo, 2019


  • Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi ‖Suluk Rindu‖ (YMAB, 2003), ‖Muncar Senjakala‖ (PSBB, 2009), kumpulan cerita ‖Kisah-kisah dari Timur‖ (PSBB, 2010), ‖Catatan‖ (PSBB, 2013), ‖Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti‖ (PSBB, 2014), ‖Dan Badut Pun Pasti Berlalu‖ (PSBB, 2017), ‖Serat Kiai Sutara‖ (PSBB, 2018). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi

Related Posts